Lagu Dewi Gita dan Ozy Syahputra Dirilis Ulang dalam Format Dolby Atmos - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 25 Sep 2021 22:17 WIB ·

Lagu Dewi Gita dan Ozy Syahputra Dirilis Ulang dalam Format Dolby Atmos


 Lagu Dewi Gita dan Ozy Syahputra Dirilis Ulang dalam Format Dolby Atmos Perbesar

BACAMALANG.COM – Teknologi suara kitar Dolby Atmos pertama kali diperkenalkan oleh Dolby Laboratories pada tahun 2012. Meskipun pada awalnya teknologi audio tersebut diaplikasikan untuk bioskop, namun format audio tersebut juga memberi sensasi tersendiri ketika digunakan pada lagu.

Sebagai sejarah baru di industri musik Tanah Air, Musisi legendaris Chossypratama merilis ulang 2 karya lagunya yang berjudul Penari (Dewi Gita) dan Sungguh (Ozy Syahputra) ke dalam format Dolby Atmos 7.4.1 Surround Sound. Dua lagu tersebut menjadi lagu pop pertama di Indonesia dalam format Dolby Atmos, dirilis pada Sabtu, 25 September 2021 pada platform musik digital.

Lagu Sungguh, dan Penari adalah dua lagu popular di Indonesia. Chossypratama saat ini mulai mengerjakan karya-karya lagu popularnya untuk dijadikan Dolby Atmos, seperti dikatakan Chossypratama saat diwawancarai pada Sabtu (25/9/2021).

Chossypratama menjelaskan, Dolby Atmos merupakan immersive audio yang patentnya dimiliki oleh Dolby Laboratories. Secara awam, Dolby Atmos adalah audio yang kita dengar melalui speaker yang lebih dari 2 (stereo), dan terpasang tidak di satu planar horisontal, tapi juga ada speaker yang terpasang dari depan sampai ke belakang, serta di atas kepala pendengarnya. Dolby Atmos 7.1.4 Surround Sound mengacu pada 7 buah speaker yang terpasang secara horisontal, 3 di depan, 2 di samping, 2 di belakang, 1 buah subwoofer yang terpasang di lantai, dan 4 buah speaker di langit-langit atas kepala kita.

Seperti dikatakan Chossypratama, surround sound bukan hanya Dolby, masih ada DTS, Franhaufer, Auro, dan lainnya. Tapi Dolby Atmos mempunyai binaural hearing yang menghasilkan surround sound, hanya dengan sebuah headphone streaming akan menjadi new norm untuk tontonan.

Lebih lanjut Chossypratama mengatakan, Disney Channel saja mulai menutup semua cable services-nya, dan kita akan mulai bisa menonton di streaming, dan pastinya semua akan mengarah pada gadget, pastinya handphone. Dengan adanya Dolby Atmos, siapapun akan bisa menonton film-film layar lebar dengan surround sound 3D melalui headphone. Jadi surround sound bisa dinikmati oleh siapa saja.

Chossypratama mengatakan, ia melihat kesiapan masyarakat dalam menerima lagu dalam format Dolby Atmos dari sisi streaming gratis dan berbayar. Para penikmat lagu dari streaming berbayar akan mendengar audio dengan kualitas yang lebih baik daripada yang gratis. Secara teknis, bit rate-nya pada streaming berbayar lebih tinggi, sehingga sound-nya lebih jernih.

“Seperti format-format lagu sebelumya; pita, kaset, cd, mp3, digital streaming, adaptasi orang dalam menggunakan teknologi baru pasti butuh waktu, tapi akhirnya semua toh bergulir ke arah teknologi terkini, jadi Dolby Atmos pun akan menjadi alternatif dalam menikmati sound,” kata Chossypratama.

Chossypratama memprediksi, stereo akan tetap bersama kita untuk waktu yang masih lama. Dolby Atmos adalah format jualan, bukan format produksi, jadi stereo saat ini masih tetap menjadi acuan bagi para musisi dalam memproduksi lagu-lagu baru. Meskipun begitu, Dolby Atmos merupakan pendamping, alternatif selain stereo.

“Jadi para komposer, musisi, masih tetap akan merekam lagunya dalam format stereo, hanya finishing-nya akan ada dua format, stereo dan Dolby Atmos. Saat ini, Dolby Atmos lebih dibuat untuk lagu-lagu yang sudah populer, dan produksi Dolby Atmos juga masih mahal, dikarenakan perangkat keras dan lunak untuk studio masih terbilang tinggi secara harga,” kata Chossypratama.

Menurut Chossypratama, Dolby Atmos belum jadi format utama, terutama bagi pelaku musik. Stereo tetap akan bertahan, Dolby Atmos masih tetap jadi format penyerta atau format alternatif.

“Memang saat ini baru Tidal, Amazon Music, dan Apple Music yang support Dolby Atmos. Dolby Atmos butuh bandwidth yang lebih besar dari stereo, dan kalaupun datanya di-encode, butuh algorythm yang khusus untuk decode-nya. Tapi nantinya semua Digital Service Provider juga akan melayani Dolby Atmos,” kata Chossypratama.

Pada kesempatan yang sama, Rulli Aryanto, Direktur Chossy Pratama Production mengatakan, Chossy Pratama Production sudah biasa memproduksi lagu-lagu dalam format Dolby Atmos. Chossy Pratama Production siap melayani label musik dan manajemen artis yang ingin tanya-tanya Dolby Atmos serta memproduksikannya. (Fad)

Artikel ini telah dibaca 66 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

“Ngleremno Ati” Akan Digelar, Ruang Bunyi dan Jagongan Seni ala Kelompok Bermain Mlebu Metu

5 Mei 2026 - 16:53 WIB

Kelompok Penyanyi Jalanan dari Berbagai Daerah Bersatu di Bulungan, Rayakan Ulang Tahun ke-44

3 Mei 2026 - 01:06 WIB

Malang Youth Day 2026: Pentas Seni Lintas Agama di HKY Kayutangan, Gaungkan Moderasi dan Peran Aktif Anak Muda

30 April 2026 - 11:10 WIB

Kompak dan Berdaya, Emak-Emak PKH Pakisaji Perkuat Kapasitas Lewat “Belajar Bareng, Seneng Bareng”

27 April 2026 - 17:42 WIB

“Kartini Aero Smash” Jadi Ajang Unjuk Gigi Atlet Perempuan Malang Raya

26 April 2026 - 21:51 WIB

SKARIGA Merjos Lari 112: 1.800 Siswa Gaungkan Gerakan Anti Plastik dan Semarakkan HUT Kota Malang

25 April 2026 - 21:11 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !