LATO LATO, Lintang Kemukus, Anggar, dan Ethek ethek

Dr. Riyanto M.Hum. (ist)

Oleh: Dr Riyanto M.Hum*

Budaya sarat dengan tanda dan lambang. Suasana sumuk, tanda akan turun hujan. Panas terik, menerpa lautan, menguap, bergulung awan, hujan segera tiba. Ada hubungan alamiah antara panas dan rasa sumuk.

Masyarakat geger dengan munculnya “lintang kemukus”. Anak-anak, bermain Anggar dari bambu dan kayu.

Beberapa sa’at kemudian pecah Gestapu. Lintang Kemukus dan anggar lambang akan terjadi pertumpahan darah.

Lambang sering dihubungkan dengan ramalan dan tembang kiasan.
Akan ada orang gila sepanjang jalan, “wong edan sak dalan-dalan”.

Kalau bentuk gila itu ngomel sendirian, bisa jadi pengguna HP itulah si gila sepanjang jalan.

Bagaimana dengan ethek ethek ?
Tahun politik 2023 sudah terbuka.
Suasana sumuk sudah mulai terasa.
Demontrasi berjilid-jilid tanpa diketahui tujuannya. Hujatan tercecer dimana-mana.

Akankah itu seperti mendung tanpa udan, “udan siremeni ? Suara hujan yang tidak pernah jatuh airnya. Ki dalang bercerita, lambang akan pecah perang besar Bharatayudha.

“Apakah Aswatama meninggal ?, resi Drona bertanya. Puntadewa menjawab, “benar, Aswatama meninggal !!

Kesetanan Resi Drona maju perang. Dalam istirahatnya, lawan mengayunkan pedang. Resi Drona gugur dalam palagan Kurusetra.
Gajah Aswatama memang mati, tapi bukan anaknya.

Ethek-ethek semoga bukan lambang masyarakat dibentur-benturkan. Bukan suara yang salah ditafsirkan.
Ethek-ethek hanyalah hiburan untuk masyarakat yang bingung dalam kehidupan.

*) Penulis: Dr Riyanto M.Hum, Budayawan yang juga Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Malang.

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian dari BacaMalang.com