Pergulatan Tiga Pelukis Perempuan: Dari Alam, Luka Batin, hingga Pencarian Diri - BACAMALANG.COM

Menu ✖

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EVENT & ACARA · 25 Okt 2026 07:54 WIB ·

Pergulatan Tiga Pelukis Perempuan: Dari Alam, Luka Batin, hingga Pencarian Diri


 Gabriel Eva saat paparan dalam program Wicara Seniman bertajuk Seni Lukis Saya: Apa dan Bagaimana? di ARTSUBS 2026, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (24/10/2026). (ist) Perbesar

Gabriel Eva saat paparan dalam program Wicara Seniman bertajuk Seni Lukis Saya: Apa dan Bagaimana? di ARTSUBS 2026, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (24/10/2026). (ist)

BACAMALANG.COM – Jika alam menjadi pintu masuk bagi Gabriel Eva, pencarian jati diri menjadi inti perjalanan Nana Yap, sedangkan bagi Zeta Ranniry Abidin, penguasaan teknik merupakan pijakan untuk mengembangkan bahasa artistik dan menyampaikan gagasan. Ketiganya menempuh jalan berbeda, tetapi menemukan kesamaan dalam proses melukis: bukan sekadar menghasilkan gambar, melainkan memahami diri dan pengalaman hidup.

Pengalaman mereka tersaji dalam program Wicara Seniman bertajuk Seni Lukis Saya: Apa dan Bagaimana? di ARTSUBS 2026, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (24/10/2026). Dipandu Nirwan Dewanto, perbincangan tersebut mengungkap proses kreatif, pergulatan pribadi, dan tantangan untuk bertahan hidup sebagai seniman.

Pengalaman Gabriel Eva, Nana Yap, dan Zeta Ranniry memperlihatkan bahwa perjalanan artistik tidak selalu berlangsung lurus. Persimpangan hidup justru dapat menjadi jalan untuk menemukan bahasa visual yang paling dekat dengan diri sendiri.

Sementara ada banyak jalan untuk menjadi pelukis. Ada yang berangkat dari pendidikan seni rupa, ada yang datang dari disiplin lain, dan ada pula yang menemukan dunia seni setelah menjalani profesi berbeda.

Gabriel Eva tidak sejak awal membayangkan dirinya menjadi seniman. Ia menempuh pendidikan desain fesyen di Arva School of Fashion dan lulus pada 2010. Kariernya di dunia fesyen mengasah kepekaan terhadap warna, tekstur, komposisi, dan bentuk. Ia pernah memenangkan kompetisi desain, merancang kostum untuk Agnes Monica, serta mendirikan lini pakaian anak Bonne Chance.

Eva baru mulai menekuni seni lukis secara otodidak pada 2020. Bahkan, ketika pertama kali melukis, ia mengaku belum memahami cara memegang kuas. Ia belajar secara mandiri, antara lain melalui Pinterest, dengan mengandalkan kepekaan visual yang telah terbentuk selama bekerja di dunia fesyen.

“Alam menjadi sumber inspirasi Utama saya. Berawal dari kegemaran mendaki gunung yang mempertemukan saya dengan vegetasi, bunga, lanskap hutan, dan detail-detail kecil yang kerap luput dari perhatian,” ungkapnya.

Pengalaman itu diterjemahkan ke dalam lukisan melalui warna, ingatan visual, foto, dan imajinasi.

Bagi Eva, melukis bukan sekadar memindahkan pemandangan ke atas kanvas. Keindahan alam menjadi ruang refleksi untuk mengenali diri dan memahami pertumbuhan pribadinya. Tema self-growth antara lain tampak dalam karya Self Reflection yang ditampilkan pada ARTSUBS 2025.

Keputusan untuk serius menekuni seni juga berkaitan dengan pengalaman praktis. Ketika lukisannya terjual dan hasilnya membantu menutup kekurangan dalam bisnis fesyen, ia mulai melihat kemungkinan lain dalam hidupnya. Setelah menutup bisnis tersebut pada Februari 2024, Eva semakin memusatkan perhatian pada seni lukis.

Eva menghadirkan empat karya yang berkelindan dengan dunia imajinatif Alice in Wonderland, yaitu A Garden Alice Forgot, I Found the Pond, Where Alice Once Dreamed, dan Do I Belong Here. Karya-karya tersebut memperlihatkan bagaimana alam dan imajinasi menjadi pintu masuk menuju ruang refleksi personal yang terbuka bagi penafsiran penonton.

Jika Eva menemukan kedekatan dengan dirinya melalui alam, Nana Yap menempuh perjalanan yang lebih berliku. Baginya, melukis berkaitan dengan pergulatan batin, pengalaman keluarga, pencarian identitas, dan pertanyaan tentang arti pulang.
Nana mengawali perjalanan seninya dengan menggambar bunga.

“Pilihan itu sederhana: bunga terasa aman karena tidak banyak mengundang kritik,” tegasnya.

Ia kemudian menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Namun, ketika kuliah, ia sempat jenuh menggambar dan atas saran orang tuanya melanjutkan pendidikan manajemen di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Menariknya, ketika menjauh dari kegiatan menggambar, Nana justru kembali menemukan ketertarikannya pada seni melalui kebiasaan mengunjungi galeri. Melukis menjadi sarana untuk menghadapi pengalaman masa lalu dan menyusun kembali pengertian tentang dirinya sendiri.

Nana menyebut dirinya sebagai “manusia galau”. Kegelisahan itu bukan sekadar suasana hati, melainkan bagian dari proses kreatifnya. Ia membawa pengalaman sebagai perempuan keturunan Tionghoa-Indonesia, tekanan keluarga, latar belakang spiritual, dan pencarian makna tanah air ke dalam karya-karyanya.

Melalui pendekatan gestural painting, gerakan garis yang mengalir, bentuk-bentuk organik, dan warna ekspresif menjadi sarana untuk mengungkapkan pengalaman emosional tanpa harus menjelaskannya secara harfiah. Pengalaman spiritual dan meditasinya di Blitar turut memperdalam kesadaran tentang keberadaan dirinya sebagai perempuan dari kelompok minoritas sekaligus sebagai ciptaan Tuhan.

Pergulatan tersebut menemukan bentuk dalam karya “Mencari Jalan Pulang, Mencintai Tanah Air,” yang ditampilkan di ARTSUBS 2026 sebagai karya media campuran pada kanvas linen. Nana juga menghadirkan karya video berdurasi 90 detik dengan judul yang sama.

“Judul itu mengandung pertanyaan yang lebih luas daripada kerinduan terhadap tempat tinggal. Apa artinya pulang ketika seseorang masih berusaha mengenali dirinya sendiri? Bagaimana mencintai tanah air ketika hubungan dengan identitas dan pengalaman masa lalu tidak selalu sederhana?,” ujarnya.

Bagi Nana, pencarian tersebut tidak harus diselesaikan melalui penjelasan verbal. Material, gerak, dan warna menjadi bahasa untuk mengolah pengalaman personal menjadi karya yang dapat ditafsirkan orang lain. Pengalaman yang berangkat dari dirinya sendiri pun berpeluang menyentuh kegelisahan penonton tentang identitas, penerimaan, dan rasa memiliki.

Ketertarikannya pada seni juga meluas ke praktik art therapy. Nana pernah mendirikan Daun Art Studio di Surabaya dan mengajar di kelompok bermain selama dua tahun dengan pendekatan yang dipengaruhi terapi seni.

Namun, berkesenian tetap berhadapan dengan kenyataan ekonomi. Nana mengakui bahwa hidup dari seni di Surabaya masih sulit. Ia memilih tidak menjadikan tuntutan pasar sebagai penentu utama eksplorasi artistiknya karena khawatir membatasi gagasan dan ekspresi. Baginya, kebebasan berkarya perlu dijaga, meskipun keberlanjutan hidup seniman juga membutuhkan ekosistem pendukung yang memadai.

Nirwan Dewanto memandu perbincangan bersama Gabriel Eva, Nana Yap, dan Zeta Ranniry dalam program Wicara Seniman bertajuk Seni Lukis Saya: Apa dan Bagaimana? di ARTSUBS 2026, Balai Pemuda, Surabaya, Sabtu (24/10/2026). (ist)

Berbeda dengan Eva yang datang dari dunia fesyen dan Nana dari desain komunikasi visual, Zeta Ranniry Abidin tumbuh dalam lingkungan keluarga yang akrab dengan seni. Ia mulai menekuni lukisan sejak SMP dan menemukan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk menyalurkan diri karena ia termasuk pribadi yang pendiam di sekolah.

Pada tahap awal, perhatian Zeta tertuju pada penguasaan teknik menggambar. Ia menganggap proses belajar sama pentingnya dengan hasil akhir. Kemampuan teknis bukan tujuan yang berhenti pada kemahiran meniru objek, melainkan pijakan untuk mengembangkan bahasa artistik.

Zeta sempat menekuni fotorealisme, pendekatan yang mengutamakan ketepatan visual hingga gambar tampak menyerupai foto, namun ia kemudian bergerak melampaui persoalan kemiripan objek. Figur manusia, terutama dirinya sendiri, menjadi subjek untuk mengolah pengalaman sehari-hari dan ikon budaya populer yang akrab bagi generasinya.

Perkembangan itu terlihat dalam BORDERLESS: Keep the Light Alive, karya yang ditampilkan di ARTSUBS 2026. Terdiri atas lima panel berukuran masing-masing 200 x 125 sentimeter, karya berskala besar tersebut menunjukkan upayanya mengolah pengalaman dari dalam maupun luar dirinya menjadi gagasan artistik.

Perjalanan Zeta telah membawanya meraih Bronze Award dalam UOB Painting of the Year 2023 dan masuk nominasi Young Artist Award di ARTJOG 2023. Namun, pencapaian teknis dan penghargaan bukan satu-satunya ukuran perkembangan artistiknya. Yang penting adalah bagaimana keterampilan itu digunakan untuk menyampaikan sesuatu. Teknik menjadi bahasa, bukan tujuan akhir.

Dalam diskusi tersebut, Nirwan Dewanto mengajak peserta melihat seni lukis bukan semata-mata sebagai kegiatan mengolah cat pada bidang dua dimensi. Cara seniman memahami objek dan medium terus berubah seiring perkembangan sejarah seni. Objek yang sama pun dapat memperoleh makna berbeda bergantung pada pengalaman dan cara pandang penciptanya.

“Bunga, misalnya, tidak harus berhenti sebagai representasi tumbuhan yang indah. Ia dapat diterjemahkan menjadi bentuk lain, bahkan menyerupai monster,” ungkap Nirwan.

Menurtunya, hal ini mengadung pengertian, objek bukanlah makna itu sendiri, namun pengalaman, ingatan, dan perasaan ikut menentukan bagaimana sesuatu hadir di dalam karya.

Pengalaman Eva, Nana, dan Zeta menunjukkan bahwa menjadi seniman merupakan proses yang terus berlangsung. Alam, pergulatan batin, maupun penguasaan teknik dapat menjadi titik berangkat yang berbeda, tetapi semuanya memerlukan keberanian untuk terus belajar dan mengembangkan bahasa visual.

“Perbedaan pendekatan ketiganya memperlihatkan hal itu. Eva menemukan ruang refleksi melalui alam. Nana mengolah kegelisahan dan pencarian identitas. Zeta menggunakan penguasaan teknik sebagai pijakan untuk menyampaikan gagasan,” pungkas Nirwan.

Pada akhirnya, kanvas bukan hanya tempat menghadirkan gambar. Ia juga menjadi ruang untuk memahami pengalaman, mengolah kegelisahan, dan menyampaikan gagasan tentang diri serta dunia. Di balik perbedaan jalan ketiga pelukis tersebut, seni lukis memperlihatkan kemampuannya membuka kemungkinan bagi manusia untuk mengenali dirinya sendiri.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Pamerkan 150 Jenis Satwa, UB Hadirkan Kontes Bertaraf Nasional di Piala Rektor Prana Satwa Brawijaya 2026

24 Oktober 2026 - 16:39 WIB

Meriahkan Dies Natalis ke-64, Rektor UB Ajak Masyarakat Kenali Kekayaan Genetik Satwa Lewat Prana Satwa Brawijaya 2026

24 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Piala Rektor Prana Satwa Brawijaya 2026 Hadir di UB, Tampilkan Kontes Ayam Hias hingga Kucing

23 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Kolaborasi Sosial AZZAHRA dan Raja Bakar Seafood, Rawat Gerakan Berbagi di Kota Malang

21 Oktober 2026 - 14:06 WIB

Perayaan Golden Bloom Lima Tahun Grand Mercure Malang Mirama, Perkuat Pelayanan Premium Berbasis Kearifan Lokal

18 Oktober 2026 - 16:47 WIB

HARRIS Malang Tawarkan Venue Pernikahan Fleksibel, Hadirkan Benefit Khusus di Wedding Exhibition MOG

18 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Trending di EVENT & ACARA

©Hak Cipta Dilindungi !