BACAMALANG.COM – Desainer muda Migi Rihasalay kembali mencuri perhatian dalam gelaran Malang Fashion Runway (MFR) ke-7 2026 di Malang Town Square (Matos), Minggu (12/7/2026) malam. Lewat koleksi bertajuk Mother Earth, Migi menghadirkan delapan rancangan busana yang tak sekadar menampilkan estetika, tetapi juga membawa pesan kuat tentang kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Koleksi tersebut menggambarkan perjalanan bumi, mulai dari awal terciptanya kehidupan, kerusakan alam akibat eksploitasi manusia, hingga harapan untuk memulihkan lingkungan melalui gerakan penghijauan. Seluruh konsep diperagakan oleh para model dalam balutan busana yang sarat makna dan filosofi.
Migi mengatakan, Mother Earth merupakan karya ke-15 yang berhasil ia ciptakan selama berkarier sebagai desainer. Dari total 12 rancangan yang dipersiapkan, delapan di antaranya ditampilkan di atas panggung MFR 2026.
Menurutnya, inspirasi koleksi tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi bumi yang terus mengalami kerusakan akibat ulah manusia. Ia menilai, masyarakat kerap menyalahkan alam ketika bencana terjadi, padahal kerusakan tersebut berawal dari perilaku manusia sendiri.
“Bumi yang kita pijak saat ini adalah tempat kita hidup. Ketika terjadi bencana, kita justru menyalahkan bumi, padahal kita sendiri yang tidak menjaganya. Itulah pesan yang ingin saya sampaikan melalui koleksi ini,” ujar Migi.
Dominasi warna cokelat pada koleksi tersebut dipilih untuk menggambarkan fase awal terbentuknya bumi sebelum munculnya pepohonan dan kehidupan. Sebagai penutup pertunjukan, Migi juga menghadirkan adegan simbolis berupa aksi menanam pohon sebagai ajakan kepada masyarakat untuk kembali menjaga alam.
Tak hanya melalui permainan warna, setiap detail busana juga dirancang penuh makna. Teknik payet dibentuk menyerupai akar tanaman sebagai simbol awal kehidupan, sementara beberapa ornamen lain merepresentasikan gurun pasir yang menggambarkan kondisi bumi yang mulai mengalami kerusakan.
“Semua kehidupan dimulai dari akar dan bibit. Ada juga detail yang menggambarkan gurun pasir sebagai representasi kondisi alam yang mulai mengalami kerusakan,” jelasnya.
Bagi Migi, tampil di Malang Fashion Runway memiliki arti yang sangat istimewa. Kota Malang menjadi tempat yang membuka ruang baginya untuk berkembang sebagai desainer sejak masih duduk di bangku sekolah pada 2018.
“Malang adalah jantung hati saya. Kota ini yang menerima saya berkarya sejak masih sekolah. Karena itu, tampil lagi di Malang Fashion Runway menjadi momen yang sangat menyentuh,” ungkapnya.
Ia mengakui, menyampaikan pesan sosial melalui karya busana bukanlah hal mudah. Berbeda dengan seni lukis atau musik yang dapat menggunakan kata-kata, dunia fashion dituntut mampu menyampaikan makna melalui bentuk, warna, siluet, hingga detail rancangan.
“Menuangkan pesan melalui pakaian, tantangannya luar biasa. Tetapi saya bersyukur bisa menyampaikan apa yang ada di pikiran saya sehingga terealisasi lewat karya ini,” pungkasnya.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































