Jalan Sunyi: Tafsir Perjalanan Jiwa - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 1 Agu 2025 18:35 WIB ·

Jalan Sunyi: Tafsir Perjalanan Jiwa


 Imam Sodikin Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen, di Kepanjen. (Imam for Baca Malang) Perbesar

Imam Sodikin Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen, di Kepanjen. (Imam for Baca Malang)

Oleh: Imam Sodikin

“Jalan sunyi” bukan sekadar diksi. Ia adalah bisikan jiwa yang lahir dari kedalaman pengalaman rohani seorang pujangga, budayawan, dan guru spiritual: Cak Nun.

Istilah ini pertama kali dikenal publik lewat karya beliau, sebuah buku yang tidak hanya memuat teks, tapi juga merekam refleksi batin dalam perjalanan panjang menuju Tuhan. Kata itu hadir bukan untuk mencari panggung, melainkan sebagai laku yang dijalani—dalam diam, dalam kontemplasi.

Berbeda dengan para kyai yang barangkali memilih istilah seperti “husnul khotimah” sebagai simbol tujuan hidup yang baik, Cak Nun memilih ungkapan yang merdeka: jalan sunyi. Dalam kebudayaan Islam Indonesia, penggunaan simbol Arab memang lebih lazim, namun jalan sunyi mengandung keintiman yang tak bisa dijelaskan hanya lewat konvensi bahasa. Ia adalah pilihan kata yang mengalir dari kedalaman rasa seorang penyair.

Bagi jamaah Maiyah, istilah ini bukan kata asing. Ia adalah cermin laku hidup yang tenang, jalan damai yang menolak ambisi berlebihan, serta menolak menggunakan orang lain demi tujuan pribadi. Ia adalah jalan para kekasih Tuhan—jalan yang sunyi dari pamrih, bebas dari gemerlap dunia yang justru sering meninggalkan hampa.

Saya, Imam Sodikin, berdiri sebagai bagian dari jamaah ini. Pertama kali saya hadir di pengajian Padang Mbulan Jombang, ketika jalan menuju Desa Menturo masih berupa makadam. Kala itu, pengajian belum ramai. Yang hadir pun tokoh-tokoh sederhana seperti Asmuni Srimulat, Kartolo, dan Haji Rhoma Irama.

Seiring waktu, pengajian Padang Mbulan menjadi tempat berziarah hati bagi banyak orang. Artis, seniman, pejabat, dan tokoh-tokoh nasional mulai hadir. Bahkan, akses jalan menuju lokasi pengajian dibangun dengan dana dari para pendukungnya yang memilih tetap anonim. Sebuah gotong – royong spiritual yang tak mencari pujian, melainkan berkah.

Kini, dalam era yang riuh oleh ambisi dan pencitraan, jalan sunyi tetap relevan. Ia menawarkan ketenangan, kesederhanaan, dan spiritualitas yang tidak ribut. Jalan ini mengajak kita kembali ke pusat jiwa—tempat di mana yang suci tak butuh sorotan.

*) Penulis adalah Kolumnis, Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen, di Kepanjen.

*)Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Artikel ini telah dibaca 117 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

“Pokoknya Ada” dan Ilusi Partisipasi Anggaran

24 April 2026 - 11:08 WIB

Melukis Malang dalam Busana

21 April 2026 - 18:27 WIB

Refleksi Hari Kartini: Perempuan dan Pendidikan, Warisan Kartini di Era Modern

21 April 2026 - 15:29 WIB

Etika Politik yang Makin Tidak Elok

17 April 2026 - 15:54 WIB

Permisif terhadap Perubahan yang Merusak

23 Maret 2026 - 12:00 WIB

Alun-Alun Kepanjen, Ujian Administrasi Sekda, dan Pertanyaan Sunyi tentang Bank Jatim Sebagai Bank Persepsi

24 Februari 2026 - 17:01 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !