BACAMALANG.COM – Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) menggelar Edukasi Kesehatan Ginjal bagi pasien hemodialisis (HD) dan keluarga sebagai upaya meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini penyakit ginjal, Minggu (12/4/2026).
Kegiatan yang diikuti pasien dan keluarga yang menjalani HD di RSUB dan beberapa RS lain ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan World Kidney Day 2026 yang mengusung tema “Caring for People & Caring for the Planet”. Edukasi menghadirkan narasumber dr. Etik Mertianti, SpPD., FINASIM dan ahli gizi Nanda Ari Prasetio, S.Gz., serta dihadiri Direktur RSUB, dr. Viera Wardhani, M.Kes.
Dalam pemaparannya, dr. Etik menjelaskan bahwa gagal ginjal kronik merupakan penyakit progresif yang berlangsung lebih dari tiga bulan, dengan penyebab utama diabetes dan hipertensi. Ia menegaskan tren yang terjadi saat ini adalah, banyak pasien baru terdiagnosis saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut.
“Sebagian besar pasien datang dalam kondisi stadium 4 atau 5, sehingga harus menjalani terapi pengganti ginjal,” ujarnya.
Dokter penanggungjawab unit dialisis RSUB ini menyebutkan, terdapat tiga moda terapi pengganti ginjal, yakni hemodialisis (HD), Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), dan transplantasi ginjal. Namun, terapi HD masih menjadi pilihan utama yang digunakan mayoritas pasien di Indonesia, yakni mencapai 98 persen.
Berdasarkan data yang dipaparkan, prevalensi pasien gagal ginjal stadium akhir di wilayah Malang mencapai sekitar 2.476 orang, dengan kebutuhan ideal mesin hemodialisis mencapai 412 unit. Sementara itu, RSUB saat ini memiliki 13 unit mesin HD yang melayani sekitar 80 pasien dalam dua shift dan masih mengalami kelebihan kapasitas, mengingat pasien yang datang banyak juga berasal dari luar wilayah Malang.
“Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan melalui deteksi dini agar pasien tidak sampai pada tahap membutuhkan cuci darah,” jelasnya.

Kegiatan Edukasi Kesehatan Ginjal untuk Pasien HD RSUB & Keluarga di Poli Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Minggu (12/4/2026). (Nedi Putra AW)
Gejala awal penyakit ginjal antara lain sesak napas, mual, muntah, tekanan darah tinggi, hingga penurunan nafsu makan. Oleh karena itu, dr. Etik mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga berat badan, mengontrol gula dan tekanan darah, cukup minum air putih, serta menghindari konsumsi obat tanpa resep dokter.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa deteksi dini tidak hanya menyelamatkan pasien, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Menurutnya, proses hemodialisis, salah satunya menghasilkan limbah medis berbahan plastik sekali pakai yang sulit terurai.
“Melalui kampanye Green Kidney Day, kami ingin mengurangi kebutuhan terapi HD dengan cara pencegahan sejak dini, sehingga turut melindungi lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, ahli gizi RSUB, Nanda Ari Prasetio, menekankan pentingnya pengaturan pola makan bagi pasien gagal ginjal. Ia menjelaskan bahwa asupan nutrisi yang tepat dapat membantu menjaga kondisi pasien dan meningkatkan kualitas hidup.
“Pengaturan cairan, protein, kalium, fosfor, dan natrium harus diperhatikan. Pasien juga perlu mengetahui jenis makanan yang dianjurkan maupun yang harus dibatasi,” ujarnya.
Beberapa makanan yang relatif aman dikonsumsi antara lain daging ayam, ikan, putih telur, dan buah apel. Sementara makanan tinggi garam, gula berlebih, serta kacang-kacangan sebaiknya dibatasi.
Melalui kegiatan ini, RSUB berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan ginjal sejak dini, sehingga dapat menekan angka kasus gagal ginjal kronik sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































