BACAMALANG.COM – Sebanyak 26 orang Pengurus Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Kota Malang menyatakan mosi tidak percaya terhadap Haris Thofly yang saat ini masih menjabat sebagai ketua umum. Sikap ini dilakukan lantaran kepemimpinan Haris dinilai tidak transparan dalam mengurus organisasi.
Sekretaris 2 Askot Malang Unggul Ardhie menyebut, ada tiga poin yang menjadikan pengurus Askot lainnya melakukan mosi tidak percaya terhadap Haris Tofly. “Dari 46 pengurus, 26 pengurus menyatakan Mosi tidak percaya terhadap ketua umum Askot Malang. Pertama, pembinaan tidak berjalan. Kedua, pemain Kota Malang tidak diprioritaskan. Ketiga, tidak adanya transparansi dalam penunjukan pelatih maupun anggaran,” jelas Unggul.
Masih menurut Unggul, Persema 1953 juga disinyalir telah dijual secara pribadi tanpa diketahui oleh pengurus. “Persema 1953 telah dijual secara pribadi, ke Ava Saylendra. Sama Ava dijual lagi ke Pasuruan. Hal itu tanpa melibatkan pengurus,” ujarnya.
Dengan adanya mosi tidak percaya ini, mereka menuntut Haris Thofly segera mundur dari Ketua Umum Askot Malang.
Sementara itu, Bagyo Sulaksono pemilik PO/PS Himalaya menambahkan, selama ini pihaknya menilai yang dilakukan dalam kepemimpinan Haris hanya turnamen. “Jadi hanya turnamen, bukan kompetisi. Dan turnamen itu tidak mewadahi kompetisi secara kontinyu, padahal yang dibutuhkan para pemain muda adalah wadah melalui kompetisi. Pembinaan usai dini harus diwadahi dalam kompetisi, kompetisi yang persiapannya panjang dengan kompetisinya juga panjang sehingga regulasi kemampuan anak-anak betul-betul terasah,” terangnya.
Dirinya pun melihat, sekarang ini bahkan talenta sepakbola berbakat asli Malang mengatakan bahwa kalau mau maju harus keluar (berkiprah, red.) dari Kota Malang. “Artinya, anak Malang mayoritas bisa diterima di klub-klub di luar Malang, mulai dari U-15, U-16 dan U-17. Bahkan pemain kita diambil di luar Kota Malang, terutama yang senior,” bebernya.
Bagyo menyebut, intinya para pemain sepakbola ini membutuhkan wadah untuk pembinaan secara kontinyu. “Pada intinya kita harus bisa mewadahi, mewadahi dari anak-anak di Malang Raya. Sehingga Malang Raya betul-betul ikut andil dalam persepakbolaan di Indonesia pada umumnya. Saat ini Kota Malang tenggelam dan tidak ada pemain yang muncul di Timnas dan itu sangat memprihatinkan, bahkan potensi pemain banyak di Kota Malang. Selain itu, Malang menjadi barometer persepakbolaan di Indonesia, tetapi mengapa anak-anak Malang tidak muncul dipersepakbolaan nasional,” papar Bagyo.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Imam Suindono yang juga pemilik PO/PS. Pertama, dari segi regulasi administrasi yang ada di Askot Malang, yang mana akhirnya kejaksaan memanggil ketua umum Askot Malang. Kedua, pembinaan yang sampai hari ini tidak ada kompetisi yang digelar. Dan yang Ketiga, dampaknya paling gampang dilihat yaitu dari hasil Porprov beberapa waktu lalu yang terjadi ada pemalsuan data. “Kenapa pihak kejaksaan tidak mempermaslahkan ini,” terang Imam.
Masih menurut Imam, hal-hal inilah yang harus diperjelas. “Hal hal yang sudah nyata ini, harus diperjelas, mulai admintrasi yang tidak jelas, pembinaan tidak jelas, sampai ke pemalsuan data bukan masalah organisasinya. Masalah data apakah kita harus memulai, kita ke polisi atau pihak pertama yang ke kejaksaam,” pungkasnya.
Terkait pemanggilan Haris Thofly ke kejaksaan beberapa waktu lalu, sebanyak 26 pengurus ini berharap, pihak kejaksaan terus melakukan pemeriksaan terhadap Ketua Umum Askot Malang. (Him)





















































