MALANGAN, Jejak 12 Komunitas Wayang Topeng Malang dalam Dokumentasi Diego Zapatero - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 23 Agu 2026 19:37 WIB ·

MALANGAN, Jejak 12 Komunitas Wayang Topeng Malang dalam Dokumentasi Diego Zapatero


 Diego Zapatero, fotografer sekaligus antropolog visual asal Zaragoza, Spanyol, mendampingi pengasuh Padepokan Asmorobangun, Tri Handoyo meninjau pameran foto di Sanggar Asmorobangun, Pakisaji, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026). (Nedi Putra AW) Perbesar

Diego Zapatero, fotografer sekaligus antropolog visual asal Zaragoza, Spanyol, mendampingi pengasuh Padepokan Asmorobangun, Tri Handoyo meninjau pameran foto di Sanggar Asmorobangun, Pakisaji, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Kekayaan tradisi Wayang Topeng Malang kembali mendapat perhatian melalui proyek fotografi dan antropologi visual bertajuk MALANGAN. Proyek yang dirangkum dalam sebuah buku karya Diego Zapatero, fotografer sekaligus antropolog visual asal Zaragoza, Spanyol, tersebut mendokumentasikan perjalanan komunitas-komunitas yang hingga kini masih menjaga keberlangsungan tradisi Wayang Topeng dan Cerita Panji.

Selama tiga tahun, Diego melakukan penelitian lapangan dengan menempuh perjalanan lebih dari 2.000 kilometer. Dari proses tersebut, ia mengidentifikasi sekaligus mendokumentasikan 12 komunitas aktif di wilayah Malang yang masih mempertahankan tradisi pertunjukan Wayang Topeng.

Dokumentasi tersebut tidak hanya merekam pertunjukan, tetapi juga berbagai aspek kehidupan budaya yang menyertainya. Ritual, tata busana, seni kriya pembuatan topeng, hingga nilai-nilai mistisme yang melekat dalam pertunjukan Cerita Panji menjadi bagian dari penelitian visual yang dilakukan Diego.

Diego mengaku memiliki ketertarikan khusus terhadap topeng dan berupaya mendokumentasikan kesenian tersebut karena melihat tradisi topeng sebagai warisan budaya yang menghadapi ancaman kepunahan.

“Saya punya project pentalogi tentang topeng. Satu buku pertama tentang Wayang Topeng Jogja, sementara di Malang ini adalah buku nomor dua tentang topeng,” ungkapnya di sela pameran foto dan penyerahan resmi buku foto di Sanggar Asmorobangun, Pakisaji, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026).

Diego Zapatero dan buku MALANGAN yang diserahkan kepada komunitas Wayang Topemng Malangan yang menjadi bagian penting dari proses kerja fotografi dan penelitian yang dilakukannya. (Nedi Putra AW)

Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara maestro, penari, seniman lokal, serta berbagai komunitas pelestari Wayang Topeng. Pengunjung juga dapat melihat pameran fotografi yang menampilkan karya-karya pilihan dari hasil penelitian Diego selama mendokumentasikan komunitas Topeng Malang.

Fotografer yang telah menetap di Asia Tenggara selama lebih dari tujuh tahun tersebut mengaku bahwa ketertarikannya terhadap topeng berawal dari sang ayah yang kerap membawa topeng setelah melakukan perjalanan ke kawasan Amazon. Sedangkan buku MALANGAN yang diterbitkan pada Desember 2025 tersebut dibuat dalam edisi berbahasa Indonesia dan secara khusus diserahkan kembali kepada komunitas-komunitas Topeng yang menjadi bagian dari proyek dokumentasinya.

“Saat memotret, secara fotografis kita sudah mengambil sesuatu dari orang itu. Maka jangan sampai kita closing the circle, jadi harus kita kembalikan lagi, salah satunya dengan dokumentasi yang ada di buku saya ini,” jelas pria yang menjadikan Klana sebagai salah satu karakter topeng favoritnya

Bagi Diego, pengembalian dokumentasi kepada komunitas menjadi bagian penting dari proses kerja fotografi dan penelitian yang dilakukannya. Buku tersebut tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi kepada masyarakat yang telah membuka ruang bagi dirinya untuk mengenal kehidupan dan tradisi Wayang Topeng secara lebih dekat.

Pameran 12 foto yang dikemas sederhana tersebut juga menjadi pengalaman unik sekaligus emosional bagi Diego. Pasalnya, untuk pertama kalinya pameran hasil karyanya digelar di sebuah kampung, bukan di galeri maupun ruang pamer di kawasan perkotaan.

Berbekal kamera DSLR Nikon D800 dan lensa 50mm, foto-foto tersebut dibuat di lokasi para maestro topeng masing-masing dengan memanfaatkan available light. Pendekatan tersebut menghasilkan visual yang natural sekaligus menonjolkan karakter para pelaku dan detail lingkungan tempat tradisi topeng tumbuh.

“Saya abadikan dengan gaya timeless, agar tetap dapat dinikmati hingga tahun-tahun ke depan, dan khusus untuk pameran sengaja tanpa caption, karena saya dapat jelaskan satu persatu tentang foto-foto tersebut kepada para pengunjung, ” tukasnya.

Diego Zapatero, dan pengasuh Padepokan Asmorobangun, Tri Handoyo dengan foto pameran yang diabadikan di Sanggar Asmorobangun, Pakisaji, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026). (Nedi Putra AW)

Diego juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh komunitas yang terlibat dalam proyek MALANGAN. Ia mengaku merasa dihargai dan diterima dengan tangan terbuka selama melakukan penelitian.

“Dari awal mereka mengerti tujuan saya, baik visi dan misi dalam 12 hari eksplorasi. Jadinya indah sekali saya bisa masuk ke sini lagi untuk mengembalikan apa yang sudah saya ambil,” tegas fotografer yang karya-karyanya juga telah dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Frankfurt Book Fair, serta sejumlah galeri di Eropa dan Asia tersebut.

Menurut Diego, keberadaan banyak komunitas yang masih aktif menjadi salah satu hal yang membuatnya tertarik terhadap Topeng Malang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi Wayang Topeng masih memiliki ruang untuk terus berkembang dan diwariskan.

“Next project saya adalah tentang Topeng Cirebon, Madura dan Bali,” tandasnya.

Proyek MALANGAN ini mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta sebagai bagian dari upaya mendukung pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat pertukaran kebudayaan antara Spanyol dan Indonesia.

Proyek tersebut juga mendapat dukungan dari komite penasihat internasional, di antaranya sejarawan seni dan pakar era Majapahit Dr. Lydia Kieven, kurator asal New York Rosa J.H. Berland, antropolog Patrick Vanhoebrouck, serta jurnalis dan peraih Penghargaan Nasional Jurnalisme Kebudayaan Spanyol, Antón Castro, yang turut memberikan kata pengantar untuk buku foto tersebut.

Sementara itu, pengasuh Padepokan Asmorobangun, Tri Handoyo, menyambut baik pameran dan penerbitan buku MALANGAN sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian seni Topeng Malangan dan Cerita Panji.

Cucu almarhum maestro Topeng Malang, Mbah Karimun, tersebut menilai kehadiran buku dan dokumentasi fotografi dapat memperluas pengenalan Topeng Malangan kepada masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga ke tingkat internasional.

“Terus terang literasi terkait Topeng Malangan sendiri sangat kurang. Menulis atau meneliti Topeng Malang juga harus bisa menyelaraskan, misalnya antara topeng Malang Selatan dengan Malang Timur agar tidak terjadi kontra dalam penulisannya,” tegas generasi kelima seniman tari Topeng Malangan tersebut.

Pengunjung pameran foto karya Diego Zapatero di Sanggar Asmorobangun, Pakisaji, Kabupaten Malang, Minggu (23/8/2026). (ist)

Menurut Handoyo, dokumentasi melalui buku seperti MALANGAN dapat menjadi pemantik bagi pegiat lokal untuk ikut mendokumentasikan kekayaan Topeng Malangan melalui berbagai media.

Ia berharap ke depan semakin banyak penelitian dan tulisan yang mengangkat keberagaman cerita Topeng Malangan dari berbagai wilayah.

“Kami ingin nanti ada bahasan cerita topeng yang berbeda dari daerah-daerah yang lain untuk diangkat dan dikenalkan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Posko Peduli Gempa NTT di Malang Bergerak, Bantu Mahasiswa Flores yang Terhimpit Dampak Bencana

23 Agustus 2026 - 13:14 WIB

Perkuat Scientific Crime Investigation, Satreskrim Polres Malang Gelar Coaching Clinic Bareng Bidlabfor Polda Jatim

23 Agustus 2026 - 08:58 WIB

Polisi Tangkap Maling Motor di Bululawang, Terbantu Rekaman CCTV

22 Agustus 2026 - 20:07 WIB

BPBD Kabupaten Malang Tinjau Kekeringan di Desa Karangkates Sumberpucung, Kondisi Belum Kritis

22 Agustus 2026 - 18:22 WIB

Dua Kali Mangkir Pemeriksaan, Kuasa Hukum Pelapor Dorong Gunadi Yuwono Ditahan

22 Agustus 2026 - 14:58 WIB

ORDIK Pascasarjana UB 2026 Dorong Mahasiswa Unggul dan Berintegritas Menuju Indonesia Berdaya Saing Global

22 Agustus 2026 - 13:07 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !