BACAMALANG.COM — Tidak semua orang dapat menanam secara konvensional. Selain membutuhkan lahan yang cukup luas, metode ini juga memerlukan pupuk, penyiraman rutin setiap hari, serta menghadapi risiko hama dan gagal panen.
Belakangan, sistem hidroponik sebagai bagian dari urban farming kembali menarik perhatian masyarakat. Hal ini seperti yang dilakukan SMAY!, komunitas yang mengusung konsep pertanian hidroponik skala rumahan sebagai solusi menghadirkan pangan segar di tengah keterbatasan lahan.
Tidak sekadar bercocok tanam, SMAY! menghadirkan hidroponik ke ruang publik, seperti kafe dan restoran. Founder SMAY!, Mitha Lidwina, saat ditemui BacaMalang.com dalam kegiatan penyemaian di Casa De Artisan E Patisserie, Selasa (28/4/2026), menyampaikan bahwa terdapat tiga kunci utama kesehatan, yakni olahraga, pola makan sehat, dan istirahat yang cukup.
“Selama ini, makan sehat belum seheboh olahraga seperti padel, tenis, yoga, pilates, atau jogging. Karena itu, kami mencoba mengembangkan konsep makanan sehat dengan ekosistem yang mengalir dan berkelanjutan,” terangnya.
Aktivitas SMAY! yang dimulai sejak Agustus 2025 ini masih menyasar dua kafe di Malang. Namun, Mitha menegaskan bahwa tujuan utama SMAY! adalah mempromosikan sistem hidroponik yang dapat diterapkan di rumah atau lahan terbatas. Dengan lahan sekitar 1,5 x 1,5 meter, sistem portable ini mampu menampung hingga 72 lubang tanam, atau versi lebih kecil dengan 36 lubang tanam.

Kolaborasi dekoratif hidroponik SMAY! dan yang Casa De Artisan E Patisserie berlokasi di Jalan Lamongan Nomor 10, Oro-oro Dowo, Kota Malang. (Nedi Putra AW)
Ia menjelaskan bahwa segmen yang disasar adalah kalangan menengah ke atas. Sementara salah satu syarat utama hidroponik adalah paparan sinar matahari yang cukup. Oleh karena itu, SMAY! berkolaborasi dengan kafe dan restoran sebagai hub atau titik temu, khususnya anak muda .
“Kami hanya menegaskan, bahwa bercocok tanam itu mudah, dapat dilakukan dengan bersih, seryta berefek terapeutik karena bisa menjadi bagian dari dekorasi ruangan,” jelas perempuan berkacamata ini.
Dalam praktiknya, SMAY! menggunakan peralatan seperti gully (pipa atau saluran berbahan khusus) serta pompa air skala akuarium. Modal yang dibutuhkan pun relatif terjangkau, sekitar Rp3 jutaan per unit, termasuk bibit tanaman.
Sistem yang digunakan adalah metode Nutrient Film Technique (NFT), yakni aliran nutrisi yang terus-menerus mengalir melalui akar tanaman untuk memastikan suplai oksigen dan nutrisi optimal. Pompa listrik beroperasi selama 24 jam, dengan modifikasi khusus agar tetap berjalan saat terjadi pemadaman listrik.
Mitha juga menguraikan sejumlah keunggulan hidroponik, antara lain masa panen yang relatif cepat, yakni setiap 30–40 hari, serta efisiensi penggunaan air hingga 90 persen. Selain itu, nutrisi tanaman lebih terkontrol dan bebas pestisida. Untuk menjaga kontinuitas panen, proses penyemaian dapat dilakukan secara bertahap pada tiap kelompok lubang tanam.
“Melalui SMAY!, kami sengaja mengampanyekan bahwa semua orang bisa bertani sejak usia muda, tanpa harus menunggu masa pensiun atau memiliki latar belakang petani, namun dengan cara fun atau menyenangkan,” ungkap alumnus Jurusan Akuntansi Universitas Ma Chung tersebut.
Nama SMAY! sendiri diambil dari kata “semai”, yang bermakna menumbuhkan bibit. Filosofinya adalah bertumbuh dari hal kecil menuju dampak yang lebih besar dan membawa kebaikan.
Adapun tanaman yang dipilih adalah selada, mengingat popularitasnya sebagai bahan makanan segar untuk salad, burger, maupun lalapan. Mitha juga membangun jejaring dengan pelaku usaha kuliner yang kerap mengalami kendala dalam mendapatkan pasokan sayuran premium secara konsisten.

Salah satu menu salad di Casa De Artisan E Patisserie dengan salah satu bahan selada romaine hasil panen hidroponik SMAY!. (Nedi Putra AW)
Menurutnya, hidroponik kini telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Kalangan milenial dan Gen Z dinilai semakin peduli terhadap kesehatan sekaligus melihat potensi ekonomi dari sistem ini. Selain dikonsumsi sendiri, hasil panen juga dapat dijual, yang tentunya menghasilkan secara ekonomi.
SMAY! mengenalkan konsep ini melalui beberapa kegiatan panen bersama, dengan melibatkan komunitas dan anak muda untuk memanen sayuran premium seperti butterhead lettuce, red oakleaf, dan romaine, sekaligus belajar langsung tentang hidroponik.
“Saya berharap ke depan dapat mengembangkan hidroponik sebagai konsep farm to table,” tandasnya.
Sementara itu, Manager Casa De Artisan E Patisserie, Yoga Danies, menyebut kolaborasi ini berangkat dari kebutuhan bahan baku sayuran untuk menu kafe.
“Awalnya saya melihat jenis sayuran yang bisa dipanen melalui sistem ini. Ternyata ada beberapa jenis selada yang sulit ditemukan di pasar, sehingga kebutuhan kami sesuai dengan apa yang bisa dihasilkan SMAY!,” ujarnya.
Kafe yang berlokasi di Jalan Lamongan Nomor 10, Oro-oro Dowo, Kota Malang tersebut memang mengusung konsep bahan lokal dengan sentuhan modern, seperti pada menu salad dan pizza yang disajikan.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































