Permisif terhadap Perubahan yang Merusak - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 23 Mar 2026 12:00 WIB ·

Permisif terhadap Perubahan yang Merusak


 Pietra Widiadi, Pendiri Yayasan Dial (Drive Innovation for Alternative) dan Pendopo Kembangkopi. (Pietra for Baca Malang) Perbesar

Pietra Widiadi, Pendiri Yayasan Dial (Drive Innovation for Alternative) dan Pendopo Kembangkopi. (Pietra for Baca Malang)

Oleh: Pietra Widiadi

Belakangan, perilaku sound horeg terasa makin sering menomorsatukan kesenangan sendiri daripada sopan santun. Walau ada yang terganggu dan menyampaikan keluhan, praktiknya tetap berjalan seakan keluhan itu tidak perlu didengar. Sikap seperti ini menunjukkan kurangnya empati dan teposliro atau tenggang rasa terhadap orang lain.

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di desa, tetapi juga bisa muncul di kota. Wilayah yang disebut dengan urban, bukan rural. Dalam kurun kurang dari lima tahun terakhir, sejumlah kegiatan keagamaan juga semakin sering disertai pawai sound-horeg, dengan pilihan musik yang cenderung ke house-music. Fenomena ini tampak berlangsung di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

*Gangguan yang Nyata*

Perilaku sound horeg dapat dipahami sebagai praktik bunyi bervolume sangat tinggi yang menggunakan ritme ala house music. Dengan karakter tersebut, sound horeg dinilai sangat mengganggu karena kebisingannya mudah mendominasi ruang dengar. House music itu musik elektronik buat menari, dengan ketukan cepat yang berulang-ulang. Biasanya musik seperti ini diputar di tempat tertutup, misalnya diskotek atau konser indoors. Ini jelas bahwa sebenarnya ada penyimpangan dalam kaidah perilaku dalam ekspresi bermusik.

Sound horeg menjadikan tontonan terbatas menjadi tontonan terbuka. Celakanya itu, kemudian diadopsi dalam sebuah tradisi keagamaan yang harusnya mengedepankan tenggang rasa. Dalam hal ini, secara cermat, saya ingin mengatakan mengapa dalam takbiran sebagai penghantar memasuki hari suci, diwarnai dengan perilaku seperti itu dibiarkan berkembang?

*Sikap Permisif Masyarakat dan Para Tokoh dalam Berbudaya*

Tentu budaya tidak ada yang positif dan negatif, karena budaya pada dasarnya adalah sebuah hasil dari karya dan kriya dalam kelompok masyarakat tertentu sebagai penanda perubahan atau ketidak berubahan. Masalah yang tampak kecil dapat membesar ketika sound horeg dibiarkan masuk ke ruang yang seharusnya khidmat, termasuk konteks keagamaan. Dalam suasana yang menuntut ketenangan, kebisingan semacam itu mudah memicu rasa tidak nyaman, marah, dan penolakan.

Secara sosiologis, akumulasi kemarahan dan ketidakpuasan yang tidak dikelola berisiko memantik konflik. Karena itu, kepekaan sosial yaitu termasuk empati dan teposliro perlu ditekankan agar respons terhadap gangguan tidak berkembang menjadi pertentangan. Prioritasnya adalah toleransi, baik antar umat beragama maupun di dalam masing-masing komunitas keagamaan.

Dengan menempatkan kenyamanan bersama dan sikap saling menghormati sebagai pegangan, ruang-ruang khidmat dapat tetap terjaga tanpa menciptakan ketegangan yang tidak perlu. Dengan penekanan ini, seharusnya sebuah tradisi yang akan menjadi budaya yang pada dasarnya akan menimbulkan pertentangan, tidak dikembangkan dan oleh para pemuka diberikan dasar penolakan atau pelarangan.

*) Pietra Widiadi, Pendiri Yayasan Dial (Drive Innovation for Alternative) dan Pendopo Kembangkopi

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Alun-Alun Kepanjen, Ujian Administrasi Sekda, dan Pertanyaan Sunyi tentang Bank Jatim Sebagai Bank Persepsi

24 Februari 2026 - 17:01 WIB

Warkop Grajen Kepanjen, Tebarkan Kebahagiaan sembari Ngopi, dan Ngaji tentang Kehidupan

15 Februari 2026 - 20:58 WIB

Bahan Obrolan Hari Pers Nasional 2026: Kala Algoritma Memilihkan Berita

9 Februari 2026 - 14:14 WIB

Warkop Grajen: Ruang Dialog dan Spiritualitas di Tengah Masyarakat Kepanjen

21 Januari 2026 - 11:59 WIB

Menimbang Dampak Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 Bagi Guru, Siswa, dan Sekolah

19 Januari 2026 - 12:58 WIB

BELAJAR DARI ISRA’ MI’RAJ (Spirit Kepemimpinan Amanah di Tengah Krisis Kepercayaan)

17 Januari 2026 - 09:43 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !