BACAMALANG.COM – Tren penyelenggaraan pernikahan terus berubah. Jika sebelumnya identik dengan pesta besar dan formal, kini sebagian calon pengantin mulai melirik konsep intimate wedding yang lebih personal, santai, dan mengutamakan pengalaman.
Pergeseran tersebut menjadi perhatian industri perhotelan, seperti disampaikan Hilma Hendriyani, Corporate Director of Sales & Marketing Parador Hotels & Resorts, bahwa pasangan muda kini semakin menginginkan konsep pernikahan yang berbeda dan sesuai dengan karakter mereka.
“Konsep yang diminati antara lain pernikahan di taman (garden wedding), di tengah hutan, hingga acara dengan suasana santai melalui konsep mingle, tanpa tata pelaminan yang kaku,” ungkapnya dalam konferensi pers Atria Wedding Fair 2026 – “Forever Begins Here”, di ruang Ivory 3 dan 4, Atria Hotel Malang, Selasa (13/10/2026).
Menurut Hilma, perubahan preferensi tersebut menuntut pelaku industri perhotelan untuk terus beradaptasi. Hotel tidak cukup hanya menawarkan tempat dan fasilitas, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan keinginan pasangan.
“Sebagai penyedia jasa akomodasi dan fasilitas, hotel perlu menyesuaikan diri dengan keinginan pasangan muda yang menginginkan pernikahan berbeda dari yang lain,” menjadi salah satu poin yang disampaikan dalam pemaparannya.
Di sisi bisnis, Hilma menilai segmen pernikahan memiliki peran penting dalam menopang pendapatan hotel. Pasar ini dinilai memiliki karakter berbeda dibandingkan segmen korporat maupun pemerintahan yang umumnya terikat batasan anggaran. Perrnikahan sebagai momen sekali seumur hidup membuat sebagian pasangan bersedia mengalokasikan anggaran lebih besar demi mewujudkan acara sesuai harapan.
Ia juga menyoroti ketahanan pasar pernikahan dalam menghadapi kondisi sulit. Bahkan ketika industri menghadapi tekanan seperti pada masa pandemi, kebutuhan masyarakat untuk menyelenggarakan pernikahan tetap menjadi potensi pasar yang diperhitungkan.
“Karena itu, hotel perlu memahami perubahan kebutuhan calon pengantin sekaligus menyiapkan strategi pemasaran yang sesuai agar dapat menjangkau pasar secara berkelanjutan, dan untuk menangkap peluang tersebut, Parador Hotels & Resort menerapkan strategi promosi melalui penyelenggaraan Wedding Open House secara berkala, yakni dua kali dalam setahun,” jelasnya.
Kegiatan pada awal tahun diarahkan untuk menjangkau calon pengantin yang merencanakan pernikahan mulai April dan bulan-bulan berikutnya. Sementara itu, penyelenggaraan pada akhir tahun menyasar pasangan yang tengah mempersiapkan pernikahan untuk tahun berikutnya.
Persiapan menjadi faktor penting karena pemasaran layanan pernikahan idealnya dilakukan jauh sebelum hari pelaksanaan. Menurut Hilma, penetrasi pasar membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga satu tahun sebelum hari pernikahan.
Strategi pemasaran juga menggabungkan pendekatan digital dan tatap muka. Promosi digital dilakukan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, termasuk pemanfaatan Meta Ads untuk menjangkau calon pelanggan yang lebih luas.
Sementara itu, pendekatan langsung dilakukan melalui pameran pernikahan (wedding fair) dan lokakarya (workshop). Melalui kegiatan tersebut, calon pengantin dapat mengenal layanan, mengeksplorasi konsep acara, serta memperoleh gambaran lebih nyata mengenai pilihan yang tersedia.

General Manager Atria Hotel Malang, Ibnu Darmawan. (Nedi Putra AW)
“Perubahan tren pernikahan tersebut menunjukkan bahwa industri perhotelan perlu terus berinovasi, baik dalam menawarkan konsep acara maupun membangun strategi pemasaran. Bagi hotel, kemampuan menghadirkan pengalaman yang personal sekaligus menjangkau calon pelanggan sejak tahap perencanaan menjadi bagian penting dalam mengembangkan pasar pernikahan,” tandasnya.
Atria Wedding Fair 2026 akan digelar pada 17–18 Oktober 2026 di hotel setempat, yang mengusung tema “Forever Begins Here”, menghadirkan one stop experience dengan suguhan beragam vendor, untuk pernikahan tradisional maupun modern.
General Manager Atria Hotel Malang, Ibnu Darmawan, menegaskan, bahwa sektor pernikahan menjadi salah satu penggerak utama bisnis perhotelan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
Menurutnya, saat anggaran korporasi maupun pemerintah mengalami efisiensi dan aktivitas ekonomi secara umum melambat, segmen acara sosial (social event), khususnya pernikahan, masih menunjukkan potensi pasar yang menjanjikan. Sektor ini dinilai relatif stabil dan terus menggerakkan aktivitas bisnis perhotelan.
Ibnu menegaskan, keberlangsungan sektor pernikahan juga tidak lepas dari sinergi berbagai pelaku industri, mulai dari pihak hotel, wedding organizer (WO), penyedia busana pengantin (bridal), dekorator, hingga penyelenggara acara. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menggerakkan roda perekonomian industri pernikahan, termasuk di Kota Malang.
“Di tengah tantangan ekonomi, para pelaku industri perhotelan dan industri kreatif dituntut terus berinovasi agar dapat menjaga daya tarik pasar. Salah satunya melalui pembaruan fasilitas serta pengembangan layanan yang mampu memberikan nilai tambah bagi tamu dan calon pengantin,” bebernya.
Ibnu berharap penyelesaian renovasi dan pembaruan fasilitas Atria Hotel Malang dapat menghadirkan pengalaman yang lebih baik sekaligus memberikan kejutan positif bagi para tamu. Dengan dukungan rekanan profesional, sinergi yang kuat, serta strategi pemasaran yang tepat, pihaknya optimistis potensi pasar pernikahan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW





















































