BACAMALANG.COM — Prestasi membanggakan diraih akademisi Universitas Brawijaya (UB). Yusli Effendi bersama tim berhasil meraih penghargaan Presenter Terbaik atau Best Presenter dalam ajang Southeast Asia Futures Conference on Social Sciences 2026.
Konferensi internasional tersebut digelar secara hibrida pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di Universiti Putra Malaysia, Selangor, Malaysia.
Penghargaan diberikan setelah Yusli menyampaikan paparan dari makalah berjudul “Institutional Access, Uncertain Autonomy: NU, Muhammadiyah, and Indonesia’s P/CVE Governance”.
P/CVE Governance adalah tata kelola pencegahan dan penanggulangan ekstremisme kekerasan, di Indonesia yang kini diatur melalui RAN PE 2026-2029 dan dikoordinasikan BNPT dengan melibatkan masyarakat sipil seperti NU dan Muhammadiyah lewat pendekatan Whole-of-Society. Pendekatan ini melibatkan elemen masyarakat hingga ke level keluarga.
Makalah tersebut disusun oleh Yusli Effendi, Abdullah, M. Abdul Azis, dan Bintang C. Dipdha dari Departemen Politik, Pemerintahan, dan Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya.
Penelitian ini mengkaji pendekatan Whole-of-Society secara kritis dalam pencegahan dan penanggulangan ekstremisme kekerasan di Indonesia. Studi tersebut menyoroti bahwa akses kelembagaan tidak serta merta menjamin adanya otonomi yang dimiliki masyarakat sipil dalam pengambilan keputusan dalam pencegahan ekstremisme.
Fokus penelitian adalah studi kasus peran dua organisasi Islam besar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Dengan metode analisis dokumen longitudinal dan preliminary process tracing, tim peneliti menganalisis regulasi rencana aksi nasional Indonesia serta laporan keterlibatan dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dari periode pertama 2021-2025 yang berlanjut pada RAN PE kedua di masa Prabowo tahun 2026 hingga 2029.
Aspek otonomi yang dinilai meliputi pilihan mitra, penetapan agenda, pendelegasian, sumber daya, pelaporan, hingga perbedaan pendapat terhadap perjanjian tahun 2021.
Yusli mengaku bersyukur atas capaian tersebut dan berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi tata kelola P/CVE di Indonesia.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan kajian tentang peran masyarakat sipil dalam isu P/CVE yang lebih inklusif dan berkeadilan,” ujar Yusli, Senin (2/11/2026).
Penghargaan diberikan oleh Ketua Panitia dari Universiti Putra Malaysia (UPM) Dr. Mohamad Noor Salehuddin.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































