Sekar Jagad Panca Warna, Tegaskan Identitas Motif Batik Kota Malang Berbasis Kajian Akademik - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 22 Sep 2026 08:53 WIB ·

Sekar Jagad Panca Warna, Tegaskan Identitas Motif Batik Kota Malang Berbasis Kajian Akademik


 Asosiasi Perajin Batik Kota Malang saat Seminar Motif Batik Kota Malang “Sekar Jagad Panca Warna”, yang digelar Sabtu (19/9/2026) di Pinoa Coffee and Space, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang. (ist) Perbesar

Asosiasi Perajin Batik Kota Malang saat Seminar Motif Batik Kota Malang “Sekar Jagad Panca Warna”, yang digelar Sabtu (19/9/2026) di Pinoa Coffee and Space, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang. (ist)

BACAMALANG.COM – Upaya memperkuat identitas batik Kota Malang terus dilakukan melalui pengembangan motif yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga berpijak pada sejarah, tradisi, ruang, dan karakter masyarakat.

Asosiasi Perajin Batik Kota Malang mendorong lahirnya identitas baru motif batik Kota Malang melalui Seminar Motif Batik Kota Malang “Sekar Jagad Panca Warna”, yang digelar Sabtu (19/9/2026) di Pinoa Coffee and Space, Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang.

Seminar tersebut menjadi bagian dari proses penyusunan Naskah Akademik Motif Batik Kota Malang Sekar Jagad Panca Warna, yang mempertemukan perajin batik, akademisi, peneliti, Pemerintah Kota Malang, serta Dekranasda Kota Malang.

Hadir sebagai pemantik sekaligus tim penyusun naskah akademik, Isa Wahyudi, M.Psi., Satrya Paramananda, M.Hum., dan Yuharsita, MM.

Sementara itu, enam narasumber memberikan perspektif dari bidang seni, desain, penelitian batik, teknologi, pemerintahan, hingga pengembangan industri kerajinan. Mereka adalah Prof. Dr. Roby Hidajat, M.Sn., Dr. Agus Sunandar, Fitriana Puspita Dewi, S.S., M.Si., Ph.D., Dr. Ir. Agus Eko Minarno, S.Kom., M.Kom., IPM., Dian Likos Amalia, M.AB., serta Nabilla Febrina Dersanala, S.H., M.Kn.

Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Isa Wahyudi atau Ki Demang, menjelaskan bahwa Sekar Jagad Panca Warna dirancang sebagai representasi keberagaman Kota Malang yang disatukan dalam satu motif.

Menurut Ki Demang, istilah Sekar Jagad memiliki makna tentang aneka rupa keindahan yang terjalin menjadi satu dan melingkupi keseluruhan keindahan. Sekar Jagad juga sering dikaitkan dengan istilah kar jagad, yakni kar yang dimaknai sebagai peta dan jagad sebagai dunia.

“Sekar Jagad Panca Warna kita maknai sebagai jagad Kota Malang. Kota Malang memiliki lima kecamatan dengan karakter dan identitas masing-masing, yang kemudian kita hadirkan dalam satu kesatuan motif,” jelas Ki Demang, yang juga budayawan Kota Malang.

Lima wilayah tersebut direpresentasikan melalui lima warna, yakni hijau, merah, hitam, kuning, dan biru. Warna-warna tersebut mengambil inspirasi dari konsep bubur panca warna yang dalam tradisi masyarakat digunakan dalam berbagai ritual, seperti selamatan kelahiran, nyadran, ruwatan, maupun bersih desa.

“Panca warna ini bukan sekadar pilihan estetis. Warna tersebut mengambil inspirasi dari bubur panca warna yang sampai sekarang masih digunakan dalam berbagai tradisi masyarakat. Di tengah perubahan dan modernitas, tradisi tersebut masih hidup dan menjadi sumber inspirasi penciptaan motif,” ujar Ketua Pokdarwis Kota Malang ini.

Sekar Jagad Panca Warna yang dirancang sebagai representasi keberagaman Kota Malang yang disatukan dalam satu motif. (ist)

Selain warna, Sekar Jagad Panca Warna menggunakan isen-isen flora yang dikembangkan berdasarkan toponimi masing-masing wilayah kecamatan. Dengan demikian, motif tersebut tidak hanya menjadi ornamen dekoratif, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan ruang, sejarah, serta identitas Kota Malang.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Malang, Nabilla Febrina Dersanala, memberikan apresiasi terhadap upaya Asosiasi Perajin Batik Kota Malang yang mengembangkan motif baru melalui proses kajian ilmiah.

Menurutnya, penyusunan naskah akademik menjadi langkah penting agar motif yang dihasilkan tidak sekadar hadir sebagai desain baru, tetapi memiliki dasar pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami mengapresiasi para perajin batik Kota Malang yang meluncurkan motif Sekar Jagad Panca Warna melalui kajian ilmiah. Kami akan mendukung proses pengusulan HAKI agar Sekar Jagad Panca Warna dapat menjadi khazanah baru motif batik Kota Malang dan diterima oleh seluruh masyarakat Kota Malang,” ungkap Nabilla.

Dukungan tersebut membuka peluang agar Sekar Jagad Panca Warna tidak berhenti pada peluncuran, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari identitas batik Kota Malang.

Sedangkan Dr. Agus Eko Minarno juga mengapresiasi penyusunan Naskah Akademik Motif Batik Kota Malang Sekar Jagad Panca Warna. Menurutnya, naskah tersebut memiliki potensi menjadi salah satu rujukan atau pakem karena memuat pertimbangan filosofis, sosiologis, dan yuridis.

“Naskah akademik ini bisa menjadi pakem karena mengandung nilai filosofis, sosiologis, dan yuridis. Tetapi ke depan jangan berhenti pada naskah akademik saja. Motif ini perlu terus dikembangkan menjadi kajian akademik yang lebih luas sehingga dapat memotivasi para perajin untuk terus berinovasi,” ujar Agus.

Dengan demikian, Sekar Jagad Panca Warna diposisikan bukan sebagai motif yang selesai setelah ditetapkan, melainkan sebagai ruang pengembangan kreatif yang dapat terus dieksplorasi oleh perajin dan desainer.

Sementara itu, dukungan terhadap pengembangan motif juga datang dari Dian Likos Amalia, Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Kota Malang.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya untuk mempercepat peningkatan kapasitas produksi perajin batik Kota Malang, antara lain melalui pembentukan sentra batik di Bunul, Sukun, dan Sawojajar.

“Upaya percepatan dan peningkatan kapasitas produksi perajin batik Kota Malang telah kami fasilitasi melalui pembentukan tiga sentra batik, yaitu Bunul, Sukun, dan Sawojajar,” jelas Dian.

Menurutnya, penciptaan motif baru juga penting untuk memperkuat ekosistem batik Kota Malang.

“Dengan adanya penciptaan motif-motif baru seperti Sekar Jagad Panca Warna, ini bisa menjadi referensi bagi masyarakat. Orang Malang tidak lagi kebingungan mencari motif yang merepresentasikan Kota Malang,” tandas pemilik sekaligus perancang busana di balik label mode bernama Lycoz ini.

Di sisi lain, Fitriana Puspita Dewi, peneliti batik dari Universitas Brawijaya yang juga terlibat dalam penyusunan direktori motif melalui Batikpedia.com, memberikan perspektif mengenai perkembangan batik di tengah perubahan zaman.

Ia menjelaskan bahwa batik memiliki fungsi yang luas dalam kehidupan masyarakat.

“Batik adalah wastra yang digunakan untuk ritual, ceremonial, dan fashion,” jelas Fitriana.

Menurutnya, tantangan batik saat ini adalah bagaimana mempertahankan identitas sekaligus mengikuti perkembangan selera dan ekspresi kontemporer.

“Bagaimana batik mengikuti perkembangan kontemporer? Tidak semuanya harus selalu berangkat dari filosofi. Sejauh mata memandang, lingkungan dan berbagai hal di sekitar kita dapat menjadi sumber inspirasi,” ujarnya.

Fitriana juga menyoroti persoalan harga dan akses masyarakat terhadap batik. Menurutnya, harga batik berkaitan dengan bahan baku, proses produksi, tingkat kerumitan pengerjaan, hingga narasi yang melekat pada sebuah karya.

“Batik selama ini sering terkesan mahal karena bahan baku dan proses pembatikannya melalui berbagai tahapan. Harga juga berkaitan dengan filosofi dan storytelling yang menyertainya. Karena itu, tantangannya adalah bagaimana batik tetap memiliki nilai tetapi juga dapat menjangkau masyarakat,” ungkapnya.

Seminar Sekar Jagad Panca Warna menunjukkan bahwa pengembangan motif batik Kota Malang tidak hanya menjadi persoalan estetika. Motif juga berkaitan dengan identitas kota, sejarah, tradisi, toponimi, ritual masyarakat, industri kreatif, perlindungan kekayaan intelektual, serta keberlanjutan ekonomi para perajin.

Kehadiran akademisi, peneliti, pemerintah, Dekranasda, dan komunitas perajin dalam forum tersebut menjadi bagian dari proses membangun landasan bersama bagi pengembangan batik Kota Malang.

Sekar Jagad Panca Warna kemudian diproyeksikan sebagai motif yang mempertemukan keragaman lima wilayah Kota Malang dalam satu kesatuan visual, sekaligus menghubungkan warisan tradisi dengan kebutuhan kreativitas dan industri batik masa kini.

Penyusunan Naskah Akademik diharapkan menjadi langkah awal menuju dokumentasi, pengembangan, perlindungan kekayaan intelektual, serta pemanfaatan motif Sekar Jagad Panca Warna secara lebih luas oleh masyarakat dan pelaku industri batik Kota Malang.

Motif tersebut dijadwalkan diluncurkan dalam Festival Batik Kota Malang pada 4 Oktober 2026 di Alun-Alun Malang.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Sound Horeg Disorot, Puluhan Pengasuh Pesantren di Malang Raya Dorong Kepatuhan pada Hukum dan Perundangan

22 September 2026 - 11:30 WIB

UB Kukuhkan Lima Profesor, Hadirkan Gagasan Baru dari Pertanian Berkelanjutan hingga Dekolonisasi Pengetahuan

22 September 2026 - 08:26 WIB

Bantur Deklarasikan KENCANA, Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Potensi Bencana

22 September 2026 - 07:53 WIB

Adu Banteng di Jatiguwi, Ibu dan Anak Tewas dalam Kecelakaan Maut

22 September 2026 - 07:49 WIB

Gembleng Calon Pemimpin Bangsa, Ribuan Peserta Padati Kemah Santri Muhammadiyah di Coban Rondo

21 September 2026 - 20:41 WIB

Ibu-Ibu PKK Candirenggo Dibekali Ilmu Pertolongan Pertama Korban Kecelakaan

21 September 2026 - 19:55 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !