Oleh: Farrell Syatir Wafi Al Ghani & M. Fahry Kurniardi Nur Santri SMA Abdul Malik Fadjar – Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar
Pada dua tahun lalu, terdapat pernyataan bahwa dunia pendidikan maupun industri tidak serta merta berjalan mulus dan bebas dari hambatan. CEO Nvidia, Jensen Huang mengatakan, era manusia menulis kode dari awal sudah berakhir. Dan sekarang dengan adanya AI generatif, seperti ChatGPT yang bisa membuat ratusan baris kode secara instan, muncul banyak pertanyaan tersirat, bagaimana dengan kemampuan coding? Sudah tidak relevan dan bakal membuat coding lessons ke depannya tidak memiliki peserta didik sama sekali?
Jawabannya justru sebaliknya. Manusia yang memahami kode, logika, dan algoritma semakin dicari. World Economic Forum, melalui Future of Jobs Report 2025, memprediksi bahwa akan ada 170 juta peran baru di pasar kerja pada 2030 dan 92 juta peran lama yang akan digeser. Peringkat keterampilan dengan pertumbuhan tertinggi yakni AI & machine learning serta big data (87%), diikuti cybersecurity (70%) dan teknologi literacy juga masuk (68%).
Indonesia juga sudah mempersiapkan dengan gerakan konkrit. Mulai tahun ajaran 2025/2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sudah membuatkan coding dan AI sebagai salah satu mata pelajaran pilihan. Bahkan, Menteri Pendidikan Indonesia, Abdul Mu’ti juga menyatakan bahwa “Coding itu bukan sekadar materi teknologi”, tetapi lebih kepada “logis, analitis, berpikir kritis dan kreatif”. Hal ini sampai mengeluarkan visi bahwa kedepannya mata pelajaran ini akan menjadi wajib dipelajari di sekolah.
Kebijakan seperti ini memiliki agenda mendesak. Pada 2030 dikemukakan bahwa Indonesia akan membutuhkan talenta digital mencapai kisaran 12 juta. Namun kita saat ini hanya dapat menyediakan talenta sekitar 3 juta saja. Artinya masih ada 9 juta talenta yang harus kita rasakan. Untuk itu, memberdayakan anak muda Indonesia dengan logika pemrograman adalah salah satu langkah mengenai ekonomi bangsa kita di masa yang akan datang, dan bukan sekedar menandingi kawannya.
Berdasarkan survei Stack Overflow terhadap 65.437 developer pada tahun 2024, 76% pengembang sudah atau bakal menggunakan tools AI sedangkan tahun lalu masih 70%. Namun yang paham terhadap keakuratan program yang dihasilkan AI hanya 43%, dan 45% merasa AI akan kesulitan membantu dalam pekerjaan rumit.
Coba kita ingat kasus Amazon di tahun 2018. Waktu itu mereka sempat membuat sistem rekrutmen otomatis berbasis AI, tapi malah jadi kontroversi karena sistemnya justru mendiskriminasi pelamar perempuan.
Kenapa bisa begitu? Ternyata data yang dipakai untuk melatih algoritmanya berasal dari satu dekade lamaran sebelumnya yang notabene didominasi oleh pria. Alhasil, mesinnya “berkesimpulan” sendiri kalau kandidat laki-laki itu lebih layak. Ini bukan sekadar bug teknis biasa, melainkan bias serius yang sudah meresap jauh ke dalam kode. Nah, untuk bisa mendeteksi dan membersihkan kekeliruan kayak gini, yang bisa ya cuma orang-orang yang bener-benar paham seluk-beluk logika di balik data tersebut.
Di tengah badai disrupsi, satu hal tetap tak terbantahkan: mereka yang menguasai bahasa mesin akan memimpin, mereka yang tidak akan terus mengikuti. Belajar coding pada 2026 bukan tentang menjadikan semua orang programmer, melainkan hak fundamental untuk memahami dunia yang kita huni. Seperti pesan Menteri Pendidikan, “AI harus kita posisikan sebagai alat untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.” Maka pertanyaan terakhir bukan lagi “haruskah saya belajar coding?”, melainkan “seberapa cepat saya bisa beradaptasi?”





















































