BACAMALANG.COM – Sejarah Kota Malang tidak hanya dibentuk oleh perkembangan pemerintahan, pembangunan, maupun dinamika politik, tetapi juga oleh perjalanan berbagai komunitas yang hidup dan berkembang di dalamnya. Salah satunya adalah komunitas Tionghoa yang memiliki jejak panjang dalam perjalanan sejarah Kota Malang.
Jejak tersebut diangkat melalui buku “Lintas Sejarah Etnis Tionghoa di Malang: Dari Singhasari sampai Reformasi” yang resmi diluncurkan di Gramedia Malang Kayutangan, Sabtu, (29/8/2026).
Buku yang ditulis oleh Bambang A.W. dan Dika Sri Pandanari tersebut menjadi upaya untuk memperkenalkan lebih jauh perjalanan komunitas Tionghoa di Malang, sekaligus melihat bagaimana keberadaan mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah lokal.
Peluncuran buku juga dihadiri Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin serta dibedah sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang sebagai bagian dari diskusi. Mereka antara lain Prof. Dr. Wahyudi, M.Si., Guru Besar Bidang Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus Ketua INTI Kota Malang, Annis Khansa Labibah, S.Pd., M.A., Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, Fredy Torang Widiyantho Munthe, Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya Malang, serta Sutanto Harsono, Anggota INTI Cabang Malang dan Ketua Hakka Malang.
Hadir pula para undangan, baik dari kalangan pegiat literasi dan seni budaya, kalangan akademisi serta sejumlah warga Tionghoa.
Ali Muthohirin sangat mengapresiasi hadirnya buku ini. Menurutnya, masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian dari kesatuan masyarakat Malang. Keberadaannya tidak hanya penting untuk dilihat dari aspek literasi sejarah, tetapi juga bagaimana identitas dan kebudayaan yang beragam tersebut dapat menyatu dan menjadi ciri khas Kota Malang.
“Pertama karena pada dasarnya saya memang senang dengan buku. Kedua, mungkin dari sini bisa ditelususri apakah saya ada DNA Tionghoa,” ucapnya berkelakar.
Bagi Ali, buku ini bisa menjadi referensi untuk memahami bagaimana sejarah dan perkembangan Kota Malang terbentuk dari keberagaman masyarakat,
“Struktur sosial Kota Malang sangat heterogen, bahkan bisa disebut sebagai miniaturnya Indonesia. Karena itu, keberadaan masyarakat Tionghoa tidak bisa dilepaskan dari perjalanan budaya dan sejarah Kota Malang,” ujarnya.
Ali menegaskan, buku karya Bambang AW dan Dika Pandanari ini mengemuka bukan dalam konteks marginalisasi yang negatif, tetapi justru memberikan gambaran bahwa Malang terbentuk dari beragam etnis, dimana keragaman tersebut merupakan kekayaan sejarah dan budaya yang membentuk karakter kota ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, simbol-simbol kebesaran dan identitas Kota Malang juga hadir dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui keberadaan Arema yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Malang.

Keseruan peluncuran buku “Lintas Sejarah Etnis Tionghoa di Malang: Dari Singhasari sampai Reformasi” karya Bambang A.W. dan Dika Sri Pandanari di Gramedia Malang Kayutangan yang dihadiri berbagai kalangan, Sabtu, (29/8/2026). (Nedi Putra AW)
Menurutnya, penerbitan buku mengenai perjalanan masyarakat Tionghoa di Malang menjadi sesuatu yang penting. Buku tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga dapat menjadi referensi untuk memahami perkembangan sejarah Kota Malang dari perspektif keberagaman masyarakatnya.
Sementara Prof. Dr. Wahyudi, M.Si menilai bahwa hidup ini tak pernah selesai. Buku ini seakan bercerita bahwa masih ada masalah tentang kedudukan social berbagai etnis, termasuk warga Tionghoa.
Pada sudut pandang lain, Annis Khansa Labibah, S.Pd., M.A lebih menyoroti potensi buku ini sebagai referensi bagi para mahasiswa untuk mengupas dengan ide yang lain. Sementara Fredy Torang Widiyantho Munthe mengutip pesan Pramoedya Ananta Toer, bahwa “menulis adalah bekerja untuk keabadian”, sehingga buku ini menjadi layak untuk diteruskan.
Sutanto Harsono sebagai warga Tionghoa justru merasa senang akhirnya dapat mengetahui sejarah masyarakat Tionghoa di Malang. “Apalagi sekarang saya seperti bukan orang Tionghoa, tapi merasa jadi Indonesia,” ujarnya.
Sedangkan sebagai penulis, Dika Sri Pandanari mengatakan, bahwa salah satu tantangannya adalah bagaimana mempertanggungjawabkan informasi yang berasal dari sumber anonim. Terlebih, sejumlah informasi berkaitan dengan keyakinan dan cerita yang cukup sensitif untuk diterbitkan secara terbuka.
“Di satu sisi ini menjadi tantangan untuk menuliskannya secara utuh. Kita harus melihat apakah informasi tersebut merupakan bagian dari sejarah atau justru urban legend,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai literatur yang digunakan juga harus melalui proses pengecekan dan penelusuran ulang. Hal tersebut karena ditemukan perbedaan antara sejumlah buku yang dikutip, termasuk buku dengan penulis yang sama tetapi diterbitkan pada tahun berbeda. Perbedaan juga ditemukan dalam beberapa bagian terjemahan.
“Jadi literaturnya harus dicek ulang. Ada buku yang dikutip ternyata memiliki perbedaan dengan buku lain yang ditulis oleh penulis yang sama pada tahun berbeda. Termasuk dalam hal terjemahannya,” jelas dosen Binus Malang ini.
Ia mengatakan, proses tersebut menjadi tantangan sekaligus dorongan dalam menyusun dokumentasi sejarah masyarakat Tionghoa di Malang. Terlebih, penelitian mengenai sejarah Tionghoa sebenarnya sudah cukup banyak dilakukan, tetapi masih terdapat sejumlah bagian sejarah yang terputus dan membutuhkan penelusuran lebih lanjut.
“Ada bagian-bagian yang terputus, seperti sejarah yang dibakar, ijazah yang disobek. Hal-hal seperti ini menjadi bagian dari temuan yang menarik untuk ditelusuri kembali,” ungkapnya.

Diskusi juga diisi dengan pembacaan puisi “Mergosono” oleh pegiat lingkungan dan ekraf, Herman Aga.
Menurut Dika, proses penelitian di lapangan juga menemukan berbagai fakta menarik mengenai perjalanan masyarakat Tionghoa dan perkembangan Kota Malang. Salah satunya berkaitan dengan sejarah pendidikan.
“Banyak temuan menarik di lapangan. Karena Kota Malang tidak mungkin menjadi kota pendidikan kalau tidak ada orang-orang yang datang untuk belajar. Ada perjalanan masyarakat dan berbagai kelompok yang ikut membentuk perkembangan kota ini,” tandas Dika.
Sementara Bambang AW sendiri sengaja tampil unik, yakni dengan mengenakan seragam Linmas (Perlindungan Masyarakat) berwarna hijau lengkap dengan topinya.
“Ini melambangkan bahwa etnis Tionghoa sudah lama melebur ke dalam berbagai struktur sosial dan profesi di Indonesia,” pungkas Bambang.
Buku “Lintas Sejarah Etnis Tionghoa di Malang” diharapkan tidak sekadar menjadi dokumentasi perjalanan sebuah komunitas, tetapi juga membuka ruang pembacaan sejarah Kota Malang secara lebih beragam dan masih bisa ditulis dan dikembangkan lebih jauh lagi.
Salah satunya untuk menjawab pertanyaan Ary Budiyanto, dosen Antropologi Kuliner dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), yakni siapa, kapan dan bagaimana awal kuliner bakso dan cwi mie dipopulerkan etnis Tionghoa di Malang.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































