Santri PPI-AMF Sulap Limbah Bonggol Jagung Jadi Penyerap Polusi Udara, Raih Perak di Olympicad VIII Makassar - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 6 Mar 2026 17:24 WIB ·

Santri PPI-AMF Sulap Limbah Bonggol Jagung Jadi Penyerap Polusi Udara, Raih Perak di Olympicad VIII Makassar


 Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim, tim inovator yang mengembangkan solusi peningkatan kualitas udara berbahan bonggol jagung. (ist) Perbesar

Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim, tim inovator yang mengembangkan solusi peningkatan kualitas udara berbahan bonggol jagung. (ist)

BACAMALANG.COM – Inovasi berbasis limbah pertanian kembali lahir dari kalangan santri. Tiga siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) berhasil menciptakan produk ramah lingkungan dari bonggol jagung yang mampu meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Inovasi tersebut bahkan mengantarkan mereka meraih prestasi tingkat nasional dalam ajang Olympicad VIII di Makassar.

Ketiga siswa tersebut adalah Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim. Mereka menciptakan produk bernama Bonggol Arum, yakni biochar aromatik berbahan dasar bonggol jagung yang berfungsi sebagai penyerap bau, pengontrol kelembapan, sekaligus penyerap polutan ringan di udara.

Perwakilan tim, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, menjelaskan ide tersebut berawal dari pengamatan terhadap melimpahnya limbah pertanian di Kabupaten Malang. Sebagai salah satu sentra jagung terbesar di Jawa Timur, wilayah ini menghasilkan sekitar 51 ribu ton bonggol jagung yang sering kali dibuang atau dibakar oleh petani.

Para santri melihat kondisi tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang untuk memanfaatkan limbah biomassa yang selama ini belum dimaksimalkan.

“Di sisi lain, kualitas udara dalam ruangan seperti bau apek dan kelembapan sering menjadi masalah kesehatan pernapasan,” ujar Farrell, Rabu (5/3/2026).

Berangkat dari permasalahan itu, tim AMF menghadirkan solusi berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah bonggol jagung melalui proses pirolisis terkendali. Proses ini menghasilkan biochar berpori luas yang efektif menyerap berbagai polutan di udara.

Berbeda dengan produk desikan sintetis di pasaran yang berpotensi beracun dan menambah sampah plastik, Bonggol Arum dirancang lebih aman, alami, dan berkelanjutan.

“Produk ini memiliki inovasi 3-in-1 multi action, yakni menyerap bau tidak sedap, mengontrol kelembapan ruangan, serta menyerap polutan udara ringan seperti amonia dan etanol,” jelas Farrell.

Ia menuturkan, proses pembuatan dimulai dengan pirolisis bonggol jagung kering pada suhu 300–600 derajat Celsius selama 1 hingga 4 jam hingga menghasilkan biochar padat. Setelah itu, biochar didinginkan dengan cepat dan dibersihkan.

Sementara itu, pewangi alami dibuat dengan merebus bahan organik seperti kayu manis, serai, atau daun jeruk selama 20–30 menit. Larutan tersebut kemudian ditambahkan etanol food grade untuk mengikat aroma, lalu disaring hingga jernih.

Pada tahap akhir, sekitar 100 gram biochar dicampur dengan 20–30 mililiter ekstrak pewangi. Campuran tersebut didiamkan dalam wadah tertutup selama 24–48 jam agar aroma terserap optimal. Selanjutnya, bahan dikeringkan kembali pada suhu 40–50 derajat Celsius sebelum dikemas dalam kantung teh dan pouch kain goni.

Inovasi ini berhasil mengantarkan tim SMA PPI-AMF meraih medali perak dalam ajang Olympicad VIII yang diselenggarakan di Makassar pada Februari 2026. Tim Bonggol Arum memperoleh nilai 84,7 dan menempati peringkat kedelapan secara nasional.

Guru pendamping tim, Rachmadanti Chairatul Nisa, mengaku bangga atas capaian tersebut. Selama proses pengembangan, ia memberikan pendampingan mulai dari validasi ide, penyusunan proposal penelitian, hingga pembuatan prototipe produk.

“Saya sangat bangga dengan capaian tim ini. Mereka tidak hanya mampu melihat persoalan limbah bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi juga berhasil mengolahnya menjadi produk inovatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” tandas Rachmadanti.

Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan riset yang dilakukan para santri mampu melahirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.

Pewarta : Rohim Alfarizi

Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

“Be Together, Grow Together”, Forkom Agribisnis Dorong Mahasiswa Cerdas, Berkarakter, dan Beretika

5 Juni 2026 - 10:08 WIB

Viral Pejabat BGN Ditangkap, Pengamat Soroti Krisis Tata Kelola Program MBG

4 Juni 2026 - 16:45 WIB

JMSI Jatim Siap Gelar Pelantikan Pengurus dan FGD Media

2 Juni 2026 - 19:12 WIB

Sukses Reboisasi Pujon Hill, UMM Hidupkan Kembali Mata Air dan Pasok Air Bersih untuk Empat Dusun

2 Juni 2026 - 18:54 WIB

Renungan Peringatan 1 Juni, Pancasila Adalah Rumah Bersama

1 Juni 2026 - 12:44 WIB

Hari Lahir Pancasila: Meneguhkan Gotong – Royong di Tengah Arus Individualisme

1 Juni 2026 - 12:38 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !