BACAMALANG.COM — Duka akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 turut dirasakan warga NTT yang tengah menempuh pendidikan di Malang Raya.
Bagi mahasiswa perantau, kabar tentang rumah keluarga yang rusak, orang tua kehilangan pekerjaan, hingga terhambatnya kiriman dari kampung halaman menambah berat kehidupan di tengah kondisi bencana. Jarak ribuan kilometer dari keluarga membuat rasa cemas dan rindu semakin kuat.
Melihat kondisi tersebut, Komunitas Sedekah Subuh Malang membuka Program Makan Gratis bagi mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa.
Ketua Komunitas Sedekah Subuh, Teguh Rendra SB, mengatakan program makan gratis yang telah berjalan sejak 2016 tersebut memang diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Program Makan Gratis ini terbuka untuk siapa saja. Termasuk saat ini juga terbuka dengan lapang dada untuk mahasiswa NTT yang kuliah di Malang terdampak gempa tersebut,” ujar Teguh kepada BACAMALANG, Rabu (19/8/2026).
Warung Gratis Sedekah Subuh beroperasi setiap Senin hingga Sabtu mulai pukul 10.00 WIB sampai selesai. Khusus Jumat, layanan dibuka mulai pukul 09.00 WIB.
Tidak ada pendaftaran maupun persyaratan khusus. Mereka yang membutuhkan cukup datang dan menikmati makanan yang disediakan. Setiap hari, rata-rata 200 porsi disiapkan.
Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk solidaritas masyarakat Malang Raya terhadap warga NTT yang tengah menghadapi bencana. Kepedulian serupa juga terlihat dari berbagai kampus, komunitas, dan lembaga kemanusiaan yang bergerak menggalang donasi serta membuka posko bantuan.
Di media sosial, ajakan untuk membantu korban gempa NTT juga terus bermunculan. Dukungan tidak hanya diarahkan kepada warga yang berada di lokasi bencana, tetapi juga kepada para perantau asal NTT yang berada di berbagai daerah.
Jumlah mahasiswa asal NTT di Malang Raya hingga kini belum tercatat secara resmi. Namun, berdasarkan pendataan komunitas dan dialog dengan diaspora, warga asal 21 kabupaten/kota di NTT yang bermukim di Malang Raya diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang.
Sebagian di antaranya merupakan mahasiswa yang tersebar di sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta. Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI), misalnya, setiap tahun menerima ratusan hingga ribuan mahasiswa baru asal NTT. Sementara mahasiswa perantau asal NTT juga cukup banyak ditemukan di Universitas Widya Karya (UWK) Malang.
Solidaritas terhadap mahasiswa perantau yang terdampak bencana bukan kali pertama dilakukan di Malang.
Ketika banjir bandang melanda Aceh pada akhir 2025, Komunitas Sedekah Subuh juga menyediakan makan gratis bagi mahasiswa asal Aceh yang berada di Malang.
Gerakan serupa dilakukan Warung Makan Jasa Ayah di Jalan Candi Trowulan, Blimbing. Saat itu, mahasiswa dan perantau asal Aceh dapat menikmati seluruh menu secara gratis dengan menunjukkan KTP. Program tersebut diberlakukan di cabang Malang dan Yogyakarta hingga kondisi di Aceh dinyatakan pulih.
Bagi mahasiswa NTT di Malang Raya, bantuan sederhana berupa seporsi makanan menjadi lebih dari sekadar makan gratis. Di tengah kabar duka dari kampung halaman, kepedulian tersebut menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit di perantauan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































