BACAMALANG.COM – Menjelang pelantikan kepengurusan periode 2026–2031 pada 10 Januari 2027, Paguyuban Kerukunan Keluarga Besar Malang Samarinda atau Arema Samarinda mengagendakan silaturahmi ke Malang Raya. Kunjungan ini menjadi momentum mempererat hubungan dengan para tokoh dan sesepuh di tanah kelahiran sekaligus memperkenalkan perkembangan paguyuban di tanah perantauan.
Rombongan pengurus yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur, tersebut merencanakan kunjungan kepada sejumlah kepala daerah di Malang Raya serta bersilaturahmi ke markas komunitas d’Kross. Salah satu tokoh yang menjadi tujuan kunjungan adalah Sam Ade, atau d’Kross Hermawanto, yang juga merupakan pembina Arema Samarinda.
Sam Ade menyambut positif rencana pelantikan kepengurusan baru tersebut. Ia diketahui telah menjadi pembina Arema Borneo sejak 2008.
“Saya menyambut baik pelantikan pengurus baru di Arema Samarinda ini,” ujar Sam Ade, Kamis (5/11/2026).
Arema Samarinda berkedudukan di Jalan Padat Karya, Gang Karya Bersama, Blok H, RT 35 Nomor 23, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda. Paguyuban ini telah memiliki legalitas melalui Kementerian Hukum dan HAM serta Kesbangpol Kota Samarinda.
Kekuatan organisasi tersebut tercermin dari jumlah anggotanya. Sekitar 2.000 warga tercatat memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA), menjadi modal penting bagi paguyuban dalam menjaga solidaritas warga Malang di perantauan.
Wapres, Rumah Bersama Arema Samarinda Hasil Swadaya Anggota
Salah satu pencapaian penting Arema Samarinda adalah memiliki markas sendiri yang diberi nama Wapres, singkatan dari Wadah Apresiasi Arema Samarinda.
Penamaan tersebut meneruskan gagasan serupa yang sebelumnya diinisiasi Sam Anto Baret di Bulungan, Jakarta. Bagi warga Arema Samarinda, Wapres bukan sekadar bangunan, melainkan ruang bersama untuk menjaga persaudaraan dan memperkuat ikatan dengan kampung halaman.
Ketua Arema Samarinda, Sam Hadi Winarno, yang telah menetap di Samarinda selama sekitar 23 tahun, mengungkapkan bahwa markas berukuran 20 x 15 meter itu merupakan hasil perjuangan kolektif anggota.
Bangunan tersebut dibeli melalui iuran dan gotong royong warga selama tujuh tahun. Dengan demikian, paguyuban kini memiliki tempat berkumpul sendiri tanpa harus menyewa bangunan.
“Rumah itu dibeli dari hasil patungan atau urunan warga Arema Samarinda selama tujuh tahun. Fungsi utamanya adalah sebagai wadah komunikasi, silaturahmi, dan kerukunan sesama Arema,” jelas Sam Hadi.
Lebih dari sekadar markas organisasi, Wapres juga dipersiapkan sebagai rumah singgah bagi warga asal Malang yang baru datang ke Samarinda dan belum memiliki tempat tinggal.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi wujud kepedulian warga perantauan terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan tempat bernaung saat memulai kehidupan di kota tujuan.
Sam Hadi menegaskan, kepulangan para pengurus ke Malang bukan sekadar kunjungan biasa. Ada kerinduan dan harapan agar para tokoh serta sesepuh di kampung halaman dapat menyaksikan secara langsung perkembangan warga Malang yang merantau ke Kalimantan Timur.
“Melalui silaturahmi ini, kami para pengurus dan warga di perantauan sangat berharap ebes-ebes di Malang bisa melihat langsung perkembangan anak-anaknya yang sedang berjuang di tanah rantau,” tuturnya.
Dari Kegiatan Keagamaan hingga Aksi Sosial Lintas Agama
Selain menjaga ikatan kedaerahan, Arema Samarinda juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan. Paguyuban ini berupaya menjadikan persaudaraan sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di Samarinda.
Dalam bidang keagamaan, Arema Samarinda membentuk Arema Majelis sebagai wadah silaturahmi rutin setiap Minggu Wage. Kegiatan tersebut diasuh Gus Syamsil Arifin dari Pondok Pesantren Langit Langit Samarinda, yang merupakan alumni Pondok Pesantren An Nur Bululawang, Kabupaten Malang.
Aktivitas sosial mereka juga diwujudkan melalui pembagian takjil pada bulan Ramadan. Tak hanya itu, paguyuban ini turut menunjukkan semangat toleransi antarumat beragama dengan berpartisipasi dalam kegiatan pengecatan gereja di wilayah Lempake dan sekitarnya.
Penasihat Arema Samarinda, Laode Rahama, yang telah merantau ke Samarinda sejak 1985, mengatakan bahwa solidaritas warga Arema di perantauan telah terbangun kuat, baik dalam lingkungan sesama suporter maupun kehidupan bermasyarakat.
“Persaudaraan kita di sini sangat erat, baik antar-suporter maupun dalam sosial kemasyarakatan. Istilahnya di sini, kalau enggak ada Arema itu enggak ramai,” ungkap Laode.
Menurutnya, paguyuban tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul warga asal Malang, tetapi juga menjadi wadah untuk saling membantu, menjaga kerukunan, serta berkontribusi bagi lingkungan sekitar.
Menjaga Akar Malang, Berkontribusi untuk Samarinda
Di tengah perkembangan Kota Samarinda sebagai pusat aktivitas ekonomi dan investasi di Kalimantan Timur, Arema Samarinda berkomitmen ikut mendukung kemajuan daerah tempat mereka mencari penghidupan.
Pada saat bersamaan, paguyuban tetap berupaya menjaga ikatan budaya, tradisi, dan identitas warga Malang yang hidup jauh dari tanah kelahiran.
Rencana pelantikan pada 10 Januari 2027 mendatang diharapkan menjadi awal penguatan organisasi sekaligus memperluas kontribusi sosialnya. Silaturahmi ke Malang Raya pun menjadi bagian dari upaya merawat hubungan antara warga perantauan dan para tokoh di kampung halaman.
Bagi Arema Samarinda, keberadaan Wapres, kegiatan sosial lintas agama, serta solidaritas ribuan anggotanya menjadi gambaran bahwa merantau bukan berarti melupakan asal-usul.
Justru dari tanah rantau, persaudaraan itu terus dirawat, agar warga Malang tetap memiliki rumah untuk pulang, tempat untuk berbagi, dan ikatan yang tidak terputus oleh jarak.
Pewart/Editor: Imam Muchlis


























































