BACAMALANG.COM – Dini hari di Pantai Bajulmati, cahaya senter tampak redup di antara suara debur ombak. Seorang anak berusia 12 tahun menahan napas saat menyaksikan puluhan tukik berlari menuju laut. Tangannya masih berlumur pasir. Untuk pertama kalinya, ia melihat penyu menetas secara langsung, bukan melalui layar ponsel.
Beberapa jam sebelumnya, anak tersebut juga belajar menanam bibit mangrove. Dengan kaki terperosok lumpur, ia mendengarkan penjelasan tentang peran akar bakau dalam menahan abrasi serta kemampuannya menyimpan karbon lebih besar dibandingkan banyak jenis pohon di daratan.
Pengalaman seperti itulah yang setiap hari dihadirkan oleh Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC), pusat konservasi penyu berbasis masyarakat yang berada di Pantai Bajulmati, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.
BSTC tidak memiliki ruang kelas berpendingin udara maupun papan tulis. Sebagai gantinya, pesisir pantai, kawasan mangrove, sarang penyu, dan interaksi langsung dengan alam menjadi sarana belajar utama. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, keluarga hingga komunitas. Mereka diajak berdiskusi, melakukan pengamatan, dan terlibat langsung dalam upaya pelestarian ekosistem laut dan pesisir.
Kegiatan edukasi ini menjadi penting karena kondisi penyu laut saat ini semakin memprihatinkan. Data International Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat enam dari tujuh spesies penyu laut di dunia telah masuk kategori terancam punah. Di Indonesia, empat spesies yang rutin mendarat di pantai, yakni penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik, dan penyu belimbing, mengalami penurunan populasi hingga 50–80 persen dalam tiga dekade terakhir.
Berbagai faktor menjadi penyebabnya, mulai dari pencurian telur, rusaknya pantai peneluran akibat pembangunan dan pencahayaan berlebih, hingga pencemaran sampah plastik yang kerap dikira ubur-ubur dan dimakan oleh penyu. Indonesia sendiri masih menghadapi persoalan serius sampah plastik laut yang berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup satwa tersebut.
Ancaman juga terjadi di wilayah pesisir. Hutan mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami pantai terus mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan dan penebangan liar. Padahal, mangrove memiliki peran penting dalam mencegah abrasi, melindungi kawasan pesisir, menjadi habitat berbagai biota laut, serta menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Menurut BSTC, salah satu tantangan terbesar dalam konservasi saat ini adalah masih rendahnya keterlibatan masyarakat. Banyak orang memahami istilah konservasi, tetapi belum pernah melihat secara langsung bagaimana rapuhnya ekosistem pesisir dan laut.
Anak-anak mungkin mengenal penyu dari buku pelajaran, tetapi belum pernah melihat jejaknya di pasir. Mereka mengetahui manfaat mangrove, namun belum pernah menanam dan merawatnya. Karena itu, pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan.
Ketika peserta melihat langsung sarang penyu yang rusak atau pantai yang dipenuhi sampah, kesadaran akan pentingnya menjaga alam tumbuh dengan sendirinya. Dari kesadaran tersebut lahir tindakan sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak membeli produk yang berasal dari bagian tubuh satwa dilindungi.
“Kalau generasi muda tidak diajak mengenal alam sejak dini, mereka akan tumbuh asing dengan lautnya sendiri. Padahal Indonesia adalah negara maritim. Kesadaran lahir dari pengalaman, bukan hanya teori. Saat habitat penyu semakin menyempit dan mangrove terus berkurang, edukasi berbasis lapangan menjadi benteng penting dalam upaya konservasi. Mari bergabung di sekolah alam BSTC dan ikut terlibat menjaga lingkungan,” ujar Ketua Yayasan Konservasi Penyu (YKP) Jawa Timur yang juga Founder BSTC.
Pernyataan tersebut disampaikan saat mendampingi para pelajar mengamati ekosistem mangrove di kawasan Pantai Bajulmati. Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat: kepedulian terhadap lingkungan tidak bisa diperoleh hanya dari membaca atau menonton, melainkan harus dirasakan secara langsung.
Ke depan, tantangan konservasi tidak hanya berkaitan dengan patroli atau penegakan hukum. Yang lebih penting adalah membangun kepedulian kolektif masyarakat sebelum kerusakan semakin parah. Di tengah ancaman perubahan iklim, kenaikan suhu laut, menyempitnya kawasan peneluran, dan menurunnya populasi penyu, ruang belajar seperti BSTC menjadi semakin dibutuhkan.
Tujuannya bukan sekadar untuk rekreasi, tetapi untuk memastikan generasi mendatang tidak hanya mewarisi cerita tentang penyu, melainkan juga laut yang tetap hidup dan lestari.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



























































