BACAMALANG.COM – Kantong plastik kresek yang selama ini identik sebagai limbah ternyata bisa disulap menjadi produk yang menarik dan bernilai guna. Hal itu dibuktikan oleh para siswa SRMP 16 Malang melalui workshop daur ulang plastik yang digelar di ruang kelas mereka, Kamis (18/6/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para siswa belajar mengolah limbah plastik kresek menjadi dompet atau pouch serbaguna. Workshop ini merupakan hasil kolaborasi antara SRMP 16 Malang dan organisasi pengelolaan sampah lokal, iLitterless Indonesia.
Edukasi Kreatif untuk Mengurangi Sampah Sekolah
Aktivitas sekolah setiap hari tidak lepas dari produksi sampah, terutama kemasan makanan dan minuman yang dibawa siswa. Melihat kondisi tersebut, Kepala SRMP 16 Malang, Dr. Rida Afrilyasanti, S.Pd., M.Pd., memandang persoalan sampah sebagai peluang edukasi yang dapat memberikan manfaat jangka panjang.
“Alhamdulillah kami sangat mengapresiasi iLitterless Indonesia yang sudah berkenan berkolaborasi dengan kami, sehingga anak-anak bisa belajar banyak tentang cara mendaur ulang sampah,” ujar Rida.
Menurutnya, keterampilan sederhana seperti ini tidak hanya mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bekal kewirausahaan bagi para siswa di masa depan.
“Anak-anak harus melek terhadap peluang yang ada di sekitarnya. Siapa tahu ini bisa menjadi usaha bagi mereka. Bahannya mudah ditemukan dari lingkungan sekitar, alatnya juga sederhana dan hampir pasti tersedia di rumah. Jadi mereka bisa memanfaatkan apa yang ada,” tambahnya.
Mengenal Upcycling, Mengubah Sampah Menjadi Produk Bernilai
Dalam workshop tersebut, iLitterless Indonesia memperkenalkan konsep upcycling, yakni proses mengolah barang bekas menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan estetika lebih tinggi.
Founder iLitterless Indonesia, Ence, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengajak siswa melihat sampah plastik dari sudut pandang yang berbeda.
“Kami mengajarkan adik-adik untuk memanfaatkan kembali limbah plastik, khususnya kantong kresek, melalui proses upcycling. Dari limbah tersebut bisa dihasilkan pouch atau dompet yang lucu dan bermanfaat,” jelasnya.
Meski sempat menghadapi beberapa kendala teknis selama praktik, antusiasme para siswa tetap tinggi hingga kegiatan berakhir.
Dari Kegagalan Menjadi Semangat Belajar
Proses mengubah plastik kresek menjadi dompet memerlukan ketelitian, terutama saat tahap penyetrikaan menggunakan alat pemanas. Beberapa siswa sempat mengalami kegagalan pada percobaan pertama, namun hal tersebut justru memacu mereka untuk mencoba kembali.
Education and Outreach Coordinator iLitterless Indonesia, Nina, mengaku terkesan dengan semangat para peserta.
“Tadi ada beberapa adik-adik yang sempat gagal karena baru pertama kali mencoba. Mereka tidak puas dengan hasil pertama, lalu langsung bersemangat membuat yang kedua. Semangat seperti itu yang saya suka dari mereka,” tuturnya.
Nina menambahkan, iLitterless Indonesia terbuka untuk berkolaborasi dengan sekolah maupun komunitas lain yang ingin mengedukasi generasi muda mengenai pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.
Menanamkan Budaya Sirkular Sejak Dini
Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan, kegiatan ini membawa misi untuk menanamkan budaya peduli lingkungan sejak usia sekolah. Melalui pemanfaatan kembali sampah plastik, para siswa diajak memahami konsep ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Ketua Pelaksana kegiatan, Mochammad Zainul, menegaskan bahwa kolaborasi antara SRMP 16 Malang dan iLitterless Indonesia merupakan langkah nyata dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan pelajar.
“Workshop daur ulang ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara SRMP 16 dan iLitterless dalam mengedukasi siswa mengenai pengelolaan sampah plastik kresek. Kami tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis mengubah limbah menjadi kerajinan bernilai estetika, tetapi juga menanamkan kepedulian lingkungan dan budaya sirkular yang berkelanjutan sejak dini,” tegasnya.
Melalui langkah sederhana yang dimulai dari ruang kelas, diharapkan kesadaran untuk memilah, menghargai, dan mengolah sampah dapat tumbuh menjadi kebiasaan positif yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Kontributor: Tri Wahyu
Editor: Rahmad Mashudi Prayoga





















































