BACAMALANG.COM – Kelompok bermain seni “Mlebu Metu” kembali menghadirkan pertunjukan performance art bertajuk “Ngleremno Ati”, sebuah ruang pertemuan bunyi, gerak, dan rasa yang lahir dari proses eksplorasi seni lintas medium. Kelompok yang berdiri di Kota Malang sejak 2021 ini dikenal lewat konsep berkesenian yang cair, bebas, dan mengalir tanpa batasan pakem.
Salah satu penggagas sekaligus vokalis dan gitaris Mlebu Metu, Wak Jo, menjelaskan bahwa Mlebu Metu merupakan ruang persinggahan antara coretan, bunyi, dan gerak yang tidak harus selalu bersinambungan. “Biarlah rasa itu mengalir apa adanya saat ruang bermain itu terbuka,” ujar Wak Jo.
Dalam perjalanan berkesenian, Mlebu Metu telah merilis dua album musik eksplorasi. Album pertama bertajuk “JEDA…” berangkat dari kumpulan coretan yang dimusikalisasi menjadi harmoni bunyi. Sementara album kedua, “Semeleh…”, lebih banyak bercerita tentang perjalanan menikmati hidup dengan sederhana dan apa adanya.
Kelompok ini diperkuat oleh Agus Fauzi pada biola eksploratif, Bambang Sukun pada gitar eksplorasi, serta Wak Jo pada vokal dan gitar.
Tak sekadar tampil di panggung formal, Mlebu Metu justru lebih sering berinteraksi dengan kantong-kantong seni dan budaya melalui perjumpaan musikal, dialog, hingga jagongan budaya yang dinamis dan harmonis.
Sejumlah ruang yang pernah menjadi titik persinggahan mereka di antaranya Omah Gasek, Warung Kopi Remboeg Pawon, Kaduwa, Sugaros Soul, Roemah Mlebu Metu, Cafe Mesem Tumpang, DKM, Semeru Gallery, Pondok Pesantren Karang Genting, MCC, hingga ruang-ruang pertemuan kampung dan kampus.
Melalui pertunjukan “Ngleremno Ati”, Mlebu Metu juga menggandeng sejumlah seniman dan budayawan Kota Malang sebagai bentuk kolaborasi lintas ekspresi seni. Pertunjukan ini menjadi bagian dari eksistensi perjalanan berkesenian yang telah dijalani para penggagasnya selama lebih dari 30 tahun di Kota Malang.
Kegiatan tersebut akan digelar pada Jumat (8/5/2026) di Amphiteater Critasena, Senaputra, Kota Malang, mulai pukul 18.00 WIB hingga selesai.
Dengan konsep yang sederhana namun penuh makna, Mlebu Metu mencoba menghadirkan seni sebagai ruang jeda, ruang bertemu, sekaligus ruang untuk “ngleremno ati” atau menenangkan hati di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Pewarta/Editor: Hadi Triswanto




















































