Oleh : M. Dwi Cahyono*
Telah cukup lama tidak bertandang ke Museum Singhasari. Padahal, lebih 10 tahun lalu saya dan sejumlah kawan turut terlibat perintisan Museum Daerah di Kabupaten Malang hingga peletakan batu pertama di suatu areal yang kini berdiri bangunan museum. Kala itu, kami menghelat agenda budaya tahunan, yakni “Grebeg Singhasari”, bersama Dinas Pariwisata dan Perhubungan Kabupaten Malang. . Sebagai salah seorang yang turut menginisiasi museum ini, maka saya pun tergerak hati untuk dapat sumbangkan fikir serta tenaga (asal bukan dana) untuk menguatkan dan memakmurkan Museum Singhasari.
Syukurlah, pada akhirnya terbangun gedung museum dengan halaman yang cukup memadai untuk ukuran Museum Daerah. Perihal benda koleksi dan tata pamer, tahap demi tahap terdapat ikhtiar untuk mengisi konten, dengan spesifikasi “jejak budaya pada era Tumapel (Singhasari) beserta tradisinya di era Majapahit”, khususnya yang berada di wilayah amat luas Kabupaten Malang. Perihal tata pamernya, mestilah lebih berbenah, supaya kandungan informasi budaya yang berada di balik artefak koleksi museum lebih komunikatif bagi pengunjung museum, khususnya generasi muda. Museum ini bisa dikemas sebagai wahana “edu-kultural”, dan menjadi pusat informasi budaya Singhasari.
Cukup menggembiran, para awak museum, yang dikomandani oleh Yossy Indra dan beberapa staf muda terlihat memiliki pashoin budaya dan sejarah. Secara khusus, saya berharap temu dengan Bangkit Marhensra, salah satu awak museum, yang adalah putra rekan, yaitu almarhum Hari Sasongko (mantan Ketua DPRD dan anggota DPRD Malang beberapa periode) yang kepeduliannya terhadap sejarah dan budaya Malang tak saya ragukan.
Bersama Restu Respati, kami pun berbincang lama dengan para awak Museum Singhasari, yang ternyata” merespon positif” isu kultural monemental tahun ini (2022), yang bertepatan dengan “800 Tahun Singhasari (1222-2022)”. Paling tidak, pada Oktober 2022 kami mengancang helat serangkaian giat budaya dalam rangka peringatan momentum historis Kerajaan Singhasari (Tumapel). Kami pun berharap, Pemkab Malang bakal berkenan untuk meng-insert-kan tema “800 Tahung Singhasari” itu sebagai “tema khusus” pada peringatan “Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1260 pada November 2022 mendatang.
Tentu, kesertaan para sahabat peduli budaya, baik perorangan, komunitas ataupun lintas institusi (negeri dan swasta) untuk bersama-sama mengeroyok perhelatan budaya monumental yang bertajuk “800 Tahun Singhasari” tersebut amat diharap. Semoga pula Pemprov Jawa Timur cq Disparbud Provinsi dan Dirjenbud RI berkenaan pula untuk turut merealisasikannya. Kiranya boleh ngiri bahwa di tahun 1993 lalu dihelat momentum “700 Tahun Majapahit oleh Dirjenbud dan Pemprov. Jatim, mengapa tidak dengan “800 Tahun Singhasari” di tahun 2022 ini?
Ujung-ujungnya, dalam kunjungan silaturohmi ke Museum Singhasari hari ini, saya “ditodong” untuk membuat “Konten YouTube” tiga sesi. Saya pun tak kuasa untuk menolaknya, karena sudah telanjur disuguhi kopi dan rujak cingur, he he he. Tunggu waktu tayang dari video-video tersebut. Nuwun.
Sangkaling, 11 Agustus 2022
Griyajar CITRALEKHA
*Arkeolog dan Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono.
*Isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya penulis.





















































