Tekan 1,5 Ton Sampah Anorganik per Hari, UB Gandeng iLitterless Kembangkan Sistem RVM Terintegrasi Plus Reward - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 29 Agu 2026 19:46 WIB ·

Tekan 1,5 Ton Sampah Anorganik per Hari, UB Gandeng iLitterless Kembangkan Sistem RVM Terintegrasi Plus Reward


 Kepala Bidang Infrastruktur Hijau, Manajemen Limbah, dan Sirkular Ekonomi UPT UBGC Angki Wahyu Putranto, STP, MP, PhD dan Co-Founder iLitterless Indonesia, Mayedha Adifirsta, S.Sos., M.Sos. mendampingi seorang pengunjung mencoba  Reverse Vending Machine (RVM), mesin pengumpul botol plastik yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) di Booth UBGC depan FILKOM UB, dalam rangkaian Open House dan puncak penutupan Raja Brawijaya, Sabtu (29/8/2026). (Nedi Putra AW) Perbesar

Kepala Bidang Infrastruktur Hijau, Manajemen Limbah, dan Sirkular Ekonomi UPT UBGC Angki Wahyu Putranto, STP, MP, PhD dan Co-Founder iLitterless Indonesia, Mayedha Adifirsta, S.Sos., M.Sos. mendampingi seorang pengunjung mencoba Reverse Vending Machine (RVM), mesin pengumpul botol plastik yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) di Booth UBGC depan FILKOM UB, dalam rangkaian Open House dan puncak penutupan Raja Brawijaya, Sabtu (29/8/2026). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Universitas Brawijaya (UB) melalui program UB Green Campus (UBGC), memperkuat upaya pengurangan sampah plastik sekali pakai melalui kolaborasi dengan iLitterless Indonesia dan industri. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan Reverse Vending Machine (RVM) khusus botol plastik yang dilengkapi sistem reward bagi sivitas akademika maupun masyarakat yang menyetorkan sampah.

Kepala Bidang Infrastruktur Hijau, Manajemen Limbah, dan Sirkular Ekonomi UPT UBGC Angki Wahyu Putranto, STP, MP, PhD memaparkan, program tersebut dikembangkan dengan pendekatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan unsur institusi, akademisi, organisasi nonpemerintah, dan industri.

“Harapannya ada kolaborasi lebih dari pentahelix. Ada institusi, akademisi, NGO dari iLitterless, dan juga industri. LYB merupakan salah satu industri plastik multinasional. Dari kegiatan ini, kami berharap bisa bersama-sama mengatasi limbah plastik, terutama botol plastik sekali pakai,” ujarnya, Sabtu (29/8/2026).

Ia mengatakan, untuk tahap awal, UB bersama iLitterless merencanakan pemasangan empat unit RVM di sejumlah lokasi yang mudah diakses sivitas akademika dan masyarakat.

Menurut Angki, RVM yang dikembangkan dalam kolaborasi tersebut menjadi inovasi yang nantinya tidak hanya bergantung pada sistem yang telah tersedia. UB juga berencana mengembangkan sistem yang lebih terintegrasi dengan ekosistem digital kampus.

Dosen dengan latar belakang Teknik Pertanian dan Bioprocess Engineering di Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) ini mengungkapkan, bahwa besarnya perhatian terhadap sampah plastik tidak lepas dari volume sampah yang dihasilkan di lingkungan kampus. Berdasarkan data UB tahun 2024–2025 yang disebut Angki dan masih memerlukan pembaruan, volume sampah anorganik tercatat sekitar 1,5 ton per hari, sementara sampah organik sekitar 1,2 ton per hari.

Karena itu, imbuhnya, pengurangan sampah plastik dari sumbernya dinilai menjadi bagian penting dalam upaya membangun ekosistem kampus yang lebih berkelanjutan.

Empat RVM yang direncanakan tersebut akan ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau, antara lain Perpustakaan UB, kawasan kantin CL, sekitar Gedung Rektorat, serta Samantha Krida UB atau lokasi lain yang banyak digunakan untuk kegiatan kampus.

Penempatan tersebut juga diharapkan menjangkau masyarakat dari luar UB yang datang untuk mengikuti berbagai kegiatan, termasuk wisuda dan acara lainnya.

“Orang luar yang datang ke UB harapannya juga bisa teredukasi untuk memilah sampah plastik. Ke depan tidak hanya dari iLitterless, tetapi juga akan bekerja sama dengan tim UB. Kita akan kembangkan sistem yang terintegrasi menjadi satu sistem di GAPURA UB,” jelasnya.

Reverse Vending Machine (RVM), mesin pengumpul botol plastik yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) di Booth UBGC depan FILKOM UB, dalam rangkaian Open House dan puncak penutupan Raja Brawijaya, Sabtu (29/8/2026). (ist)

Dengan integrasi tersebut, imbuh Angki, sivitas akademika nantinya diharapkan dapat menggunakan RVM dengan lebih mudah. Mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan cukup menggunakan satu akun yang sudah dimiliki di lingkungan UB tanpa harus melakukan registrasi baru.

Angki menjelaskan, terdapat dua misi utama dari program RVM tersebut. Yang pertama, mengurangi limbah plastik sekali pakai, dan kedua, membangun kebiasaan memilah sampah di lingkungan kampus.

Pada tahap awal, sampah yang menjadi sasaran adalah botol plastik beserta tutupnya. Setiap botol yang disetorkan melalui RVM akan mendapatkan poin atau reward.

Terkait pemberian apresiasi, Aangki menjelskan, itu menjadi salah satu strategi untuk mendorong mahasiswa dan sivitas akademika mulai terbiasa memilah sampah dari sumbernya.

“Upaya ini juga berjalan seiring dengan kebijakan UB yang mendorong penggunaan wadah minum ulang. Setiap fakultas telah diarahkan menyediakan water station, sehingga mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan diharapkan membawa tumbler masing-masing dan mengurangi ketergantungan terhadap botol plastik sekali pakai,” tegasnya.

Bagi Angki, yang utama adalah bagaimana mengurangi limbah plastik sekali pakai. Sementara tujuan kedua ada kampanye bagaimana memilah sampah.

“Karena ini pertama kali kita perkenalkan, kita memberikan reward. Ketika memasukkan sampah botol plastik, tutup dan botolnya, maka akan mendapatkan reward,” terang Angki.

Menariknya, sistem reward yang diberikan kepada pengguna RVM nantinya tidak hanya berhenti pada hadiah dari iLitterless. UB juga telah menjalin kerja sama dengan PT Brawijaya Multi Usaha (BMU) untuk mengembangkan ekosistem reward yang dapat digunakan di berbagai unit usaha di lingkungan kampus.

PT BMU menaungi sejumlah unit usaha, mulai dari UB Guest House, kantin-kantin di lingkungan UB, hingga berbagai fasilitas usaha lainnya.

Reward yang diperoleh dari menyetorkan botol plastik nantinya dapat digunakan di merchant yang berada dalam ekosistem tersebut. Dengan demikian, aktivitas memilah dan menyetorkan sampah memiliki manfaat langsung bagi pengguna.

“Semua reward akan diberikan untuk kantin-kantin yang ada di UB. Jadi semuanya terintegrasi, tidak hanya kantin dan guest house, tetapi juga sport center dan unit-unit usaha di bawah BMU. Nanti reward-nya bisa ditukar di sana,” pungkas Angki.

Melalui integrasi antara teknologi RVM, edukasi, sistem reward, pengelolaan sampah, serta keterlibatan industri dan unit usaha kampus, UB berharap kebiasaan memilah sampah dapat menjadi bagian dari keseharian sivitas akademika sekaligus memperkuat implementasi UB Green Campus.

RVM mengusung teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan incentive-based system yang khusus menerima sampah kemasan botol plastik sekali pakai berjenis PET (Polyethylene Terephthalate).

Berbeda dari tempat sampah konvensional, RVM dirancang untuk mendorong behaviour change (perubahan perilaku) agar memilah sampah menjadi kebiasaan yang mudah dan menyenangkan. Mesin berdimensi 115 cm x 60 cm x 165 cm berbahan stainless steel ini memiliki dua lubang terpisah untuk bagian badan botol dan tutup botol.

Cara penggunaan RVM tergolong praktis dan terintegrasi dengan ekosistem digital:
1. Mengakses pilahsampah.com dan membuat akun (register).
2. Masuk (log in) ke dalam sistem.
3. Menekan tombol “Mulai” pada layar mesin untuk membuka pintu.
4. Memasukkan tutup botol dan badan botol ke lubang yang telah disediakan dalam kondisi kering serta minim residu.
5. Menekan tombol submit dan memastikan poin terisi pada layar.
6. Poin yang terkumpul dapat diklaim menjadi voucher atau reward menarik.

“Melalui ekosistem iLitterless Indonesia, botol PET yang terkumpul tidak hanya berhenti di mesin, tetapi akan disalurkan ke proses pengelolaan lanjutan bersama mitra pendaur ulang. Kolaborasi ini diharapkan dapat memberdayakan civitas akademika UB untuk aktif berpartisipasi dalam mengurangi sampah plastik sekali pakai,” tandas Education and Outreach Officer iLitterless Indonesia, Nina Amelia.

UB Green Campus juga berkomitmen membangun lingkungan Universitas Brawijaya yang berkelanjutan, sementara iLitterless Indonesia hadir mengembangkan teknologi serta ekosistem pengelolaan sampah berbasis insentif untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG 12 & SDG 13).

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Wawali Ali Muthohirin Apresiasi Peluncuran Buku “Lintas Sejarah Etnis Tionghoa di Malang”, Menelusuri Jejak Komunitas dalam Sejarah Kota

29 Agustus 2026 - 21:14 WIB

Kemarau Memuncak, BPBD Kabupaten Malang Gelontorkan 642.800 Liter Air Bersih ke 5 Desa

29 Agustus 2026 - 19:04 WIB

Dorong Budaya Pilah Sampah di Kampus, UB Gandeng iLitterless Indonesia Luncurkan Reverse Vending Machine Berbasis IoT

29 Agustus 2026 - 15:09 WIB

Bocah 3 Tahun Kritis Penuh Luka, Unit PPA Polresta Malang Kota Tangkap Ibu dan Pasangannya

29 Agustus 2026 - 12:47 WIB

Bakar Daduk Tebu Berujung Petaka, 3.000 Meter Persegi Lahan di Turen Terbakar

29 Agustus 2026 - 09:49 WIB

Lesbumi NU Sumberpucung Dikukuhkan, Usung Semangat Nguri-uri Budaya Nusantara

29 Agustus 2026 - 09:07 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !