NGOPI SAM FSTeM UB Bahas Hilirisasi Teknologi Hayati untuk Pertanian Berkelanjutan serta Pemanfaatkan Mikroorganisme dan bioteknologi untuk Produk Bernilai Tambah - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 23 Sep 2026 10:33 WIB ·

NGOPI SAM FSTeM UB Bahas Hilirisasi Teknologi Hayati untuk Pertanian Berkelanjutan serta Pemanfaatkan Mikroorganisme dan bioteknologi untuk Produk Bernilai Tambah


 Guru Besar Departemen Biologi FSTeM UB, Prof. Amin Setyo Leksono,(kanan) dan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Rekayasa Genetika Farida Rahayu Ph.D. sebagai narasumber dalam NGOPI SAM FSTeM UB, Jumat (11/9/2026). (ist) Perbesar

Guru Besar Departemen Biologi FSTeM UB, Prof. Amin Setyo Leksono,(kanan) dan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Rekayasa Genetika Farida Rahayu Ph.D. sebagai narasumber dalam NGOPI SAM FSTeM UB, Jumat (11/9/2026). (ist)

BACAMALANG.COM – Inovasi pupuk organik cair dan pemanfaatan teknologi hayati menjadi salah satu bahasan dalam forum NGOPI SAM (Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media) yang digelar Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brwajaya (UB).

Memasuki edisi kedua tahun 2026, forum yang digagas Ikatan Alumni FSTeM UB sebagai ruang dialog yang mempertemukan akademisi, alumni, dan media ini berlangsung Jumat (18/9/2026), menghadirkan Guru Besar Departemen Biologi FSTeM UB, Prof. Amin Setyo Leksono, dan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Rekayasa Genetika Farida Rahayu Ph.D. sebagai narasumber.

Prof. Amin Setyo Leksono memaparkan hasil penelitian yang dikembangkan bersama timnya mengenai inovasi pupuk organik cair (POC) dan pupuk hayati cair (PHC).

Menurut Prof. Amin, POC dan PHC dapat digunakan bersama pupuk organik padat seperti kompos, dan dalam kondisi tertentu juga dapat dikombinasikan dengan pupuk sintetis.

“Perbedaan POC dan PHC terutama terletak pada komponen utama penyusunnya. POC berasal dari hasil penguraian bahan organik, antara lain kompos, guano, serta limbah buah dan sayuran. Sementara PHC memanfaatkan mikroorganisme hidup yang memiliki fungsi menguntungkan,” jelasnya.

POC berperan menyediakan unsur hara dan bahan organik sekaligus mendukung kondisi tanah dan tanaman. Sementara PHC memanfaatkan aktivitas mikroba untuk meningkatkan ketersediaan atau pemanfaatan hara serta mendukung kesehatan tanaman.

Menurutnya, kebutuhan terhadap pupuk organik, khususnya pupuk organik cair, masih cukup tinggi, termasuk di Jawa Timur. Kondisi tersebut sejalan dengan dorongan menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Pemanfaatan pupuk organik menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi ketergantungan terhadap input sintetis sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan tanah dan tanaman.

“Dibandingkan pupuk sintetis, pupuk organik cair memiliki peluang pengembangan yang fleksibel. Formulasinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan, termasuk dengan memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan,” tambahnya.

Pendekatan tersebut juga berpotensi mendukung prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah organik. Selain itu, pupuk organik cair dapat dikombinasikan dengan mikroorganisme tertentu untuk menghasilkan input pertanian dengan fungsi yang lebih terintegrasi.

Salah satu inovasi yang dikembangkan Prof. Amin bersama tim adalah pengayaan pupuk organik cair dengan agen hayati.

Dalam pengembangannya, tim memanfaatkan mikroorganisme seperti Beauveria bassiana dan Streptomyces sp. sebagai bagian dari formulasi teknologi hayati.

Beauveria bassiana merupakan salah satu cendawan entomopatogen yang dapat menginfeksi berbagai jenis serangga hama. Sementara kelompok Streptomyces memiliki potensi dalam pengembangan teknologi pengendalian hayati karena sejumlah spesiesnya menghasilkan senyawa bioaktif dan memiliki aktivitas antagonistik terhadap organisme tertentu.

Penggabungan komponen organik dengan agen hayati tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk menghasilkan input pertanian yang lebih terintegrasi.

Teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan tanaman secara lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia sintetis secara berlebihan.

Inovasi yang dikembangkan Prof. Amin tidak berhenti pada tahap penelitian. Hasil riset tersebut juga diarahkan menuju proses hilirisasi agar dapat dimanfaatkan dalam skala yang lebih luas.

Untuk mewujudkan pemanfaatan teknologi tersebut, Prof. Amin bersama tim menjalin kemitraan dengan dunia industri, salah satunya PT SHIMA di Tulungagung, dalam pengembangan dan produksi pupuk organik cair skala industri.

Kemitraan antara perguruan tinggi dan industri menjadi bagian penting dalam proses transformasi hasil penelitian menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Bagi petani, hilirisasi inovasi tersebut diharapkan dapat menyediakan alternatif input pertanian yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan budidaya. Pemanfaatan bahan organik juga berpotensi mengurangi limbah yang dapat mencemari lingkungan sekaligus mendukung produktivitas pertanian.

Bagi Universitas Brawijaya, pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi hasil riset. Kerja sama dengan industri juga membuka peluang pemanfaatan kekayaan intelektual dan paten hasil penelitian sehingga memberikan nilai tambah secara akademik maupun ekonomi.

Sementara bagi mitra industri, kolaborasi dengan perguruan tinggi membuka peluang pengembangan produk berbasis penelitian yang dikembangkan melalui proses riset dan pengujian.

Ke depan, Prof. Amin juga berencana mengembangkan inovasi pupuk organik cair berbasis nanomaterial vermikompos.

Vermikompos merupakan produk pengolahan bahan organik dengan bantuan cacing yang menghasilkan material kaya bahan organik dan unsur hara. Pengembangan menuju material berukuran lebih kecil diharapkan dapat meningkatkan karakteristik dan ketersediaan komponen tertentu sehingga lebih mudah dimanfaatkan dalam formulasi pupuk.

Konsep tersebut menjadi salah satu arah pengembangan teknologi pupuk yang mengintegrasikan prinsip bioteknologi, nanoteknologi, dan pertanian berkelanjutan.

Menurut Prof. Amin, pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat menghasilkan pupuk dengan karakteristik yang lebih sesuai untuk mendukung efisiensi pemanfaatan unsur hara oleh tanaman.

Inovasi tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana penelitian di perguruan tinggi dapat terus dikembangkan dari skala laboratorium menuju teknologi yang memiliki potensi penerapan lebih luas.

Sementara itu, Farida Rahayu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Rekayasa Genetika, memaparkan sejumlah riset yang memanfaatkan mikroorganisme dan bioteknologi untuk menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus menjawab berbagai persoalan lingkungan.

Lulusan S1 Biologi FMIPA UB, S2 Fakultas Teknologi Pertanian UB, dan doktoral Molecular Biotechnology di Hiroshima University, Jepang, tersebut menekuni bidang bioteknologi molekuler, mikrobiologi, rekayasa genetika, dan bioproses.

Salah satu riset yang dikembangkan Farida adalah glutation, senyawa antioksidan yang berpotensi dimanfaatkan dalam bidang pangan dan bioteknologi. Ia juga mengembangkan microbial biostimulant untuk membantu pemulihan lahan perkebunan pisang yang terdampak penyakit layu Fusarium.

Riset lainnya diarahkan pada pengembangan bakteri lokal untuk produksi bioetanol berbasis biomassa. Pengembangan tersebut juga telah menghasilkan paten terkait desain plasmid DNA untuk bioetanol generasi kedua.

Di bidang lingkungan, Farida mengembangkan potensi bakteri untuk bioremediasi, terutama dalam membantu mengurangi pencemaran logam berat serta menangani limbah tekstil, farmasi, rumah sakit, maupun limbah domestik.

Beragam riset tersebut menunjukkan bagaimana mikroorganisme dapat dikembangkan menjadi teknologi yang tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga berpotensi diterapkan pada berbagai sektor, mulai dari pertanian, energi, industri, hingga lingkungan.

Kehadiran Farida dalam forum NGOPI SAM sekaligus memperlihatkan luasnya spektrum riset FSteM UB, dari pengembangan teknologi hayati untuk pertanian hingga pemanfaatan mikroorganisme dalam menjawab persoalan lingkungan dan kebutuhan industri.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Budaya Sekolah Aman Diperkuat, Pemkab Malang Libatkan Lintas Sektor

23 September 2026 - 11:39 WIB

Pipa Bocor di Palaan Rampung Diperbaiki, Aliran Air Pelanggan Kepanjen Kembali Normal

23 September 2026 - 05:39 WIB

37 KK Dusun Gerdu Akhirnya Kantongi Akta Hibah, Perjuangan Puluhan Tahun Berbuah Lega

22 September 2026 - 20:56 WIB

HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71, Satlantas Polresta Malang Kota Gandeng Ojol Bangun Keselamatan Berlalu Lintas

22 September 2026 - 16:23 WIB

Kebakaran Tiga Ruko di Jalan Raya Tidar Malang, Satu Penjaga Toko Tewas

22 September 2026 - 15:28 WIB

Ketua Komisi E DPRD Jatim Dr Sri Untari Tampung Aspirasi Guru Olahraga, dari Jam Mengajar hingga Kompetisi

22 September 2026 - 15:02 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !