BACAMALANG.COM – Pemadaman listrik bergilir yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Malang Raya menuai keluhan dari masyarakat. Tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, kondisi tersebut juga berdampak pada sektor usaha, pekerjaan, hingga kegiatan pendidikan dan kreatif yang bergantung pada pasokan listrik.
Salah satu keluhan datang dari Anang, pelaku usaha makanan beku dan es tube di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Menurutnya, pemadaman listrik yang berlangsung cukup lama berpotensi menyebabkan kerugian karena produk yang disimpan di dalam freezer mudah rusak.
“Listrik yang sering padam sangat berpengaruh bagi usaha saya. Makanan beku dan es tube bisa mencair sehingga tidak layak dijual lagi. Selain itu, kebutuhan rumah tangga seperti pasokan air untuk mandi, mencuci, dan keperluan lainnya juga terganggu,” ujar Anang kepada Bacamalang, Senin (22/6/2026).
Ia berharap pihak terkait segera menemukan solusi agar gangguan serupa tidak terus berulang dan pelayanan kelistrikan semakin baik ke depannya.
Keluhan serupa disampaikan Willy, seorang guru mengaji di Kecamatan Gedangan. Ia mengaku kehilangan waktu dan tenaga saat komputer yang digunakan untuk mengedit video mendadak mati akibat pemadaman listrik pada 20 Juni 2026.
Saat itu, Willy tengah menyelesaikan proses penyuntingan video untuk diunggah ke kanal YouTube Madinatul Ulum di kantor Taman Pendidikan Al-Qur’an Madinatul Ulum.
“Ketika sedang mengedit video, tiba-tiba listrik padam dan komputer mati. Akibatnya pekerjaan terhenti. Harapan saya, manajemen pemadaman bisa diperbaiki karena masyarakat juga rutin membayar tagihan listrik. Kerugiannya memang tidak selalu berupa materi, tetapi waktu dan tenaga yang terbuang,” ungkapnya.
Sementara itu, Hikam, warga Kecamatan Singosari, mengalami pemadaman listrik saat mengerjakan tugas sekaligus mengedit video milik klien di sebuah kafe pada 19 Juni 2026 sekitar pukul 18.30 WIB.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi yang lebih transparan terkait alasan dan jadwal pemadaman.
“Kalau memang ada pembenahan sistem, sebaiknya prosesnya dipercepat dan informasinya lebih terbuka. Warga perlu tahu penyebab terjadinya pemadaman listrik bergilir,” katanya.
Dampak pemadaman juga dirasakan oleh pelaku usaha laundry. Icee, pemilik usaha laundry di kawasan Klayatan Gang 2, Kecamatan Sukun, Kota Malang, mengaku aktivitas usahanya terganggu ketika listrik padam selama sekitar empat jam pada Jumat lalu.
“Listrik mati mulai pukul 16.00 WIB dan baru menyala sekitar pukul 20.00 WIB. Usaha laundry sangat bergantung pada listrik sehingga pekerjaan menjadi tertunda. Kalau memang harus ada pemadaman, harapannya jangan terlalu sering dan jangan berlangsung lama,” tuturnya.
Di sektor rumah tangga, Sri Sulistyani, warga Jalan Kauman, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, juga merasakan dampak yang tidak kalah merepotkan. Menurutnya, pemadaman listrik membuat berbagai aktivitas harian menjadi terbatas.
“Kalau listrik padam, penggunaan air harus dihemat karena pompa tidak berfungsi. Mengisi daya telepon genggam tidak bisa, sementara penggunaan kulkas dan setrika juga ikut terganggu,” jelasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Malang Raya terkait penyebab maupun jadwal pasti pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut.
Masyarakat berharap adanya informasi yang lebih jelas dan terjadwal agar dapat melakukan antisipasi sehingga kerugian akibat pemadaman listrik dapat diminimalkan.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































