BACAMALANG.COM – Tema Hari Pers Nasional 2026 “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”. Peringatan ini menjadi momentum refleksi atas peran pers dalam dunia akademik yang semakin relevan di tengah derasnya arus informasi. Pers tidak hanya berfungsi sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai mitra strategis perguruan tinggi dalam menyebarkan hasil riset dan inovasi agar dapat diakses masyarakat luas. Sebaliknya, akademik memberi fondasi ilmiah bagi pers sehingga informasi yang disajikan lebih berbobot dan terhindar dari disinformasi.
Rektor Universitas Kepanjen, Dr. Tri Nurhudi Sasono, S.Kep., Ns., M.Kep., yang juga dikenal sebagai aktivis kesehatan, serta Ketua Warga Peduli AIDS Turen, menegaskan: “Pers dan akademik harus berjalan beriringan. Pers sehat akan memperkuat literasi publik, sementara akademik memberi fondasi ilmiah agar berita tidak sekadar sensasi. Harapan saya, kolaborasi ini mampu menciptakan bangsa yang kritis, berdaya, dan berdaulat, berdampak dan bermanfaat”.
Pria yang aktif dalam pendampingan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), edukasi masyarakat, hingga pemberdayaan ekonomi melalui peluncuran usaha terapi tradisional bagi relawan dan warga binaan ini mengungkapkan, sinergi ini membuka potensi besar, mulai dari literasi publik hingga penguatan demokrasi. Meski demikian, tantangan nyata masih menghadang. Data Kominfo mencatat lebih dari 11.000 konten hoaks beredar sepanjang 2025, sementara survei UNESCO menunjukkan hanya 37 persen mahasiswa di Asia Tenggara mampu membedakan berita kredibel dari berita palsu. Problem ini menuntut solusi berupa kolaborasi kampus–media dalam literasi digital, pelatihan jurnalistik mahasiswa, serta pemanfaatan media kampus sebagai laboratorium pers sehat yang melatih integritas dan akurasi.
Lelaki peraih penghargaan dari Bupati Malang sebagai pendamping pemberdayaan Warga Peduli HIV-AIDS di Kabupaten Malang pada tahun 2023 ini menjelaskan, tantangan di dunia keperawatan dan medis Indonesia juga menjadi sorotan. Menurut Profil Statistik Kesehatan 2025, rasio perawat terhadap jumlah penduduk masih belum ideal, yakni sekitar 2,7 perawat per 1.000 penduduk, jauh di bawah standar WHO yang merekomendasikan 6 perawat per 1.000 penduduk. Kondisi ini diperparah oleh distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, dengan konsentrasi terbesar di kota-kota besar, sementara daerah pedesaan masih kekurangan tenaga medis.
Pria yang intensif dalam gerakan menghapus stigma negatif terhadap ODHA lewat rutin mengadakan peringatan Hari AIDS Sedunia dengan kegiatan edukatif dan sosial, seperti lomba tradisional dan ludruk ini, mengatakan, pada sisi lain, potensi magang kerja keperawatan luar negeri menjadi peluang besar. Kebutuhan global mencapai 6,4 juta perawat, sementara Indonesia baru mampu mengirimkan sekitar 10.000 tenaga kesehatan ke luar negeri hingga 2025. Negara-negara seperti Jepang, Belanda, Korea Selatan, dan Australia membuka pintu lebar bagi tenaga keperawatan asal Indonesia, dengan tawaran kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan di dalam negeri.
Kabupaten Malang sendiri memiliki potensi besar dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Data BPS Kabupaten Malang 2025 menunjukkan peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) hingga 73,12, dengan kontribusi signifikan dari sektor pendidikan dan kesehatan. Namun, disparitas antarwilayah masih menjadi tantangan, terutama dalam akses layanan kesehatan dan kualitas pendidikan.
Sorotan solusi ke depan adalah memperkuat kolaborasi antara pers, akademik, dan pemerintah daerah. Pers dapat menyoroti problematika distribusi tenaga kesehatan, sementara akademik menghadirkan riset dan inovasi untuk menjawab kebutuhan. Pemerintah daerah seperti Kabupaten Malang dapat menjadi laboratorium kebijakan yang mengintegrasikan potensi lokal dengan peluang global, termasuk program magang internasional bagi tenaga keperawatan.
Dengan pers yang sehat, akademik yang kuat, dan dukungan kebijakan yang tepat, bangsa Indonesia memiliki fondasi kokoh untuk menghadapi tantangan global sekaligus menjaga kedaulatan informasi di era digital.
“Bersama pers kita bisa memberikan kekuatan bagi kampus-kampus perguruan tinggi untuk lebih Berdampak dan Bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dengan slogan “Kepanjen KEREN” artinya meskipun dari kabupaten, tidak kalah KEREN dengan kampus-kampus besar di perkotaan level nasional bahkan kampus internasional,” pungkasnya.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































