Oleh: Dr. Riyanto
Terjadi Bharatayuda dalam rumah Irjen Ferdy Sambo. Dua prajurit Polri baku-tembak, dirangsang suara seorang istri. Brigadir J, yang gagah itu, terkapar di lantai.
Pondok Pesantren geger. Si ganteng anak kyai, mencabuli santriwati. Usut punya usut, ternyata malapetaka itu, datangnya dari alam Surgawi.
“Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu, di Surga ini. Dan makanlah makanan yang banyak lagi baik di mana saja yang kau sukai, dan janganlah kau dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang orang yang dzalim.
Arjuna keterlaluan. Di berbagai kesempatan, istri seniornya digoda. Prabu Duryudana hanya mengelus dada.
Terlintas, “kalau ada kesempatan, Arjuna harus dibinasakan …..
Prabu Salyapati mendengarkan permintaan anaknya.
“Ayahanda, ada syaratnya !
“Anakku Banowati, apa syaratnya ?
Balairung menjadi panas. Pernikahan hanya akan terjadi bila ada campur tangan satria tampan.
Dewi Banowati mau dengan Duryudana, asal seluruh prosesi pernikahan ditangani Arjuna. Termasuk upacara mandi siraman. Ide gila “njarak” masalah, sangat berbahaya.
Cinta buta …..
Dengan menunduk, Duryudana mengangguk pada calon mertuanya. Wajahnya “mbranang mempersilahkan.
Harapannya hanya satu, upacara segera selesai. Banowati menjadi permaisuri.
Pada urutan hari, dalam siraman, di kamar mandi, tersenyum nakal, Banowati menarik “sabuk”. Celana Arjuna terlepas. Mungkin terlalu komprang.
Suasana menjadi gelap, tidak bisa diceritakan.
Terdengar suara pelan, “satu saat bunuh suamiku” …..
Pecahlah perang dunia ke empat, Bharatayuda.
Banowati tidak seperti biasanya.
Prabu Duryudana membangun strategi perang, Banowati “nglimput” pergi sendiri.
Peperangan semakin mengerikan. Duryudana mengatakan, “bunuh setiap musuh yang datang.
Seraaaangng ….. !!!
Di kejauhan, tampak kusir Dewi Banowati menarik tali kekang.
Creeessss ….., terjungkal, gugur di Kurusetra.
Bersimbah darah, lima anak panah menerjang tubuhnya.
Peperangan sampai puncaknya. Di tepi danau, kendaraan perang Prabu Duryudana, Gajah Sidapeksa mengayun-ayunkan belalai.
Hati Raden Bratasena berbisik, “Sembunyi diantara bunga-bunga teratai”.
Detik berganti menit, remang-remang menjelang pagi.
Air danau bergerak semakin cepat. “Ngregemeng keluar dari air kotor.
Mengendap -endap membawa pedang “ligan”.
Craaaakkkk ……
Balok-balok kayu berhamburan. Berkelebat Celurut berlarian.
Prabu Duryudana terus mengayunkan pedangnya.
Siasatnya berhasil.
Angkat gada Rujakpolo. Diayunkan, buak …..
Terhuyung jatuh.
Kaki kanan “godras” darah, jalan ngesot- ngesot.
“Sudah sampai ajalmu !, Raden Bratasena berteriak.
Diayunkan yang kedua kali. Rujakpolo menghantam kepala. Darah muncrat, otak berhamburan. Prabu Duryudana menemui ajalnya.
Dewi Banowati masih shock, jatuh dari Kereta Kencana. Menangis, bangun dari depan jasad suaminya. Bibir tipis tampak bergerak cepat. Kalau filmnya diperlambat terdengar, “mana Arjuna ???
*Dr Riyanto adalah Budayawan dan Akademisi Universitas Brawijaya Malang.
*Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

























































