BACAMALANG.COM – Di tengah menguatnya berbagai persoalan ketimpangan sosial dan ekonomi, Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Kabupaten Malang kembali menghidupkan ruang dialektika kader melalui forum “Dialektika Marhaenis” yang digelar di Cafe 99 Gondanglegi, Rabu (17/6/2026).
Mengusung tema “Indonesia di Persimpangan Jalan: Marhaenisme Menjawab Krisis Keadilan Sosial di Era Modern”, forum ini menjadi wadah refleksi sekaligus diskusi kritis atas berbagai persoalan bangsa, mulai dari kesenjangan ekonomi, konflik agraria, terbatasnya akses kesejahteraan, hingga praktik politik yang dinilai semakin menjauh dari kepentingan rakyat kecil.
Kegiatan yang dipandu Bung Didik Syarfil Anam tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Raihan Dzaky, S.H., Sekretaris Cabang GMNI Kota Batu sekaligus Ketua Komisariat GMNI UIN Malang periode 2024, serta Lalu Muhammad Amar, S.H., Wakil Ketua Bidang Reforma Agraria DPP GMNI periode 2025–2028.
Dalam pemaparannya, Raihan menegaskan bahwa Marhaenisme tidak boleh berhenti sebagai warisan pemikiran sejarah semata. Menurutnya, ideologi yang diwariskan Bung Karno itu harus diwujudkan dalam keberpihakan nyata kepada rakyat yang hingga kini masih menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan.
“Marhaenisme tidak cukup dipahami sebagai konsep historis, tetapi harus diterjemahkan menjadi keberpihakan nyata terhadap rakyat yang masih menghadapi ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik,” ujarnya.
Senada dengan itu, Lalu Muhammad Amar menilai tantangan zaman terus berubah, namun cita-cita mewujudkan keadilan sosial tetap menjadi agenda perjuangan yang relevan. Karena itu, ruang-ruang dialektika perlu terus dihidupkan untuk membangun kesadaran kritis sekaligus melahirkan solusi atas persoalan bangsa.
“Tantangan zaman terus berubah, namun semangat perjuangan untuk mewujudkan keadilan sosial tetap relevan. Karena itu, ruang dialektika perlu dihidupkan sebagai sarana membangun kesadaran kritis dan solusi bagi persoalan bangsa,” katanya.
Sebagai ideologi yang menjadi fondasi GMNI sejak organisasi tersebut berdiri pada 23 Maret 1954, Marhaenisme dinilai tetap memiliki relevansi dalam menjawab berbagai tantangan sosial di era modern. Forum ini juga menjadi simbol upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual kader di tengah menurunnya ruang-ruang diskusi mahasiswa yang kerap tersita oleh rutinitas administratif organisasi.
Melalui kegiatan tersebut, GMNI Kabupaten Malang menegaskan bahwa kader harus hadir sebagai intelektual organik yang mampu membaca realitas sosial, memahami kontradiksi zaman, serta menawarkan solusi konkret bagi masyarakat.
Bagi GMNI, kebangkitan organisasi tidak selalu lahir dari panggung-panggung besar. Ia dapat tumbuh dari meja diskusi sederhana, buku yang dibaca bersama, hingga keberanian kader untuk terus memperjuangkan cita-cita keadilan sosial bagi kaum Marhaen.
Pewarta: M Idris / Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































