BACAMALANG.COM – Panji Laras merupakan putra dari pasangan Raden Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Namun, sang ibu dibuang dalam keadaan hamil muda hingga Panji Laras lahir dan dibesarkan di tengah hutan. Sosok Dewi Sekartaji kemudian digantikan oleh Dewi Wadal Werdi, putri seorang begawan dari bangsa raksasa, yang menyerupai Sekartaji. Dewi Wadal Werdi sangat mencintai Panji Asmorobangun hingga menikah dan melahirkan seorang putra bernama Panji Gurowongso.
Kisah berlanjut ketika Panji Laras dan Panji Gurowongso akhirnya dipertemukan. Keinginan Panji Laras untuk bertemu ayahnya membawanya mengikuti adu ayam jago yang digelar Panji Gurowongso di alun-alun Negara Jenggolo. Pertarungan pun tak terelakkan setelah Panji Gurowongso tidak menerima kekalahan ayam jagonya dari milik Panji Laras.
Pertikaian tersebut dilerai oleh Jarodeh, tokoh yang identik dengan punakawan Semar dalam pewayangan. Jarodeh kemudian menggelar sayembara kendi dengan syarat, siapa pun yang mampu masuk ke dalam kendi tersebut adalah putra asli Panji Asmorobangun. Panji Gurowongso berhasil masuk ke dalam kendi tanpa menyadari bahwa hal tersebut merupakan jebakan. Setelah kendi dipecahkan, Panji Gurowongso berubah menjadi seekor naga bernama Naga Tahun.
Kisah tersebut merupakan sinopsis pementasan Wayang Topeng Ragam Kedungmonggo “Panji Laras” yang dipentaskan oleh Sanggar Padma Puspita bekerja sama dengan Karimoen Centre di Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Jalan Majapahit, Kota Malang, Jumat (26/12/2025).

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita, beserta sejumlah kepala OPD Kota Malang berfoto bersama pendukung Wayang Topeng Ragam Kedungmonggo Panji Laras, oleh Sanggar Padma Puspita bersama Karimoen Centre di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM), Jalan Majapahit Kota Malang, Jumat (26/12/2025). (Nedi Putra AW)
Sebelum pementasan utama, acara diawali dengan sejumlah tarian pembuka, di antaranya Tari Kebar Malang, Tari Gading Alit, Tari Grebeg Jowo, dan Tari Beskalan Jangkep. Adapun pementasan Wayang Topeng dibagi ke dalam delapan bagian, melibatkan sedikitnya 40 penari anak-anak tingkat SD dan SMP, dengan iringan musik dari tim Karimoen Centre. Keseluruhan pergelaran berlangsung lebih dari satu jam.
Pementasan ini berada di bawah tanggung jawab Santy Peni Prasetyo, dengan Dimas Bagus Atmananto sebagai penata tari, Dimas Bagas Atmanadi sebagai penata iringan, serta Hery Budiyanto sebagai penulis naskah sekaligus pengatur laku.
Hery Budiyanto mengungkapkan bahwa pementasan tersebut dapat terlaksana karena Sanggar Padma Puspita telah lama mempelajari wayang topeng, khususnya Wayang Topeng Panji.
“Pementasan ini merupakan progres dari latihan anak-anak kami selama satu tahun terakhir, yang didukung penuh oleh tim Karimoen Centre serta para orang tua wali murid,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DKM Dimas Novib Septino menyampaikan bahwa Gebyak Wayang Topeng rutin digelar sebanyak tiga kali dalam setahun.
“Tujuannya sebagai upaya merawat dan melestarikan seni warisan leluhur. Sanggar Padma Puspita menjadi salah satu sanggar yang sangat aktif di sini, dan kami berharap ini dapat menjadi stimulan bagi sanggar-sanggar seni lainnya,” jelasnya.
Menurut Dimas, kegiatan ini juga menjadi sarana merangkul generasi muda atau Gen-Z agar lebih mencintai budaya lokal.
“Terbukti, seluruh penarinya berasal dari kalangan anak-anak dan remaja,” tegasnya.
Selain itu, kegiatan ini turut mengenalkan tokoh-tokoh seni Malang yang berjasa dalam pengembangan dan pelestarian budaya, khususnya seni tari.
“Seperti Tari Kebar Malang dan Gading Alit, yang merupakan tari kreasi khas Malang karya almarhum Chattam Amat Rejo, seorang seniman ludruk dan penatar keliling Topeng Malang Raya,” tambahnya.
Acara ini turut dihadiri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat dan Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita, bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Malang.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi pementasan seni tari di DKM tersebut dan menyatakan komitmennya untuk memberikan dukungan melalui berbagai program pada tahun 2026 mendatang.
“Ini pertunjukan yang luar biasa, terlebih para penarinya masih sangat muda. Ke depan, saya akan menata kembali kawasan DKM yang terintegrasi dengan Kayutangan Heritage agar mampu menghidupkan pentas-pentas berbasis kearifan lokal,” pungkasnya.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































