BACAMALANG.COM – Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian menyoroti tiga persoalan mendesak yang dinilai perlu segera mendapat perhatian bersama, yakni pelestarian budaya lokal, pendataan warisan sejarah, serta penguatan edukasi bagi generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi.
Masuknya budaya luar yang semakin masif dinilai berdampak pada memudarnya identitas budaya masyarakat. Salah satu yang paling terasa adalah semakin jarangnya generasi muda menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, peninggalan sejarah di Kabupaten Malang juga dinilai belum terdokumentasi secara menyeluruh. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan berbagai situs dan benda bersejarah mengalami kerusakan bahkan hilang tanpa adanya data yang memadai.
Di bidang seni, kesenian tradisional seperti Topeng Malangan juga menghadapi tantangan serius. Minimnya regenerasi, berkurangnya jumlah murid, serta banyaknya maestro yang telah memasuki usia lanjut menjadi ancaman bagi keberlangsungan kesenian khas Malang tersebut.
Tak hanya itu, keberadaan tiga ragam bahasa tutur di Kabupaten Malang, yakni bahasa Piye di wilayah selatan, bahasa Arek, dan bahasa Rika di kawasan Tengger, juga dinilai belum memperoleh perhatian melalui kebijakan pelestarian sehingga dikhawatirkan semakin tergerus perkembangan zaman.
Berbagai persoalan tersebut merupakan hasil kajian Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian yang mendorong adanya langkah nyata untuk menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan budaya daerah.
Wakil Ketua Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian, Budi Hartono, mengatakan berbagai upaya dapat dilakukan melalui dialog, seminar, sarasehan, hingga penelitian yang melibatkan berbagai kalangan.
“Harapannya diaktifkan perhatian terhadap budaya sebagai potensi daerah, yang bisa dikenal oleh pihak kita sendiri dan menarik pihak luar Kabupaten Malang untuk berkunjung ke Kabupaten Malang,” ujarnya.
Paguyuban Amartya Bhumi Kepanjian merupakan komunitas budaya yang berbasis di Kepanjen dan bersifat inklusif. Organisasi ini menghimpun praktisi hukum, akademisi, tokoh masyarakat, serta pegiat seni dan budaya untuk bersama-sama mendorong pelestarian kebudayaan, penguatan literasi sejarah lokal, penataan ruang, kegiatan sosial, hingga pengawasan kebijakan publik.
Melalui berbagai gerakannya, paguyuban tersebut memiliki visi menjadikan Kepanjen sebagai ibu kota Kabupaten Malang yang berkembang sebagai pusat peradaban yang inklusif, memiliki kepastian hukum, maju secara ekonomi, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya lokal.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































