BACAMALANG.COM – Tradisi Bersih Desa dan Sedekah Bumi di Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, berlangsung meriah dan penuh makna, Sabtu (20/6/2026). Ratusan warga memadati jalur kirab budaya yang menampilkan beragam gunungan hasil bumi sebagai wujud rasa syukur atas berkah dan rezeki yang diterima masyarakat.
Kirab budaya diawali dengan arak-arakan grebeg gunungan berisi hasil bumi seperti polowijo, buah-buahan, sayuran, hingga berbagai hasil pertanian lainnya. Selain itu, setiap RW juga membawa ancak berisi nasi tumpeng dan nasi kuning menuju Pendopo Desa Bedali.
Keunikan kirab tahun ini terlihat dari kreativitas warga dalam membentuk gunungan. Tidak semua gunungan dibuat menyerupai kerucut seperti umumnya. Beberapa RW menghadirkan karya yang menarik perhatian, seperti gunungan berbentuk tikus dari RW 3 dan gunungan berbentuk naga dari RW 10.
Namun, perhatian terbesar tertuju pada karya RW 4 yang dikenal sebagai Kampung Karya. Mereka menghadirkan gunungan berbentuk kuda jingkrak setinggi dua meter yang diberi nama “Si Jaka”, singkatan dari Jaran Kacang, karena sebagian besar tubuhnya tersusun dari kacang panjang.
“Untuk membuat gunungan kuda setinggi dua meter ini setidaknya menghabiskan 100 kilogram kacang panjang, 50 kilogram ucet, 10 kilogram cabai merah, 10 kilogram wortel, serta berbagai hasil bumi lainnya,” ujar Andri Nurpujo, Sekretaris RW 4 sekaligus pencetus ide Si Jaka.
Menurut Andri, seluruh bahan yang digunakan merupakan hasil gotong royong warga RW 4. Setelah daftar kebutuhan dibagikan melalui grup WhatsApp, warga secara sukarela menyumbangkan berbagai hasil bumi untuk mewujudkan gunungan tersebut.
Ia mengungkapkan, ide pembuatan gunungan berbentuk kuda muncul setelah mencari konsep yang unik dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Menariknya, desain Si Jaka dibuat dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Awalnya saya mencari ide gunungan berbentuk kuda dengan memanfaatkan teknologi AI untuk mendapatkan model yang unik. Dari situ saya memperoleh desain lengkap beserta kerangka dan bahan yang dibutuhkan,” jelasnya.
Proses pembuatan Si Jaka memakan waktu sekitar dua pekan. Warga bergotong royong mulai dari menyusun kerangka bambu hingga menghiasnya dengan kacang panjang dan berbagai hasil bumi lainnya.
Saat kirab berlangsung, lebih dari 16 orang diperlukan untuk mengusung gunungan tersebut. Dengan mengenakan busana tradisional bernuansa Bali, para pembawa Si Jaka menempuh perjalanan sekitar 1,5 kilometer menuju Pendopo Desa Bedali.
Tradisi Sedekah Bumi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat Desa Bedali atas perlindungan, keselamatan, dan rezeki yang melimpah. Setelah seluruh gunungan dari masing-masing RW berkumpul di pendopo desa, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.
Usai doa dipanjatkan, warga langsung berbondong-bondong mengikuti tradisi “Jabutan”, yakni berebut hasil bumi yang telah didoakan. Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk ngalap berkah dari hasil bumi yang telah disyukuri bersama.
Momen Jabutan menjadi puncak kemeriahan Sedekah Bumi Desa Bedali 2026 yang bertepatan dengan 4 Suro atau 4 Muharam 1448 Hijriah. Tak terkecuali Si Jaka, sang Jaran Kacang kebanggaan RW 4, yang dalam hitungan menit habis dijabuti warga. Kuda raksasa berbahan kacang panjang itu pun tinggal menyisakan kerangka bambu sebagai saksi antusiasme masyarakat dalam merayakan tradisi warisan leluhur.
Pewarta: Supriyadi/Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



















































