Oleh: Imam Sodikin
“Jalan sunyi” bukan sekadar diksi. Ia adalah bisikan jiwa yang lahir dari kedalaman pengalaman rohani seorang pujangga, budayawan, dan guru spiritual: Cak Nun.
Istilah ini pertama kali dikenal publik lewat karya beliau, sebuah buku yang tidak hanya memuat teks, tapi juga merekam refleksi batin dalam perjalanan panjang menuju Tuhan. Kata itu hadir bukan untuk mencari panggung, melainkan sebagai laku yang dijalani—dalam diam, dalam kontemplasi.
Berbeda dengan para kyai yang barangkali memilih istilah seperti “husnul khotimah” sebagai simbol tujuan hidup yang baik, Cak Nun memilih ungkapan yang merdeka: jalan sunyi. Dalam kebudayaan Islam Indonesia, penggunaan simbol Arab memang lebih lazim, namun jalan sunyi mengandung keintiman yang tak bisa dijelaskan hanya lewat konvensi bahasa. Ia adalah pilihan kata yang mengalir dari kedalaman rasa seorang penyair.
Bagi jamaah Maiyah, istilah ini bukan kata asing. Ia adalah cermin laku hidup yang tenang, jalan damai yang menolak ambisi berlebihan, serta menolak menggunakan orang lain demi tujuan pribadi. Ia adalah jalan para kekasih Tuhan—jalan yang sunyi dari pamrih, bebas dari gemerlap dunia yang justru sering meninggalkan hampa.
Saya, Imam Sodikin, berdiri sebagai bagian dari jamaah ini. Pertama kali saya hadir di pengajian Padang Mbulan Jombang, ketika jalan menuju Desa Menturo masih berupa makadam. Kala itu, pengajian belum ramai. Yang hadir pun tokoh-tokoh sederhana seperti Asmuni Srimulat, Kartolo, dan Haji Rhoma Irama.
Seiring waktu, pengajian Padang Mbulan menjadi tempat berziarah hati bagi banyak orang. Artis, seniman, pejabat, dan tokoh-tokoh nasional mulai hadir. Bahkan, akses jalan menuju lokasi pengajian dibangun dengan dana dari para pendukungnya yang memilih tetap anonim. Sebuah gotong – royong spiritual yang tak mencari pujian, melainkan berkah.
Kini, dalam era yang riuh oleh ambisi dan pencitraan, jalan sunyi tetap relevan. Ia menawarkan ketenangan, kesederhanaan, dan spiritualitas yang tidak ribut. Jalan ini mengajak kita kembali ke pusat jiwa—tempat di mana yang suci tak butuh sorotan.
*) Penulis adalah Kolumnis, Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen, di Kepanjen.
*)Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis




















































