Di Balik Maraknya Penyiksaan, Tren Adopsi Kucing Justru Meroket di Malang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 26 Mei 2025 12:21 WIB ·

Di Balik Maraknya Penyiksaan, Tren Adopsi Kucing Justru Meroket di Malang


 Kucing milik Ajeng di Kepanjen. (Ajeng for Bacamalang) Perbesar

Kucing milik Ajeng di Kepanjen. (Ajeng for Bacamalang)

BACAMALANG.COM – Kasus penyiksaan kucing kembali mencoreng wajah Kota Malang. Belasan kucing ditemukan mati secara misterius di Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, dalam beberapa bulan terakhir. Dugaan sementara mengarah pada aksi peracunan, ditandai gejala seperti kejang mendadak, lidah membiru, hingga keluarnya cairan dari tubuh kucing.

Ironisnya, peristiwa memilukan ini tak lantas menyurutkan minat masyarakat untuk memelihara kucing. Data Consumer Report Indonesia 2023 menunjukkan, sebanyak 68,76 persen masyarakat Indonesia kini memilih kucing sebagai hewan peliharaan utama, mengungguli burung, ikan mas, hingga anjing.

“Gejalanya mirip keracunan. Banyak kucing mati mendadak, termasuk kucing ras,” ungkap seorang warga Bunulrejo yang enggan disebut namanya. Masyarakat pun mulai meningkatkan kewaspadaan, dengan membatasi ruang gerak kucing dan mempertimbangkan pelaporan ke aparat untuk mengungkap pelaku kekejaman ini.

Sementara itu, geliat pecinta kucing justru semakin kuat. Ajeng, seorang warga Kepanjen, Kabupaten Malang, telah memelihara 13 kucing dari jenis Persia medium dan lokal. Sejak kecil ia jatuh cinta pada kucing, dan kini aktif dalam komunitas pecinta hewan, bahkan membuka adopsi gratis.

“Merawat kucing bukan cuma soal memberi makan, tapi juga kasih sayang. Saya pernah kesulitan soal biaya, tapi selalu cari cara,” tutur Ajeng. Ia pernah menyelamatkan seekor kucing yang sakit parah hingga sembuh, sebuah momen yang membuatnya semakin bertekad merawat hewan secara bertanggung jawab.

Ajeng dan komunitasnya berharap kesadaran publik meningkat, agar tak ada lagi kucing yang terlantar atau menjadi korban kekerasan.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 160 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Terapkan Green Chemistry, Departemen Kimia FSTeM UB Hasilkan Puluhan Produk Ramah Lingkungan Bernilai Ekonomi

13 Juni 2026 - 07:46 WIB

Siswa SMK Turen Ikuti Simulasi Evakuasi, BPBD Tanamkan Budaya Sadar Bencana Sejak Dini

13 Juni 2026 - 07:07 WIB

Kejurnas Tenis Beregu XX Piala Ketua Mahkamah Agung RI Perkuat Sport Tourism Kota Malang

12 Juni 2026 - 22:25 WIB

Kuasa Hukum Sinal Abidin Minta Publik Hormati Proses Hukum, Soroti Pemberitaan Dugaan Penganiayaan Usai Laga Bulu Tangkis

12 Juni 2026 - 22:16 WIB

Tampilkan Tari Kolosal “Tandang Malang Kucecwara”, Gubernur Jawa Timur Sambut Kehadiran Kontingen Kejurnas Tenis Beregu XX Piala Ketua Mahkamah Agung RI 2026

12 Juni 2026 - 21:36 WIB

Buka Kejurnas Tenis Beregu XX Piala Ketua MA RI 2026 di Malang, Ketua MA Serukan Integritas dan Sportivitas Atlet

12 Juni 2026 - 20:22 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !