Jelang Pelantikan Prabowo-Gibran, Dosen FISIP UB: Jangan Sampai Blunder Komunikasi - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 18 Okt 2024 22:52 WIB ·

Jelang Pelantikan Prabowo-Gibran, Dosen FISIP UB: Jangan Sampai Blunder Komunikasi


 Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Dr Verdy Firmantoro S.I.Kom., M.I.Kom. (ist) Perbesar

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Dr Verdy Firmantoro S.I.Kom., M.I.Kom. (ist)

BACAMALANG.COM – Pemerintahan di Indonesia akan mengawali babak baru dengan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang akan dilakukan pada 20 Oktober 2024.

Pergantian tampuk pimpinan tertinggi di NKRI ini mendapat sorotan dari dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB, Dr Verdy Firmantoro S.I.Kom., M.I.Kom.

Salah satunya adalah pemerintahan baru harus melakukan komunikasi yang lebih integratif.

“Pemerintahan ke depan itu mampu membangun yang namanya komunikasi yang lebih integratif. Kita tahu bahwa komunikasi selama ini banyak yang menganggap bahwa semuanya adalah representasi pemerintah,” jelasnya, Jumat (18/10/2024).

Pria yang menamatkan studi S1 dan S2 di FISIP UB ini menilai, jika semua menjadi representasi pemerintah dan komunikasinya tidak satu, tidak terintegrasi, maka berpotensi justru akan mengarah yang disebut dengan blunder komunikasi.

“Bahkan juga nanti yang menciptakan yang namanya chaos karena perbedaan-perbedaan komunikasi yang tentunya beragam di pemerintahan,” jelas pria kelahiran Lumajang ini.

Verdy juga mengingatkan keberadaan undang-undang perlindungan data pribadi yang harusnya menjadi payung bagi masyarakat untuk memberikan kontribusi.

“Bukan malah UU tersebut menjadi jeratan-jeratan yang sifatnya itu membuat mereka ketakutan atau kekhawatiran itu lebih besar,” sambung Verdy.

Bagi Doktor lulusan Universitas Indonesia ini, bukan tanpa alasan saran-saran itu ia paparkan.

“Sebab, saat pemerintahan Presiden Jokowi ada beberapa catatan kritis yang berkaitan dengan kebijakan di bidang komunikasi dan akan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintahan mendatang,” ujar pria yang sempat menjadi pemuda pelopor naskah kuno nusantara ini.

Menurut Verdy, pada masa pemerintahan Jokowi ada 4 permasalahan yang terjadi terkait bidang komunikasi.

“Pertama persoalan blunder komunikasi terutama yang berkaitan dengan isu-isu krusial salah satunya saat terjadi pandemi Covid-19, di mana kita tahu bagaimana selama pandemi cukup banyak terjadi proses atau blunder komunikasi ini. Dan ini juga bisa menjadi refleksi untuk pemerintahan ke depan meskipun belum tentu akan menghadapi situasi yang sama,” urainya.

Ibu Kota Nusantara (IKN), juga menjadi sorotan Verdy terkait kegagalan pemerintahan dalam mengkomunikasikan sejumlah kebijakan.

“Seperti omnibus law, adanya proyek IKN juga cukup menimbulkan perbincangan di masyarakat. Mungkin project-nya sudah berjalan, undang-undangnya sudah disahkan, tetapi masih menyisakan diskursus di ruang publik dan ini tentu PR bagi pemerintah baru untuk kemudian bagaimana komunikasi kebijakan ini tetap diterima oleh masyarakat,” paparnya.

Verdy juga menilai pemerintahan saat ini terlalu defensif terhadap kritik. Karena itulah, ia menyarankan pemerintah selanjutnya harus lebih dialogis.

“Dengan dialogis itu bisa membuat bagaimana kritik bisa menjadi energi bagi pemerintah terkait dengan kritik yang sifatnya konstruktif,” tegasnya.

Terakhir menurut Verdy, selama pemerintahan Jokowi banyak terjadi persoalan miskomunikasi, misinformasi terutama dalam penyebaran informasi di ruang digital dan media sosial.

“Meningkatnya hoaks saya kira juga menjadi isu yang kemarin cukup kewalahan direspon oleh pemerintah. Dan ini juga menjadi pekerjaan rumah pemerintahan selanjutnya,” ucap ayah satu anak ini.

Verdy menegaskan, bahwa catatan tersebut tidak hanya sebagai bagian dari refleksi kritis di dalam konteks komunikasi tapi bagian dari masalah terkait dengan kebijakan pemerintah maupun berbagai hal, yang juga ditentukan oleh sejauh mana pemerintah mampu menggunakan komunikasi dengan cara yang baik.

“Dengan yang cara yang efektif dan dengan cara yang tentunya bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan masyarakat,” tutupnya.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 85 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Gebyar Muharam IPNU-IPPNU Gondanglegi Kulon, Santuni Anak Yatim hingga Bermain Bersama di Sobbo Tirto

29 Juni 2026 - 05:54 WIB

Seminar Hidup Ginjal Muda: Akses Vaskular, Gizi, hingga Kisah Inspiratif Pasien Hemodialisis 24 Tahun

28 Juni 2026 - 22:04 WIB

Seminar Edukasi Komunitas Hidup Ginjal Muda: Tingkatkan Pengetahuan tentang AV-Shunt, Gizi, dan Manajemen Cairan bagi Pasien Gagal Ginjal Kronis

28 Juni 2026 - 19:52 WIB

DPC PPP Kota Malang Gaspol Siap Jalankan Tugas Elektoral Usai Terima SK dari DPW Jatim

28 Juni 2026 - 11:14 WIB

Rem Mendadak di Lawang Berujung Tabrakan Beruntun, Empat Orang Dilarikan ke RSUD

28 Juni 2026 - 07:45 WIB

Peringati Hari Bhayangkara ke-80, Polres Batu Gelar Kapolres Cup 9 Ball Tournament Berhadiah Rp5 Juta

28 Juni 2026 - 07:39 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !