Waspada Asap Karhutla, Pakar UMM Ungkap Ancaman Serius bagi Paru-Paru - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 2 Sep 2026 09:22 WIB ·

Waspada Asap Karhutla, Pakar UMM Ungkap Ancaman Serius bagi Paru-Paru


 Asap meluas akibat kebakaran hutan dan berpotensi membahayakan kesehatan, terutama sistem pernapasan. (ist) Perbesar

Asap meluas akibat kebakaran hutan dan berpotensi membahayakan kesehatan, terutama sistem pernapasan. (ist)

BACAMALANG.COM – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu jarak pandang dan membuat udara terasa pengap. Kandungan partikel dan gas di dalamnya dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian terdalam paru-paru.

Risiko tersebut perlu mendapat perhatian, terutama ketika paparan terjadi berulang dan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Zata Dini, Sp.P, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan asap karhutla serta memahami langkah-langkah untuk mengurangi risikonya.

Ia menjelaskan, asap karhutla merupakan campuran berbagai partikel dan gas yang terbentuk dari material yang terbakar. Salah satu komponen yang paling berbahaya bagi sistem pernapasan adalah particulate matter (PM) 2.5, yakni partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai alveolus atau bagian paru-paru tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

“Asap karhutla bukan hanya debu biasa. Di dalamnya terdapat partikel dan gas yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu peradangan, serta mengganggu fungsi paru,” jelas dr. Zata, Selasa (1/9/2026).

Dokter yang juga bertugas di Rumah Sakit Umum UMM tersebut menambahkan, karbon monoksida juga perlu diwaspadai karena dapat mengurangi kemampuan darah dalam membawa oksigen. Sementara nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan ozon dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk penyempitan bronkus.

Ketika terhirup, berbagai zat tersebut dapat memicu sejumlah keluhan, mulai dari batuk, peningkatan produksi lendir, suara serak, mengi hingga sesak napas.

Keluhan juga dapat muncul dalam waktu relatif singkat setelah seseorang terpapar asap. Gejala lainnya antara lain mata perih, hidung tersumbat, tenggorokan kering, sakit kepala, pusing, mual, hingga dada terasa berat.

Bagi penderita asma maupun penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), paparan asap karhutla dapat memicu kekambuhan atau memperburuk kondisi yang sebelumnya terkontrol.

Paparan Berulang Tak Boleh Disepelekan

Menurut dr. Zata, paparan asap yang berlangsung selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu juga perlu diwaspadai. Peradangan saluran pernapasan yang terjadi berulang dapat meningkatkan sensitivitas saluran napas dan berpengaruh terhadap fungsi paru.

Kelompok yang dinilai lebih rentan antara lain anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita penyakit kronis, serta pekerja yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan. “Orang yang sebelumnya sehat bukan berarti sepenuhnya kebal terhadap polusi udara. Risiko tetap ada, terutama ketika konsentrasi polutan tinggi dan paparan berlangsung berulang,” terangnya.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara memburuk. Aktivitas olahraga berat di luar ruangan juga sebaiknya ditunda karena dapat meningkatkan frekuensi dan volume pernapasan sehingga jumlah udara yang terhirup menjadi lebih banyak.

Di dalam rumah, pintu dan jendela sebaiknya ditutup ketika asap mulai masuk. Penggunaan air purifier dengan filter HEPA juga dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel halus di dalam ruangan.

Sementara bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker seperti N95, KN95, atau KF94 yang terpasang rapat dapat memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel asap.

Meski demikian, masker tersebut tidak dapat menyaring karbon monoksida dan seluruh jenis gas beracun. Karena itu, menurut dr. Zata, mengurangi atau menghindari paparan asap tetap menjadi langkah perlindungan yang paling utama.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami gejala serius. “Jika muncul sesak napas berat, nyeri atau tekanan di dada, kebingungan, penurunan kesadaran, bibir kebiruan, atau keluhan yang semakin memburuk, jangan menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan medis,” pungkasnya.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

1 September Diperingati Hari Polwan, Praktisi Hukum: Perlu Kesetaraan dan Perlindungan Internal yang Kuat

1 September 2026 - 16:00 WIB

KKN UMM 2026 Berakhir, 190 Inovasi Mahasiswa Disiapkan untuk Menjawab Persoalan Desa

31 Agustus 2026 - 19:43 WIB

Peduli Gempa NTT, UIBU Galang Donasi dan Siapkan Bantuan bagi Mahasiswa Terdampak

28 Agustus 2026 - 20:35 WIB

Kavacha Attorneys at Law Jembatani Kampus dan Dunia Praktik Hukum di Brawijaya Jurist Career Expo 2026

28 Agustus 2026 - 14:19 WIB

Membuka Tabir Pasar Karangploso: Rekaman Curhat Mantan Kepala Pasar Ungkap Perspektif Baru

28 Agustus 2026 - 12:56 WIB

Menko Muhaimin Resmikan Perintis Berdaya Connect di Kota Batu, 7.500 UMKM Disiapkan Naik Kelas

26 Agustus 2026 - 21:31 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !