Oleh Dr Riyanto*
Ribuan tahun silam, bangsa Jawa bercerita, satu negara yang disebut Nusantara: panjang punjung, pasir wukir, gemah ripah ….
Satu negara yang banyak dibicarakan karena keluhurannya. Dikelilingi samudra, ditumbuhi gunung – gunung. Para petani bercocok tanam, hewan pergi pagi, sore pulang ke kandangnya sendiri. Yang berdagang aman di jalan. Raharja jauh dari mara bahaya.
Sekarang Indonesia kebanjiran bangsa asing. Minta menjadi warga negara.
Samar – samar terdengar, inilah tanah perjanjian.
Tanah rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Masih terngiang, Koes Plus:
Bukan lautan hanya kolam susu ….. Ikan dan udang menghampiri dirimu.
Orang bilang tanah kita tanah surga …..
Tiada habis – habisnya. Yang dilihat bisa didendangkan, “sewu kuthonya Didi Kempot, sampai Sri minggatnya Sony Joss.
Tiada lagu nasional suatu negara melebihi lagu nasional Indonesia.
Yang datang biarlah datang. Bisa jadi negaranya tidak lagi aman.
Timur Tengah, Indocina, Afrika, Eropa dan lain sebagainya.
Kalau disana ada “kafir, thogut, di Indonesia jangan ada lagi.
Apalagi berniat mengganggu tuan rumah, namanya, tidak tahu diri. Negara Kesatuan Republik Indonesia, harga mati …..
Kita rawat bersama. Leburkan dalam nilai budaya. Yang dari Arab, jadilah Arab Indonesia, Yang China, jadilah China Indonesia.
Karena dari sinilah konon sumber nenek moyang kalian. Kita terpisah karena sejarah.
“Berenanglah menentang arus, karena mata air bukan di muara”
??
Dirgahayu Republik Indonesia
*Dr Riyanto Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang
*Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.






















































