LATO LATO, Lintang Kemukus, Anggar, dan Ethek ethek - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 8 Jan 2023 17:44 WIB ·

LATO LATO, Lintang Kemukus, Anggar, dan Ethek ethek


 LATO LATO, Lintang Kemukus, Anggar, dan Ethek ethek Perbesar

Oleh: Dr Riyanto M.Hum*

Budaya sarat dengan tanda dan lambang. Suasana sumuk, tanda akan turun hujan. Panas terik, menerpa lautan, menguap, bergulung awan, hujan segera tiba. Ada hubungan alamiah antara panas dan rasa sumuk.

Masyarakat geger dengan munculnya “lintang kemukus”. Anak-anak, bermain Anggar dari bambu dan kayu.

Beberapa sa’at kemudian pecah Gestapu. Lintang Kemukus dan anggar lambang akan terjadi pertumpahan darah.

Lambang sering dihubungkan dengan ramalan dan tembang kiasan.
Akan ada orang gila sepanjang jalan, “wong edan sak dalan-dalan”.

Kalau bentuk gila itu ngomel sendirian, bisa jadi pengguna HP itulah si gila sepanjang jalan.

Bagaimana dengan ethek ethek ?
Tahun politik 2023 sudah terbuka.
Suasana sumuk sudah mulai terasa.
Demontrasi berjilid-jilid tanpa diketahui tujuannya. Hujatan tercecer dimana-mana.

Akankah itu seperti mendung tanpa udan, “udan siremeni ? Suara hujan yang tidak pernah jatuh airnya. Ki dalang bercerita, lambang akan pecah perang besar Bharatayudha.

“Apakah Aswatama meninggal ?, resi Drona bertanya. Puntadewa menjawab, “benar, Aswatama meninggal !!

Kesetanan Resi Drona maju perang. Dalam istirahatnya, lawan mengayunkan pedang. Resi Drona gugur dalam palagan Kurusetra.
Gajah Aswatama memang mati, tapi bukan anaknya.

Ethek-ethek semoga bukan lambang masyarakat dibentur-benturkan. Bukan suara yang salah ditafsirkan.
Ethek-ethek hanyalah hiburan untuk masyarakat yang bingung dalam kehidupan.

*) Penulis: Dr Riyanto M.Hum, Budayawan yang juga Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Malang.

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian dari BacaMalang.com

Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Hari Lahir Pancasila: Merawat Gagasan Besar di Tengah Bangsa yang Terus Berubah

1 Juni 2026 - 20:09 WIB

1 Juni: Pancasila dan Tugas Sejarah Kaum Muda Mengawal Republik

1 Juni 2026 - 17:39 WIB

Dua Puluh Satu Mei Reformasi: Ketika Semangat Pemuda Kabupaten Malang Diuji oleh Zaman

22 Mei 2026 - 11:19 WIB

Membaca Dengan Kritis Hibah Aset Daerah Oleh Pemkab Malang ke UNIBRAW

18 Mei 2026 - 20:43 WIB

“Pokoknya Ada” dan Ilusi Partisipasi Anggaran

24 April 2026 - 11:08 WIB

Melukis Malang dalam Busana

21 April 2026 - 18:27 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !