Pentingnya Standar Konstruksi dan Pengelolaan Limbah Air Bersih - Limbah Dapur Produksi SPPG - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 23 Apr 2026 10:24 WIB ·

Pentingnya Standar Konstruksi dan Pengelolaan Limbah Air Bersih – Limbah Dapur Produksi SPPG


 Koordinator Lapangan Bidang Teknis Konstruksi, Ir. Ade Herawanto, M.T., bersama Ir. R. Agoes Soerjanto, M.T., selaku pelaksana konstruksi dan manajemen SPPG, saat melihat konstruksi pengelolaan limbah di salah satu SPPG. (ist) Perbesar

Koordinator Lapangan Bidang Teknis Konstruksi, Ir. Ade Herawanto, M.T., bersama Ir. R. Agoes Soerjanto, M.T., selaku pelaksana konstruksi dan manajemen SPPG, saat melihat konstruksi pengelolaan limbah di salah satu SPPG. (ist)

BACAMALANG.COM – Maraknya kasus siswa keracunan yang diduga dipicu oleh instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dapur produksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak memenuhi standar, menjadi perhatian serius. Untuk mencegah kejadian serupa, diperlukan penerapan standar teknis yang ketat dalam pembangunan dan pengelolaan dapur produksi, khususnya yang berkaitan langsung dengan pengolahan makanan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ir. R. Agoes Soerjanto, MT., selaku pelaksana konstruksi dan manajemen SPPG. Ia menegaskan bahwa meskipun regulasi telah tersedia, implementasi di lapangan harus dipahami secara menyeluruh dan tidak setengah-setengah.

“Keberadaan dapur jangan sampai mengganggu lingkungan, mulai dari bau masakan hingga limbahnya. Dapur tidak harus mahal, yang penting mengikuti juknis dari kementerian. Persoalan air bersih juga wajib diperhatikan,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya, berbagai aturan dan rujukan teknis saat ini sudah dapat diakses dengan mudah. Namun, yang terpenting bukan sekadar membaca, melainkan memahami konstruksi dapur secara utuh, mulai dari pembagian area hingga alur produksi.

“Yang paling penting adalah memahami konstruksi dapur, mulai dari area persiapan bahan baku hingga proses produksi. Semua harus jelas dan terorganisasi,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Agoes Soer itu menambahkan, setiap tahapan dalam dapur harus mengikuti standar yang telah ditetapkan, tidak hanya pada bangunan fisik, tetapi juga sistem pendukung seperti ketersediaan air produksi.

Ia menyoroti bahwa tidak semua daerah memiliki akses air bersih dari PDAM. Oleh karena itu, penggunaan air tanah atau sumur wajib melalui uji laboratorium karena berkaitan langsung dengan keamanan makanan.

“Ada daerah yang masih menggunakan air tanah atau sumur. Itu wajib diuji secara laboratorium karena dapur ini berkaitan langsung dengan makanan,” tegasnya.

Selain air bersih, pengelolaan limbah juga menjadi aspek krusial. Aktivitas dapur yang berlangsung setiap hari harus diimbangi dengan sistem pembuangan limbah yang baik agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

Ia menjelaskan pentingnya penggunaan sistem saluran limbah seperti grease trap atau penyaring lemak, yang berfungsi memisahkan kotoran dari air sebelum dibuang. Bahkan, dengan pengelolaan yang tepat, air limbah masih dapat diolah kembali.

“Air kotor harus diolah dengan baik atau difiltrasi. Jangan sampai menimbulkan bau, bakteri, atau pencemaran yang bisa berdampak ke lingkungan bahkan ke makanan,” paparnya.

Ia menegaskan, air limbah yang dibuang ke saluran harus dalam kondisi tidak berbau. Sistem filtrasi yang baik dapat memastikan limbah dapur tidak mengganggu lingkungan sekitar.

“Jangan sampai sisa masakan dan limbah pengolahannya mengganggu warga sekitar,” tambahnya.

Standar kebersihan dapur, lanjutnya, harus mengacu pada ketentuan teknis pemerintah, termasuk dalam pengelolaan limbah. Hal ini penting untuk mencegah risiko kesehatan masyarakat.

“Jangan sampai limbah dapur justru merugikan lingkungan. Jika menimbulkan bakteri dan mencemari makanan, itu sangat berbahaya,” ungkapnya.

Selain itu, aspek sirkulasi udara juga tak kalah penting. Panas dari peralatan seperti kompor dan steamer harus dialirkan keluar melalui sistem ducting, sementara udara segar dari luar tetap harus masuk untuk menjaga kualitas udara di dalam dapur.

“Udara panas harus keluar melalui ducting, dan kita juga butuh udara segar dari luar agar sirkulasi tetap sehat,” imbuhnya.

Dengan demikian, pengelolaan dapur produksi SPPG tidak hanya soal memasak, tetapi mencakup sistem terintegrasi mulai dari air bersih, pengolahan limbah, hingga sirkulasi udara.

“Air bersih diolah, air kotor juga diolah. Itu harga mati dalam pengelolaan dapur, sehingga limbah tidak menimbulkan bau,” tandasnya.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Satu Keluarga Kecelakaan Tabrak Kontainer di Lawang, 1 Tewas 7 Luka

23 April 2026 - 14:36 WIB

KPU Kota Batu Gandeng Polres, Perkuat Edukasi Demokrasi dan Sinergi Pengamanan Pemilu

23 April 2026 - 09:52 WIB

Disparitas Kewenangan Jaksa sebagai Pengacara Negara dalam Gugatan CLS Meritokrasi Pemerintahan di Kabupaten Malang Munculkan Perdebatan

23 April 2026 - 09:46 WIB

Gubernur Khofifah Resmikan Grand Paviliun RSSA Malang, Tekankan Peningkatan Layanan Kesehatan Untuk Kenyamanan Masyarakat

23 April 2026 - 08:49 WIB

Pegawai SPBU di Klojen Diduga “Main Mata” Penjualan Pertalite, Polisi Bongkar Modus Jerigen dan Barcode

23 April 2026 - 07:47 WIB

Satgas Percepatan Program MBG, Bidang Teknis Konstruksi dan Pengelolaan Air Bersih / Air Limbah Sidak SPPG, Soroti IPAL dan Perizinan Dasar

22 April 2026 - 22:23 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !