UB Kukuhkan 9 Profesor Lintas Ilmu, Ulas Permasalahan Agraria hingga Pencegahan Asma pada Anak - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 19 Des 2024 10:14 WIB ·

UB Kukuhkan 9 Profesor Lintas Ilmu, Ulas Permasalahan Agraria hingga Pencegahan Asma pada Anak


 UB Kukuhkan 9 Profesor Lintas Ilmu, Ulas Permasalahan Agraria hingga Pencegahan Asma pada Anak Perbesar

BACAMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan Profesor, di Gedung Samantha Krida, Kamis 19 Desember 2024. Ada 9 (sembilan) Profesor yang dilantik, terdiri dari berbagai lingkup kajian ilmu, yakni Fakultas Hukum (FH), Fakultas Peternakan (Fapet), Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Pertanian (FP), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB).

Lima diantaranya memaparkan pidato yang disampikan dalam konferensi pers yang digelar Rabu (18/12/2024).

Prof. Dr. Siti Azizah, S.Pt., M. Sos., M. Commun (Fapet) mengemukakan pidato berjudul “CRAVE: Mengintegrasikan Teori Konflik Galtung dan Kesadaran Kritis Freire di Sektor Peternakan Indonesia”.

Menurut Profesor aktif ke-21 di Fapet ini, konflik dalam bidang peternakan di Indonesia saat ini membutuhkan alternatif model manajemen yang bisa mengurangi protes terbuka menjaga kestabilan, menghindari penyebaran hoax dan memprioritaskan kepentingan yang lebih urgen, yang disebabkan adanya kebijakan represif dari pemerintah, salah satunya adalah impor susu.

“Model yang diformulasikan untuk mengatasi konflik ini adalah CRAVE (Conflict Repression Approach for Vulnerable Engagement), yang bertujuan mencegah konflik antara pihak berkuasa dan peternak rentan, serta menciptakan stabilitas sosial, kesejahteraan, dan perdamaian sehingga bisa membangun kepercayaan antar pemangku kepentingan, menciptakan lingkungan yang mendukung pembangunan dan pemberdayaan jangka Panjang,” urainya.

Dikatakan Prof. Siti Azizah, CRAVE fokus pada pemberdayaan, pengakuan, dan kesadaran kritis peternak untuk menciptakan solusi berkelanjutan dan inklusi sosial, dengan 5 elemen inti, yang meliputi Sistem Kerentanan Aktor; Sistem Tujuan dari Pihak yang Diberdayakan; Zona Penerimaan dan Penolakan; Persepsi Konflik dan Pengembangan; dan Kesadaran Kritis; serta Penindasan Struktural dan Pembangunan Perdamaian Positif.

“CRAVE juga bertujuan untuk mencapai keadilan sosial dan stabilitas masyarakat. Sedangkan kelemahan model CRAVE adalah kebutuhannya akan kolaborasi interdisipliner dan integrasi kebijakan yang solid untuk meningkatkan skalabilitas dan inklusivitas CRAVE dalam bidang peternakan maupun aspek sosial yang lebih kompleks,” tutup Profesor bidang ilmu Pemberdayaan Masyarakat ini.

Sedangkan Prof. Dr. Iwan Permadi, SH., M.Hum, yang dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Hukum Agraria pada Fakultas Hukum (FH) menguraikan fakjta menarik dalam pidato berjudul “Konsep Smart Agraria: Penguatan, Pengamanan Data Fisik dan Data Yuridis dalam Sertifikat Tanah Elektronik”.

“Agraria adalah problematik yang tak pernah selesai, yang berkutat soal sertifikat. Data menunjukkan ada 3 juta perkara di tahun 20222 yang meningkat hamppir menjadi 4 juta perkara di tahun 2023. 2.786,” terangnya.

Profesor aktif ke-10 di Fakultas Hukum mengatkan, salah satu pilar utama dalam konsep smart agraria adalah digitalisasi sertifikat tanah melalui sistem yang berbasis teknologi informasi, yang bertujuan untuk mewujudkan modernisasi pelayanan pertanahan, meningkatkan efisiensi, kemudahan berusaha, dan transparansi data.

“Melalui penerapan ini, sertifikat tanah yang selama ini diterbitkan dalam bentuk fisik, kini dapat dikelola dan diakses secara digital,” ungkapnya.

Dijelaskan Prof. Iwan, digitalisasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem yang lebih transparan, aman, dan efisien, dengan keunggulan dari sertifikat tanah elektronik adalah keamanan, yaitu dokumen elektronik dilindungi oleh teknologi enkripsi dan autentikasi ganda, yang membuatnya lebih sulit untuk dipalsukan.

“Tapi ada juga tantangannya, yaitu dalam hal kesiapan infrastruktur dan literasi digital masyarakat yang masih belum memadai khususnya di daerah terpencil yang belum terjangkau akses internet,” tukasnya.

Kelemahan dari digitalisasi sertifikat tanah ini, imbuhnya, adalah Kesenjangan Infrastruktur Teknologi, Tingkat literasi digitalisasi yang rendah, potensi resiko keamanan siber, kendala hukum dan regulasi serta biaya implementasi dan pemeliharaan yang besar di bidang teknologi informasi.

“Akan terjadi potensi pemalsuan, khususnya untuk tingkat literasi digitalisasi yang rendah, meski tujuan dari konsep ini tentunya untuk modernisasi pelayanan,” tandas Profesor ke-393 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan UB ini.

Selanjutnya, Prof. Dr. Drs. Suryadi, MS yang dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Kepemimpinan pada Fakultas Ilmu Administrasi (FIA).

Ia merupakan Profesor aktif ke-14 di FIA, dan Profesor aktif ke-223 di UB, serta menjadi Profesor ke-398 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan UB.

Ia menyampaikan pidato berjudul “Spiritual Egalitarian: Model Kepemimpinan Profetik Multi Paradigmatik-Jawaban Problematika Kepemimpinan Masyarakat Modern”.

“Michael H. Hart dalam bukunya 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia (2019), telah menempatkan Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pada posisi nomor wahid. Sementara Pemimpin dan kepemimpinan merupakan unsur menentukan keberhasilan dan kegagalan setiap bentuk organisasi, baik organisasi besar maupun organisasi kecil, baik organisasi formal maupun informal. sejauh ini belum ditemukan formula model kepemimpinan yang dapat menjadi panduan yang disepakati dan diterima oleh pakar-pakar ilmu kepemimpinan,” paparnya.

Prof. Suryadi mengemukakan Spiritual Egalitarian sebagai model kepemimpinan profetik dengan menghadirkan prinsip kepemimpinan yang berakar pada nilai spiritual dan moral yang bersumber dari wahyu ilahi.

Nilai spiritual dan moral ini membentuk sifat pemimpin yang selanjutnya di manifestasikan dalam sikap dan perilaku etis dalam kepemimpinannya.

“Keunggulan model kepemimpinan ini selain terletak pada sikap dan perilaku etis dari sang pemimpin adalah pengabaian atas struktur hirarkis dan menempatkan pengikut pada posisi yang sejajar dengan pemimpin sehingga menciptakan keintiman dan mendorong partisipasi. Keputusan strategis dilakukan dengan mekanisme musyawarah dengan basis kepakaran sehingga berkualitas,” urainya.

Selain itu, tambahnya, perhatian besar diberikan pada usaha pengembangan diri pengikut dengan mendorong dan mentransformasi pengikut sehingga melahirkan sosok pengikut yang berintegritas dan kapasitas yang handal yang pada gilirannya menghasilkan kinerja yang tinggi dan sosok pemimpin baru.

“Namun secara konseptual model ini masih memerlukan kajian lebih lanjut guna menghasilkan konsep yang lebih komprehensif. Secara praktik, model kepemimpinan ini membutuhkan orang yang memiliki integritas dan kapasitas untuk menjalankan model ini,” ujarnya.

Dari sisi kesehatan, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, Msi.Med, Sp.A(K) menyampaikan pidato berjudul “Asma Cermat: Model Inovasi Pencegahan Asma dengan Modulasi Imun untuk Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak”.

Dekan Fakultas Kedokteran (FK) UB ini mengusung konsep Asma Cermat untuk mencegah terjadinya ASMA untuk optimalisasi tumbuh pada anak.

“Pencegahan asma pada anak memerlukan pendekatan yang multidimensional dan berbasis pada modulasi respons imun, dengan memperhatikan faktor genetik, lingkungan, dan interaksi mikrobiota. Atopic march yang dimulai sejak masa bayi, seperti dermatitis atopik yang berkembang menjadi alergi makanan, rinitis alergi, dan akhirnya asma, memberikan petunjuk penting tentang pencegahan yang efektif,” paparnya.

Menurut profesor dalam bidang ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran (FK) ini, beberapa strategi pencegahan, seperti pengendalian faktor lingkungan, pengaturan nutrisi, penggunaan imunomodulator (termasuk probiotik dan vitamin D), serta pendekatan berbasis mikroba, terbukti dapat mengurangi risiko dan dampak perkembangan asma pada anak.

Faktor-faktor seperti kebersihan rumah, penghindaran asap rokok, dan pengaturan diet yang kaya serat dan antioksidan, dapat membantu menurunkan prevalensi asma, dengan memperhatikan pentingnya “window periode” selama kehamilan dan masa awal kehidupan.

“Namun, pencegahan asma harus bersifat individual dan presisi, mengingat variabilitas genetik dan lingkungan pada setiap individu. Dalam konteks ini, pendekatan “ASMA CERMAT” yang mengintegrasikan aspek lingkungan, imun, dan nutrisi, dapat menjadi strategi yang holistik dan komprehensif untuk mencegah asma pada anak,” tegasnya.

Prof. Wisnu menguraikan, bahwa “ASMA CERMAT” menawarkan strategi yang holistik dan presisi, yang mengintegrasikan aspek lingkungan, imun, dan nutrisi.

“Strategi ini penting karena terkait dengan mengurangi stunting pada anak, dengan tatalaksan diet yanga tepat,” tegasnya.

Srategi tersebut meliputi: Atopic March (Pahami perjalanan alergi yang dimulai dari dermatitis hingga asma), Sehat Lingkungan (Jaga lingkungan bebas asap rokok, polusi), Mikroba Seimbang (Probiotik untuk menjaga keseimbangan imun tubuh), Asupan Nutrisi (Nutrisi yang tepat selama kehamilan dan masa bayi penting untuk mencegah asma), Cegah Dini (Identifikasi faktor risiko), Edukasi Keluarga (Pentingnya pendidikan tentang pencegahan dan pengelolaan asma), Respon Imun (Fokus pada modifikasi respon imun tubuh untuk mencegah inflamasi saluran napas), Makanan Bergizi (Memberikan makanan sehat mendukung pertumbuhan dan kesehatan), Akselerasi Penelitian (Mendukung riset pencegahan asma), dan Tumbuh Kembang (Mendukung tumbuh kembang anak yang optimal).

“Kelemahan model ASMA CERMAT adalah implementasinya membutuhkan keterlibatan multidisiplin, seperti akses edukasi, dukungan medis, dan lingkungan yang ideal, sehingga menjadi tantangan dalam penerapan secara holistik,” ungkap Profesor ke-399 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB ini.

Sedangkan Prof. Dr. Ir. Yulia Nuraini, MS, yang dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Mikrobiologi Tanah pada Fakultas Pertanian (FP), menyampaikan pidato berjudul “Teknik Biorem-Lok: Upaya Mengurangi Pencemaran Logam Berat dan Meningkatkan Kesuburan Tanah”.

Profesor aktif ke-32 di FP ini sengaja memilih topik ini karena pencemaran lingkungan akibat logam berat telah menjadi masalah serius, terutama dengan meningkatnya industrialisasi dan kegiatan hilirisasi di sektor pertanian dan pertambangan.

“Polutan logam berat di lingkungan, khususnya di tanah, sulit terdegradasi secara alami, berbeda dengan senyawa organik yang dapat terurai melalui proses oksidasi atau aktivitas mikroba,” terangnya.

Dikatakan Prof. Yulia, Teknik Biorem-Lok adalah pendekatan bioremediasi inovatif yang menggunakan mikroba untuk mengatasi akumulasi logam berat dalam tanah akibat intensifikasi pertanian, dimana hal ini sejalan dengan Peningkatan penggunaan pupuk buatan dan pestisida yang menyebabkan akumulasi logam berat seperti Pb, Hg, dan Cd di dalam tanah, menurunkan kesuburan tanah, menghambat pertumbuhan tanaman, dan berisiko masuk ke dalam rantai makanan manusia dan hewan, sehingga mengancam kesehatan.

Penanggulangan pencemaran logam berat, sebelumnya seperti metode pencucian dan pengendapan kimia, cenderung mahal dan tidak ramah lingkungan. Mikroba resisten logam berat seperti bakteri, jamur ataupun actinomisetes yang diisolasi berpotensi dijadikan bioremidiator, mengurangi logam berat dengan fungsi tambahan menyediakan unsur hara bagi tanaman dan pengendalian pathogen tanah.

“Pendekatan ini menawarkan keunggulan solusi ramah lingkungan bagi pertanian yang berkelanjutan, mendukung pemulihan kesuburan tanah, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Sedangkan kelemahannya dalam Teknik formulasi BIOREM-LOK masih memerlukan pengembangan lebih lanjut dengan kondisi lahan yang lebih spesifik dan jenis pupuk dan peptisida yang beragam,” tandas Profesor ke-400 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan UB ini.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 238 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

31 Wisatawan Asal Surabaya Positif Narkoba, Polisi Tetap Buru Pelaku Pengeroyokan di Pantai Wediawu

6 Mei 2026 - 13:06 WIB

Pedagang Pasar Oro-Oro Dowo Dibekali Literasi Hukum Lewat Program “SEPASAR PEDAS”

6 Mei 2026 - 12:58 WIB

Vario 125 Raib Saat Diparkir, Warganet Soroti Keamanan Area Parkir

6 Mei 2026 - 10:11 WIB

Dua Warga Beji Batu Tewas Diduga Keracunan Minuman Misterius, Polisi Selidiki Kandungan Cairan

6 Mei 2026 - 10:00 WIB

Termakan Hoaks, Pria di Lawang Bacok Tetangga Sendiri hingga Terluka

6 Mei 2026 - 09:46 WIB

Malang Jejeg Lanjutkan Program Beras Gratis untuk Warga Kurang Mampu

6 Mei 2026 - 09:33 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !