BACAMALANG.COM — Di lahan konservasi Sumber Air Masjid Ismail Bedali, Lawang, Kabupaten Malang, suasana Minggu pagi itu berbeda dari biasanya. Puluhan relawan tampak hilir mudik. Ada yang sibuk memotong batang pisang, ada yang menanam potongan jerigen ke tanah, ada pula yang menuang air ke dalamnya.
Mereka tidak sedang membangun gedung atau infrastruktur besar. Pekerjaan mereka sederhana, tapi punya arti besar: menyelamatkan pohon-pohon kecil dari ancaman kekeringan, sekaligus menyediakan setetes air bagi satwa liar di tengah musim kemarau yang panjang.
Koordinator Relawan Konservasi Sumber Air Masjid Ismail Bedali, Supriyadi, terlihat ikut terjun langsung. Tangannya berlumur tanah dan getah pisang.
“Menanam pohon itu gampang mas. Yang susah itu merawat. Kalau kemarau datang, banyak pohon kecil yang mati karena kekurangan air,” ujarnya kepada bacamalang, Minggu (6/9/2026).
Dari keprihatinan itulah muncul ide sederhana. Batang pisang dipotong pendek-pendek, lalu disusun melingkar di sekeliling batang pohon. Batang pisang mengandung banyak air dan secara alami mampu menjaga kelembaban tanah. Dengan begitu, meski seminggu tidak turun hujan, tanah di sekitar pohon tidak cepat kering.
Metode ini dipilih karena murah, mudah didapat, dan ramah lingkungan. Tidak perlu selang panjang atau tangki air. Cukup memanfaatkan limbah batang pisang dari kebun warga sekitar.
Perhatian relawan tidak berhenti di pohon. Mereka juga memikirkan makhluk lain yang hidup di lahan itu. Burung, belalang, kadal, dan satwa kecil lainnya ikut terdampak kemarau. Sumber-sumber air alami di sekitar konservasi mulai mengering.
Untuk itu, mereka membuat tempat minum sederhana dari jerigen bekas. Jerigen dibelah dua, lalu ditanam di tanah hingga bibirnya rata dengan permukaan. Setelah itu diisi air penuh. Di dalamnya diberi batu kerikil agar air tetap jernih dan tidak cepat kotor.
“Tempat air ini membantu binatang untuk mendapatkan air minum di saat kekeringan seperti sekarang. Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, sudah selayaknya kita saling membantu, termasuk kepada binatang,” kata Supriyadi.
Bagi Relawan Konservasi Masjid Ismail Bedali, konservasi bukan hanya soal menanam. Lebih dari itu, konservasi adalah tentang menjaga, merawat, dan memastikan keberlangsungan hidup, baik untuk manusia, pohon, maupun satwa.
Supriyadi berharap pohon-pohon yang kini dirawat bisa tumbuh besar. Akarnya kelak akan menguatkan tanah dan membantu menjaga debit sumber air di Bedali.
Ke depan, para relawan juga punya rencana. Mereka ingin mengupayakan sistem pengairan sederhana ke area tanam yang berada di dataran lebih tinggi. Dengan begitu, saat musim kemarau tiba, penyiraman bisa dilakukan secara teratur tanpa harus mengangkut air dengan jerigen.
Di bawah terik matahari Lawang, mereka bekerja tanpa sorotan. Hanya ada batang pisang, jerigen bekas, dan satu harapan: agar bumi di sekitar mereka tetap hijau, meskipun langit sedang pelit hujan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

























































