BACAMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) menggelar Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan (ORDIK) bagi mahasiswa baru Pascasarjana Tahun Akademik 2026/2027, Sabtu (22/8/2026). Kegiatan yang berlangsung selama dua hsri di Gedung Samantha Krida UB tersebut menjadi bagian dari proses pengenalan kehidupan akademik dan kemahasiswaan bagi mahasiswa baru program pascasarjana.
ORDIK Pascasarjana UB tahun ini mengusung tema “Pascasarjana Unggul dan Berintegritas menuju Indonesia Berdaya Saing Global”. Melalui tema tersebut, mahasiswa baru diarahkan untuk tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga menjunjung tinggi integritas serta memiliki kesiapan menghadapi tantangan di tingkat nasional maupun global.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan penerimaan tamu undangan. Prosesi pembukaan kemudian diisi dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne Brawijaya, laporan panitia oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UB Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., serta sambutan Rektor UB
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. memperkenalkan jajaran pimpinan universitas, fakultas, dan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (SPUB). Prosesi pembukaan dilanjutkan dengan pemukulan gong sebagai tanda resmi dimulainya kegiatan ORDIK Pascasarjana UB 2026.
Sebagai bagian dari rangkaian penyambutan mahasiswa baru, dilakukan pula pemakaian jas almamater sebagai tanda diterimanya mahasiswa sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Brawijaya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan Tari Tradisional oleh UKM Unitri UB.
Materi utama pembukaan disampaikan Pungkas Bahjuri Ali, STP., MS., Ph.D., Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas. Materi tersebut menjadi bagian dari pembekalan mahasiswa pascasarjana dalam memahami tantangan pembangunan manusia dan kebudayaan serta kontribusi pendidikan tinggi terhadap peningkatan daya saing Indonesia.
Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., mengatakan mahasiswa yang menempuh pendidikan pascasarjana merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang relatif kecil.
Menurutnya, proporsi masyarakat Indonesia yang memiliki kesempatan menempuh pendidikan hingga jenjang magister (S2) dan doktor (S3) masih berada di bawah 0,5 persen. Kondisi tersebut membuat status sebagai bagian dari kelompok terdidik tidak hanya menjadi kebanggaan akademik, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar.

Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., didmapingi Direktur SPUB, Prof. Dr. Moh. Khusaini, S.E., M.Si., M.A. di sela Orientasi Pendidikan dan Kemahasiswaan (ORDIK) mahasiswa baru Pascasarjana Tahun Akademik 2026/2027 di Gedung Samantha Krida UB, Sabtu (22/8/2026). (Nedi Putra AW)
“Mahasiswa Pascasarjana tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan studi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menghasilkan gagasan substantif, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Prof. Widodo.
Ia menekankan, pendidikan pascasarjana harus mampu melahirkan insan akademik yang tidak berhenti pada penguasaan teori. Proses pendidikan dan penelitian harus diarahkan untuk menghasilkan gagasan serta solusi yang dapat menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, penelitian dan pengembangan ilmu selama mahasiswa menempuh studi diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap berbagai persoalan, mulai dari bidang sosial dan ekonomi hingga perkembangan teknologi.
“Pendidikan pascasarjana harus menghasilkan sesuatu yang substantif. Artinya, ilmu yang dikembangkan tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga dapat memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Prof. Widodo juga melihat keberagaman latar belakang mahasiswa pascasarjana sebagai kekuatan tersendiri dalam membangun ekosistem akademik di UB.
Mahasiswa tidak hanya berasal dari kalangan akademisi, tetapi juga dari berbagai latar belakang profesi, termasuk profesional, birokrat, maupun unsur TNI dan Polri. Perbedaan pengalaman tersebut dinilai dapat memperkaya perspektif dalam proses pembelajaran dan penelitian.
Menurutnya, interaksi lintas latar belakang tersebut membuka ruang kolaborasi lintas disiplin yang lebih luas. Pengalaman profesional yang dibawa mahasiswa dapat menjadi bahan untuk mengembangkan gagasan penelitian yang lebih kontekstual.
“Keberagaman ini menjadi modal untuk membangun kolaborasi. Pengalaman yang dibawa masing-masing mahasiswa dapat memperkaya proses akademik dan melahirkan penelitian yang memiliki dampak lebih luas,” katanya.
Karena itu, mahasiswa pascasarjana UB didorong tidak hanya mengejar penyelesaian studi, tetapi juga membangun jejaring, berkolaborasi lintas bidang, serta menghasilkan karya akademik yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan pascasarjana UB agar lulusan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.
Sementa itu, Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya (SPUB) juga terus berkomitmen dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia. Sebagai informasi, pada tahun akademik ini, SPUB menerima 2.195 mahasiswa baru yang tersebar di berbagai program studi magister (S2) dan doktor (S3), baik di tingkat fakultas maupun di lingkup Sekolah Pascasarjana.
Hal ini disampaikan Direktur SPUB, Prof. Dr. Moh. Khusaini, S.E., M.Si., M.A., bahwa sebagai lembaga pendidikan tinggi, sudah menjadi komitmen SPUB untuk berkontribusi meningkatkan kualitas SDM.
“Setiap tahun kita berkontribusi ikut mencerdaskan kehidupan bangsa menuju SDM yang unggul dan memiliki daya saing global,” tegasnya.
Senada dengan Rektor, Prof. Khusaini juga menyinggung kecilnya persentase penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi S2 dan S3, yang kini tecatat masih di bawah satu persen, Menurutnya, kehadiran para mahasiswa pascasarjana ini diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam riset, inovasi, dan pemecahan masalah besar di masyarakat.
Sebagai upaya meraih akses pendidikan yang lebih luas, sebagian besar mahasiswa baru pascasarjana UB tahun ini didukung oleh berbagai skema beasiswa, baik dari pemerintah melalui LPDP, instansi tempat bekerja, Bappenas, Pemerintah Daerah, BRIN, hingga lembaga mitra lainnya.
“Kami juga menyediakan berbagai jalur percepatan studi atau fast track yang fleksibel bagi mahasiswa, mulai dari jalur S1 ke S2, S2 ke S3, S1 ke S3, hingga skema lanjutan lainnya guna mengoptimalkan masa studi dan kegiatan riset mendalam,” tandasnya.
Dalam ORDIK ini, peserta juga mendapatkan sejumlah materi yang berkaitan langsung dengan kehidupan akademik di lingkungan Universitas Brawijaya.
Pada sesi pertama, pembahasan mencakup Peraturan Akademik UB dan penjelasan KKNI Standar 8 dan 9, yang disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP. Materi tersebut memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai ketentuan akademik yang harus dipenuhi selama menempuh pendidikan pascasarjana.
Materi berikutnya membahas ketahanan dan publikasi jurnal ilmiah, yang disampaikan Ketua Pusat Publikasi Ilmiah dan Ketahanan Jurnal UB Prof. Dhiana Puspitawati, SH., LLM., Ph.D. Peserta juga mendapatkan informasi mengenai layanan perpustakaan dan akses untuk menunjang penulisan karya tulis ilmiah yang disampaikan Kepala UPT Perpustakaan Prof. Dr. Iwan Permadi, SH., M.Hum.
Sedangkan esi selanjutnya menghadirkan materi mengenai layanan sistem teknologi dan informasi menuju transformasi digital yang disampaikan Direktur Direktorat Teknologi Informasi UB Dr. Ir. Raden Arief Setyawan, ST., M.T.
Mahasiswa baru juga diperkenalkan dengan berbagai layanan pendukung di lingkungan UB, termasuk layanan di Klinik Universitas Brawijaya serta layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas dan pendidikan inklusi.
Direktur Klinik UB drg. Miftakhul Cahyati, Sp.PM., memberikan pemaparan mengenai layanan kesehatan bagi mahasiswa. Sedangkan Kepala Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi UB, Zubaidah Ningsih AS., S.Si., M.Phil., Ph.D., menjelaskan dukungan layanan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.
Selain pembekalan akademik dan layanan kemahasiswaan, rangkaian ORDIK juga diisi dengan pemaparan dari Himpunan Mahasiswa Pascasarjana. Kegiatan ORDIK Pascasarjana UB 2026 diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk membangun jejaring, mengenal lingkungan akademik, sekaligus memahami berbagai fasilitas dan layanan yang tersedia selama menjalani pendidikan.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Brawijaya menegaskan pentingnya membangun mahasiswa pascasarjana yang memiliki keunggulan akademik, integritas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan dunia global, serta menggali lebih jauh arah pendidikan pascasarjana UB serta strategi universitas dalam menyiapkan lulusan yang berdaya saing global.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW



















































