BACAMALANG.COM – Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini dimanfaatkan untuk melestarikan sekaligus mengembangkan batik tradisional. Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Agus Eko Minarno, berhasil menciptakan inovasi baru berupa brand batik berbasis AI bernama “AI Nitik”.
Agus menjelaskan, AI Nitik merupakan brand teknologi kreatif yang memadukan kecerdasan buatan dengan warisan budaya batik tradisional, khususnya batik Nitik.
“Brand ini berfokus pada pengembangan model Artificial Intelligence (AI) yang mampu mempelajari karakteristik visual, struktur geometris, serta filosofi estetika dari batik Nitik untuk kemudian menghasilkan motif baru secara otomatis dan konsisten,” ujar Agus, Sabtu (14/2/2026).
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa AI Nitik dikembangkan sebagai model generatif berbasis deep learning yang dilatih menggunakan dataset motif batik Nitik autentik.
“Melalui pendekatan ini, sistem mampu memahami pola titik, garis geometris, repetisi simetris, serta komposisi khas batik Nitik yang berasal dari tradisi Yogyakarta dan sekitarnya. Hasilnya, AI dapat menghasilkan motif baru yang tetap mempertahankan identitas visual tradisional, namun dengan variasi desain yang lebih luas dan inovatif,” lanjutnya.
Agus menegaskan, tujuan utama pengembangan brand AI Nitik adalah untuk membantu para pelaku UMKM dalam menghasilkan desain batik secara lebih cepat dan kreatif.
“Brand ini bertujuan mendukung pelestarian batik tradisional, mempercepat proses eksplorasi desain motif, serta membuka peluang baru dalam industri kreatif, fashion, dan digital batik. Dengan demikian, AI Nitik menjadi jembatan antara tradisi batik Nusantara dan perkembangan teknologi generative AI modern,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, proses pengembangan AI Nitik memakan waktu hingga tiga tahun. Keunggulan utama teknologi ini terletak pada pemanfaatan Generative Adversarial Networks (GANs) yang mampu mengembangkan bahkan mengombinasikan motif-motif lama menjadi motif baru.
“Dengan GANs, komputer belajar mengidentifikasi motif yang sudah ada lalu mengembangkannya menjadi motif baru. Ini juga bermanfaat sebagai simulator bagi desainer dalam menggabungkan dan mengombinasikan motif. Dalam satu detik, sistem ini bisa menghasilkan sekitar 100 motif baru,” bebernya.
Meski demikian, Agus mengakui ada sejumlah kendala dalam pengembangan AI Nitik, terutama pada proses kurasi data dan teknik pemodelan.
“Kendalanya pertama adalah tingkat kesulitannya yang tinggi. Kedua, proses kurasi, yakni menentukan motif mana yang benar-benar termasuk nitik serta deskripsi maknanya. Ketiga, tantangan teknis bagaimana menghasilkan prompt yang sesuai dengan ciri visual gambar tersebut agar hasilnya tetap konsisten,” jelasnya.
Ia berharap, inovasi yang dikembangkannya ini dapat dimanfaatkan secara luas oleh pelaku UMKM, baik untuk mendesain maupun mengimplementasikan motif batik hasil AI ke dalam produk nyata.
“Harapannya, AI Nitik bisa menjadi alat bantu bagi UMKM agar lebih kreatif, efisien, dan mampu bersaing di industri batik modern,” pungkasnya.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































