BACAMALANG.COM – Perjalanan panjang Sylvia Saartje di dunia musik Indonesia memasuki babak istimewa. Memperingati usia ke-70 tahun sekaligus lebih dari lima dekade kiprahnya sebagai musisi, sosok yang dikenal sebagai lady rocker pertama Indonesia asal Kota Malang ini menghadirkan Intimate Concert 70th Anniversary Sylvia Saartje, Sabtu (19/9/2026), di Dewa 19 Lounge, ALANA Hotel Kota Malang.
Acara tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus penghormatan atas dedikasi Sylvia Saartje yang telah mewarnai perjalanan musik Indonesia selama puluhan tahun. Digelar dengan dukungan Soendari Batik & Art, konser ini sekaligus menjadi ruang untuk kembali memperkenalkan sosok dan karya Sylvia kepada generasi muda.
Perjalanan panjangnya di dunia musik diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan musik Indonesia.
Perempuan yang akrab disapa Jippi itu tampil anggun tanpa kehilangan kesan garangnya sebagai lady rocker. Ia mengenakan busana berbalut motif Batik Lung Anggur pilihan Satrya Paramanandana, Co-Owner Soendari Batik & Art Gallery. Perpaduan rock dan batik tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam konser intim (hangat-dekat) malam itu.
Dalam konser tersebut, Sylvia Saartje tidak tampil sendiri. Sejumlah musisi turut ambil bagian, di antaranya Iksan Skuter, Elizabeth Natalia, dan Kidnep Flanella.
Iksan Skuter membawakan lagu Manusia, sementara Kidnep tampil dengan Katakan Sejujurnya. Elizabeth Natalia menyanyikan Tembang Respati dan Jakarta Blue Jeans.
Pertunjukan musik tersebut diperkuat komposer Norman Duarte, dan music director Isa Aprillia yang menggarap aransemen sekaligus konsep musikal konser.
“Kolaborasi dengan Soendari ini benar-benar di luar dugaan. Ada sesuatu yang berbeda, tapi kami bisa nge-blend gitu malam ini, padahal persiapannya semua sangat singkat,” ungkap Jippi seusai konser.

Sylvia Saartje bersama Satrya Paramanandana dan kru Soendari Batik & Art Gallery dan musisi pendukung dalam Intimate Concert 70th Anniversary, Sabtu (19/9/2026), di Dewa 19 Lounge, ALANA Hotel Kota Malang. (Nedi Putra AW)
Jippi mengatakan, konsep intimate concert memang dirancang untuk mendekatkan dirinya dengan audiens. Konsep tersebut juga sesuai dengan kesepakatan awal bersama pihak Soendari yang menginginkan pertunjukan berlangsung dalam suasana lebih dekat dan tidak terlalu padat.
“Konser ini rasanya kekeluargaan banget. Aku bisa leluasa ngobrol, bisa interaksi sangat dekat dengan penonton, yang bahkan ada yang dari luar kota. Ada juga yang minta tanda tangan, wah jadi kaget dan berkesan,” ujarnya.
Menurut Jippi, konsep intim tersebut sekaligus membantunya mengatur stamina saat membawakan lagu-lagu bergenre rock di usianya yang tidak lagi muda.
“Aku bisa mengatur tempo, mengatur napas lewat obrolan santai,” tukas lady rocker yang dikenal tidak suka begadang dan tetap rajin berolahraga tersebut.
Bagi Jippi, konser tersebut bukan sekadar perayaan usia. Momentum itu menjadi ruang untuk kembali bertemu dan berinteraksi dengan penonton sekaligus mengenang perjalanan panjangnya sebagai salah satu sosok penting dalam sejarah musik rock Indonesia.
“Mungkin next time jika Tuhan mengizinkan bisa tampil dalam acara lain dengan konsep yang beda lagi ya,” tandas Jippi.
Dalam konser tersebut, Sylvia Saartje membawakan sejumlah komposisi, antara lain Buset, Take Me With You, Khayalku Tercipta, I Remember, dan Hard City Woman.
Hard City Woman, lagu yang merupakan ciptaannya sendiri, menjadi salah satu penampilan yang menarik perhatian. Lagu tersebut juga menjadi soundtrack Ratu Ratu Queens: The Series, serial Indonesia produksi Palari Films yang ditayangkan perdana pada 12 September 2025 melalui kanal Netflix.
Norman Duarte mengakui tidak mudah mengiringi lagu tersebut. Menurutnya, komposisi Hard City Woman memiliki permainan chord yang cukup dinamis.
“Saya mengaku mengiringi lagu Hard City Woman itu sulit. Mbak Jippi benar-benar memainkan lagunya luar biasa, chord-nya naik turun,” ungkap Norman Duarte, yang juga dikenal sebagai gitaris kawakan dari C4 tersebut.
Tak hanya bernostalgia, penampilan malam itu juga menjadi momentum bagi Jippi untuk membuka rencana karya berikutnya.
Perjalanan Sylvia Saartje sebelumnya juga telah diabadikan melalui film dokumenter berjudul “SYLVIA SAARTJE, Lady Rocker Pertama Indonesia” yang dirilis pada 2021.
Film dokumenter tersebut disutradarai Subiyanto dengan produser Andhika Yudha Pratama serta produser pelaksana FX Domini BB Hera dan Daya Negri Wijaya.
FX Domini BB Hera mengapresiasi digelarnya Intimate Concert 70 Tahun Lady Rocker Pertama Indonesia tersebut.
“Ketika menginjak usia 65 tahun, Mbak Jippi mendapatkan keanugerahan lantaran kiprahnya diabadikan dalam sebuah film dokumenter musik. Lantas kini memasuki tujuh puluh tahun, Satrya Paramanandana yang dahulu juga menangani penggarapan pada bagian wardrobe dokumenter, akhirnya terwujud kembali melalui konser dekat-hangat bersama sang legenda musik cadas ini,” ungkapnya.

Sylvia Saartje menandatangani sampul kaset dan piringan hitam dalam milik penonton Intimate Concert 70th Anniversary, Sabtu (19/9/2026), di Dewa 19 Lounge, ALANA Hotel Kota Malang. (Nedi Putra AW)
Sisco, panggilan FX Domini BB Hera, yang juga seorang dosen dan sejarawan, menilai performa vokal Jippi sama sekali tidak menunjukkan usianya.
“Bahkan malam minggu ini menjadi momen merilis sebuah lagu terbaru sekaligus rencana sebuah album ke depan, yang tentunya sangat dinanti,” tandas Sisco.
Pilihan busana bermotif Batik Lung Anggur juga menjadi bagian penting dari konsep konser. Motif tersebut merupakan salah satu corak batik tradisional Indonesia yang menampilkan bentuk sulur-suluran tanaman anggur yang saling melilit dan menjalar.
Satrya Paramanandana mengatakan, motif tersebut memiliki filosofi yang selaras dengan semangat Sylvia Saartje dalam menjalani perjalanan panjangnya di dunia musik.
“Filosofinya menyiratkan nilai kebaikan, semangat gotong royong, pertumbuhan yang berkesinambungan serta keindahan, seperti semangat Mbak Jippi dalam bermusik selama lebih dari lima dekade,” pungkas Satrya.
Perpaduan musik rock dan batik pada malam itu akhirnya bukan sekadar soal penampilan. Keduanya menjadi simbol perjalanan panjang seorang musisi Malang yang terus menjaga energi berkarya, sekaligus mempertemukan warisan budaya dengan ekspresi musik lintas generasi.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW























































