Pagar Jembatan Suhat Kota Malang Dibangun, Akademisi UB Soroti Darurat Kesehatan Mental - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 21 Agu 2026 10:57 WIB ·

Pagar Jembatan Suhat Kota Malang Dibangun, Akademisi UB Soroti Darurat Kesehatan Mental


 Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Timur memasang pagar setinggi hampir dua meter di sisi timur Jembatan Soekarno-Hatta Kota Malang sebagai langkah pencegahan bunuh diri setelah tercatat 4 orang menjatuhkan diri pada 2024-2025, dan Akademisi FISIP UB Anif Fatma Chawa, Ph.D., menilai ini langkah nyata yang tepat namun baru menyasar pencegahan fisik. (ist) Perbesar

Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Timur memasang pagar setinggi hampir dua meter di sisi timur Jembatan Soekarno-Hatta Kota Malang sebagai langkah pencegahan bunuh diri setelah tercatat 4 orang menjatuhkan diri pada 2024-2025, dan Akademisi FISIP UB Anif Fatma Chawa, Ph.D., menilai ini langkah nyata yang tepat namun baru menyasar pencegahan fisik. (ist)

BACAMALANG.COM – Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Timur melakukan pemasangan pagar setinggi hampir dua meter di sisi timur Jembatan Sukarno-Hatta (Suhat), Kota Malang, beberapa waktu lalu. Pemasangan ini menjadi langkah pencegahan terjadinya bunuh diri yang kerapkali dilakukan di jembatan yang berada di jantung Kota Malang tersebut.

Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), Anif Fatma Chawa, Ph.D., memberikan respon dan sorotan terkait hal ini.

“Pemasangan pagar di jembatan Suhat merupakan satu langkah nyata yang tepat. Namun, upaya ini baru menyasar pada pencegahan fisik atau tubuh seorang individu agar tidak melakukan tindakan bunuh diri,” ujar Anif, kepada bacamalang, Jumat (21/8/2026).

Pemasangan pagar setinggi hampir dua meter di sisi timur Jembatan Suhat, Kota Malang, menjadi pengakuan bahwa bunuh diri telah menjadi masalah sosial yang mendesak. Data kepolisian mencatat setidaknya empat orang menjatuhkan diri dari jembatan tersebut selama 2024 – 2025.

Pagar baru dipasang Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Timur setelah rentetan kejadian itu terus berulang. Namun pemagaran baru dilakukan di sisi timur. Sisi barat yang juga ramai pejalan kaki masih terbuka, padahal usulan pemagaran sudah disuarakan pihak kepolisian sejak akhir 2025.

Fenomena ini tidak bisa lagi dilihat sebatas masalah individu. Sosiolog Emile Durkheim lebih dari seratus tahun lalu menyebut bunuh diri sebagai fakta sosial. Menurutnya angka bunuh diri naik-turun mengikuti dua hal: seberapa erat ikatan individu dengan keluarga, teman dan komunitas, serta seberapa kuat norma bersama mengendalikan keinginan seseorang.

Ketika norma melemah atau berubah terlalu cepat, Durkheim menyebutnya anomie. Keinginan manusia tidak lagi punya batas jelas sehingga kesenjangan antara harapan dan kenyataan melebar. Ditambah dukungan sosial yang berkurang, individu rentan menanggung beban sendirian.

Kondisi itu nyata di Kota Malang. Sebagai kota pendidikan terbesar di Jatim, Malang tiap tahun menerima gelombang mahasiswa baru dari luar daerah. Mereka meninggalkan jaringan sosial di daerah asal, sementara di lingkungan baru ikatan itu belum tentu langsung terbentuk. Tekanan akademik, tuntutan orang tua, standar sukses yang berubah, dan ketidakpastian kerja juga membuat batas harapan menjadi kabur.

Media sosial menambah kompleksitas. Meski terhubung dengan ratusan orang secara daring, banyak anak muda justru merasa lebih kesepian karena interaksi di layar cenderung dangkal. Standar kesuksesan yang dipertontonkan di media sosial juga sering tidak realistis dan membuat banyak orang merasa tertinggal.

Pemasangan pagar terbukti efektif di beberapa tempat. Di Golden Gate Bridge, San Francisco, angka kejadian turun tajam setelah pagar dipasang dan tidak serta merta “pindah” ke lokasi lain. Di Jembatan Cangar, Kota Batu, pemagaran juga dilengkapi lampu penerangan dan baliho berisi pesan dukungan serta nomor bantuan psikologis.

Namun pagar saja tidak cukup. Tantangan besar lainnya adalah stigma terhadap kesehatan mental. Banyak orang memilih diam karena takut mendapat stigma. Tanda-tanda gangguan mental juga sering tidak dikenali keluarga, teman kos, dosen, hingga tetangga. Seminar dan selebaran tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kehadiran teman yang mau mendengar, kampus yang peduli, dan layanan konseling yang tidak membuat malu.

Mengacu pemikiran Durkheim, solusi efektif adalah menghidupkan kembali rasa ikatan antarindividu dan antara individu dengan kelompok. Secara konkret langkahnya dibagi tiga tahap.

Sekarang: tuntaskan pemasangan pagar di seluruh sisi jembatan. Standar di Jembatan Cangar berupa pagar, penerangan, baliho dan hotline bisa menjadi acuan.

Jangka dekat: galakkan layanan konseling dan hotline bekerja sama dengan kampus-kampus menjadi program nyata dan berkelanjutan.

Jangka panjang: rawat kembali kehangatan antar anggota keluarga, antar warga kos dan warga kampus. Mulai dari sistem pendampingan mahasiswa baru sampai tetangga yang peka pada lingkungan sekitar.

“Pemasangan pagar di Jembatan Suhat adalah langkah pencegahan fisik yang tepat. Namun yang paling dibutuhkan Kota Malang setelah ini adalah memperkuat perekat sosial agar individu tidak merasa sendirian. Pekerjaan rumah ini tidak mudah, tapi harus dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.

Diketahui, Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Timur memasang pagar setinggi hampir 2 meter di sisi timur Jembatan Soekarno-Hatta mulai sisi utara hingga selatan pada Agustus 2026 dilakukan karena jalan tersebut berstatus jalan provinsi dan merespons maraknya kejadian bunuh diri.

Pj Sekda Kota Malang Dandung Djulharjanto mengatakan pihaknya tidak mengajukan, namun menjadi respon Pemprov karena selama ini banyak kejadian bunuh diri yang diharapkan memberi rasa nyaman dan aman bagi pejalan kaki, sekaligus mengajak masyarakat ikut memelihara agar tidak digunakan untuk hal di luar peruntukannya.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

UB Berangkatkan Bantuan Logistik untuk Masyarakat Terdampak Bencana di NTT

20 Agustus 2026 - 21:29 WIB

Respons Cepat Gempa Flores, ITN Malang Salurkan Air Bersih dan Tandon untuk Pengungsi

20 Agustus 2026 - 21:19 WIB

Perempuan Dibekuk Usai Curanmor Viral di Tajinan, Polisi Buru Pelaku Pria

20 Agustus 2026 - 17:45 WIB

Polres Batu Periksa Pelapor Dugaan Penipuan Lapak PKL Alun-Alun, Terlapor Segera Dipanggil

20 Agustus 2026 - 17:30 WIB

Api Lahap Lahan Tebu di Watugede Singosari, Petugas Bergerak Cepat Cegah Api Meluas

20 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Diduga Dipicu Miras dan Masalah Pacar, Mahasiswa di Malang Tusuk Rekannya hingga Tewas

19 Agustus 2026 - 18:54 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !