BACAMALANG.COM – Saat ini, pertanian perkotaan atau Urban Farming (UF) muncul sebagai solusi inovatif untuk tantangan yang dihadapi oleh komunitas perkotaan. Melalui urban farming, ada peluang bagi masyarakat untuk memanfaatan ruang yang terbatas dari ketersediaan lahan yang sulit.
Fenomena ini dinilai dosen program studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ary Bakhtiar, SP.,M.Si, sebagai hal yang sangat positif.
Ia menyatakan, urban farming merupakan salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat perkotaan, dapat menjadi solusi yang cocok dengan menggunakan metode tanam sekam hidroponik dalam berbagai bentuknya.
“Urban farming juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat perkotaan. Hasil panen tidak hanya dapat dijual untuk mengurangi pengeluaran harian, tetapi juga dapat dikonsumsi sendiri,” ungkap Ary, Senin (19/2/2024).
Selain itu, imbuhnya, mayoritas tanaman yang ditanam adalah produk-produk pangan yang dibutuhkan sehari-hari, sehingga dapat menekan jumlah pengeluaran dengan mengalihkannya ke pos-pos pengeluaran lain.
Menurutnya, urban farming memberikan berbagai manfaat, termasuk peningkatan kualitas udara dengan penyerapan karbondioksida dan produksi oksigen melalui fotosintesis.

Dosen program studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ary Bakhtiar, SP.,M.Si. (ist)
Praktik pertanian organik dan manajemen limbah juga membantu mengurangi polusi air dan tanah.
Selain aspek lingkungan, pertanian perkotaan berperan dalam memperkuat komunitas dengan memfasilitasi interaksi berbagi pengetahuan dan membangun hubungan yang kuat.
“Dampak positif dari urban farming melibatkan aspek minimisasi berbagai hal. Misalnya meningkatnya edukasi masyarakat, terutama anak-anak yang senang bercocok tanam. Selain itu, urban farming dapat berfungsi sebagai sarana rekreasi keluarga,” ucapnya.
Dikatakan Ary, urban farming juga memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan keluarga.
Contohnya dengan melibatkan berbagai jenis tanaman dan ternak yang terintegrasi, seperti lele yang dapat diintegrasikan dengan bayam dan kangkung melalui budi daya dalam ember, urban farming dapat mendukung kebutuhan keluarga dalam berbagai aspek.
Namun ada sejumlah tantangan saat melakukan kegiatan urban farming. Beberapa diantaranya yakni keterbatasan lahan yang dapat diatasi dengan teknik pertanian vertikal dan atap.
Kualitas tanah yang terpengaruh oleh polutan dapat diatasi melalui penerapan pertanian organik dan manajemen limbah.
Ketergantungan pada pasokan air teratasi dengan teknik penghematan air seperti irigasi tetes dan penangkapan air hujan.
“Tantangan utama terberat dalam urban farming adalah konsistensi dalam niat, perencanaan, dan implementasi. Kegiatan ini memerlukan perawatan rutin, dan konsistensi dalam menjaga tanaman atau hewan menjadi tantangan. Terutama di tengah kesibukan masyarakat perkotaan,” tegasnya.
Penerapan teknologi, seperti hidroponik dan aeroponik, dapat meningkatkan efisiensi dan hasil produksi urban farming.
Penggunaan teknologi menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran bahwa bercocok tanam tidak selalu memerlukan lahan yang luas.
Ia berharap, masayarakat semakin sadar akan manfaatnya, karena urban farming menjadi salah satu upaya efektif untuk menekan biaya hidup dan mengembangkan perubahan positif dalam gaya hidup.
Ia mengatakan, bahwa urban farming memiliki potensi besar untuk terus berkembang di masa depan.
“Dengan inisiatif dan dukungan yang tepat, kegiatan urban farming dapat berkontribusi pada pembangunan perkotaan yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup penduduk, dan menciptakan lingkungan yang sehat serta menguatkan komunitas, khususnya melalui eksplorasi dan pengembangan praktik pertanian perkotaan yang inovatif, sehingga kita dapat mencapai visi perkotaan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” tandasnya mengakhiri.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki




















































