BACAMALANG.COM – Meski hanya dipersiapkan selama 14 hari tanpa dukungan anggaran, Lembaga Budaya dan Seni Kecamatan Bumiaji (LABUMI) berhasil menggelar Wilujengan Agung Suran yang melibatkan sembilan desa di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kegiatan bertema “Mamayu Hayuning Bumiaji” itu menjadi langkah awal menghidupkan kembali budaya lokal sekaligus menargetkan masuk dalam agenda tahunan Kota Batu.
LABUMI yang baru terbentuk sekitar satu tahun lalu langsung bergerak aktif sebagai wadah pengembangan seni, budaya, dan pelestarian tradisi di Kecamatan Bumiaji. Ke depan, lembaga ini juga menargetkan budaya lokal menjadi potensi wisata unggulan Kota Batu.
Camat Bumiaji, Thomas Maido, mengatakan kegiatan perdana yang digelar pada bulan Suro tersebut terlaksana berkat semangat gotong royong seluruh pengurus LABUMI, pemerintah desa, BPD, hingga tokoh masyarakat.
“Persiapannya hanya 14 hari dan tanpa anggaran. Yang menggerakkan adalah semangat pengurus LABUMI, para kepala desa, BPD, dan tokoh masyarakat. Alhamdulillah kegiatan perdana ini berjalan baik, meriah, dan diikuti seluruh sembilan desa di Kecamatan Bumiaji,” ujarnya kepada awak media, Selasa (14/7/2026) malam.
Target Menjadi Agenda Tahunan Kota Batu
Thomas menegaskan, Wilujengan Agung Suran tidak hanya akan menjadi kegiatan seremonial tingkat kecamatan. LABUMI menargetkan kegiatan tersebut berkembang menjadi agenda budaya tahunan Kota Batu.
Menurutnya, kekayaan budaya lokal harus terus dijaga agar tidak terkikis perkembangan zaman.
“Budaya kita sangat banyak. Seiring perkembangan zaman, perlahan mulai tergerus. Tugas kita adalah mengangkat kembali agar anak cucu mengetahui warisan budaya yang kita miliki,” katanya.
Mulai Inventarisasi Budaya di Sembilan Desa
Sebagai bentuk pelestarian, LABUMI mulai melakukan pendataan seluruh potensi budaya yang ada di sembilan desa di Kecamatan Bumiaji. Data tersebut nantinya akan didokumentasikan dan dibukukan sebagai arsip budaya.
“Kita mendata budayanya apa saja, kapan dilaksanakan, mendokumentasikannya, lalu dibukukan. Harapannya menjadi warisan yang bisa dipelajari dan diteruskan oleh generasi mendatang,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Setiap desa memiliki tradisi dan cerita yang berbeda sehingga menjadi kekayaan budaya yang layak dipromosikan.
Didorong Masuk Agenda Pariwisata
LABUMI juga berharap kegiatan budaya serupa dapat berkembang di seluruh kecamatan di Kota Batu dan masuk dalam kalender pariwisata daerah.
Dengan demikian, tradisi yang tumbuh dari tingkat dusun, desa, hingga kecamatan dapat dipromosikan secara berkelanjutan sebagai daya tarik wisata budaya.
“Harapannya setiap kecamatan memiliki kegiatan serupa. Budaya dari dusun, desa, hingga kecamatan kemudian ditampilkan di tingkat kota, sehingga tetap hidup dan semakin dikenal masyarakat luas,” pungkasnya.
Keberhasilan penyelenggaraan Wilujengan Agung Suran ini diharapkan menjadi inspirasi bagi kecamatan lain di Kota Batu untuk terus menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan budaya lokal sebagai identitas daerah sekaligus potensi wisata.
Pewarta: Eko Sabdianto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































