BACAMALANG.COM — Karya akademik dosen Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Malang (UWG), M. Ramadhana Alfaris, S.S., M.Si., M.H., resmi mendapatkan pencatatan hak cipta dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Karya berupa buku berjudul “Pancasila Dalam Dinamika Kebangsaan” tersebut tercatat melalui Surat Pencatatan Ciptaan dengan nomor permohonan EC002026166803 tertanggal 7 September 2026. Sementara nomor pencatatannya adalah 001471152.
Buku tersebut pertama kali diumumkan pada 4 September 2026 di Kota Malang. Dalam dokumen pencatatan, Universitas Widya Gama Malang tercatat sebagai pemegang hak cipta.
Pencatatan tersebut menjadi pengakuan administratif atas karya yang disusun M. Ramadhana Alfaris, sekaligus menambah karya akademik yang mengangkat Pancasila dari perspektif kekinian.
M. Ramadhana Alfaris yang akrab disapa Rama mengatakan, buku tersebut tidak hanya membahas sejarah dan konsep dasar Pancasila. Ia berupaya menghadirkan pembahasan yang mengaitkan Pancasila dengan dinamika kehidupan bangsa saat ini hingga tantangan masa depan.
“Bukan bicara soal sejarah saja, tapi dikaitkan di era sekarang. Futuristik sifatnya. Pertama di Indonesia,” ujar Rama.
Menurutnya, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru bagi kehidupan kebangsaan. Globalisasi, disinformasi, polarisasi digital, intoleransi, individualisme, ketimpangan sosial hingga perkembangan artificial intelligence (AI) membutuhkan respons yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga nilai.
Karena itu, Pancasila menurut Rama harus ditempatkan sebagai sistem nilai yang terus hidup dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan sebagai lima sila, disebut dalam upacara, atau dipasang sebagai simbol kenegaraan. Pancasila harus dipahami sebagai sistem nilai yang bekerja dalam kehidupan nyata,” tegasnya.
Ia mencontohkan, nilai Ketuhanan harus mampu melahirkan moralitas dan tanggung jawab publik. Nilai Kemanusiaan diwujudkan melalui penghormatan terhadap martabat manusia, sedangkan Persatuan menjadi fondasi dalam menjaga keberagaman.
Sementara nilai Kerakyatan harus mampu memperkuat demokrasi yang beradab dan mengedepankan musyawarah. Adapun Keadilan Sosial perlu diterjemahkan dalam kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Pembahasan tersebut kemudian dikembangkan ke dalam konteks perkembangan teknologi, termasuk AI. Ketika algoritma semakin memengaruhi informasi yang diterima masyarakat dan teknologi mulai masuk ke berbagai bidang kehidupan, diperlukan landasan etis yang mampu menjadi pedoman.
“Pancasila diposisikan bukan sebagai nilai yang membeku di masa lalu, melainkan sebagai sistem nilai yang terus diaktualisasikan untuk menghadapi perubahan zaman,” pungkas Rama.
Dengan pendekatan populer-akademik dan perspektif historis, filosofis, yuridis, etis serta sosiologis, “Pancasila Dalam Dinamika Kebangsaan” diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa, dosen, pendidik, aparatur negara maupun masyarakat umum.
Bagi UWG, pencatatan hak cipta oleh Kementerian Hukum tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan pengakuan resmi terhadap karya intelektual sivitas akademika.
Sementara bagi penulis, pencatatan itu bukan sekadar legalitas karya. Lebih dari itu, buku tersebut diharapkan ikut mendorong pembacaan Pancasila yang lebih kontekstual agar tetap relevan menghadapi dinamika kebangsaan dan perubahan teknologi di masa depan.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































