Mahasiswa PTN di Jatim Terpapar Terorisme, Ken Setiawan: Berafiliasi Jaringan Internasional

Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan. (ist)

BACAMALANG.COM – Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan mengatakan bahwa ada beberapa mahasiswa di PTN Jawa Timur terpapar jaringan radikalisme dan terorisme lewat media sosial.

“Salah satu keluarga yang melapor ke NII Crisis Center (sebut saja Keluarga Putra) mengatakan, kalau kerabatnya terpapar terkait jaringan internasional, awalnya hanya membid’ahkan keluarga, tapi lama-kelamaan semua orang dikafirkan, termasuk negara dianggap taghut. Jadi paham awalnya adalah NII dan Salafi Wahabi,” tandas Ken, Rabu (18/1/2023).

Ia mengatakan kerabatnya yang terpapar juga ngotot akan menikahi salah satu keluarga mantan teroris.

Menurut Ken, memang tidak semua mantan atau eks napiter teroris itu insyaf dan kembali ke NKRI, ada yang masih kuat pemahamannya sehingga berpotensi melakukan aksi teror lagi seperti kasus bom di Polsek Astana Anyar Bandung beberapa waktu yang lalu.

Kasus Bom di Astana Anyar pelakunya adalah Agus Sujatno, Mantan NII yang bergabung di kelompok JAD

Agus Sujatno merupakan, eks napi terorisme yang baru bebas dari Lapas Kelas IIA Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah pada Oktober 2021 lalu, dipenjara selama empat tahun karena terlibat aksi teror bom panci di Kelurahan Arjunan, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada tahun 2017.

Ken menuturkan paham radikalisme dan terorisme itu seperti virus yang bisa menimpa siapa saja, tidak pandang usia, pendidikan dan profesi, orang yang terpapar akan menjadi bodoh mendadak karena biasanya taqlid buta pada pimpinannya.

“Hukum kita juga masih lemah terkait terorisme, beda dengan negara tetangga seperti Malaysia yang undang-undang anti teror dapat menahan orang yang terlibat jaringan teroris tanpa proses persidangan selama dua tahun,” tegas Ken.

Jika setelah masa penahanan dua tahun ternyata belum berubah maka kemudian bisa diperpanjang sampai beberapa kali.

“Hal ini berbeda dengan di Indonesia, jika masa tahanan selesai, maka dia bebas dan bisa kembali ke masyarakat walaupun paham pemikirannya belum berubah. Dia hanya bisa ditangkap lagi jika kembali melakukan tindakan terorisme,” pungkasnya. (*/had)