BACAMALANG.COM – Musim kemarau selalu membawa cerita tersendiri bagi masyarakat Malang Raya. Salah satunya adalah maraknya permainan layang-layang yang kembali menjadi hiburan favorit lintas generasi. Tidak hanya dimainkan anak-anak, lapangan-lapangan di berbagai sudut Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu setiap sore dipenuhi remaja, orang dewasa, bahkan orang tua yang menikmati keseruan menerbangkan layangan.
Fenomena ini bukan sekadar nostalgia masa kecil. Layang-layang kini berkembang menjadi hiburan sederhana yang mampu menyatukan keluarga, mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui para pelaku UMKM pembuat layangan.
Keseruan bermain layang-layang semakin terasa saat memasuki sesi sambitan, yakni adu layangan menggunakan benang khusus untuk memutus benang lawan. Permainan ini membutuhkan strategi, ketangkasan, serta kecepatan dalam mengendalikan layangan agar mampu menjatuhkan lawan di udara.
Momen yang paling ditunggu justru ketika ada layangan yang putus. Bagi para pemburu layangan putus, terutama anak-anak, peristiwa tersebut menjadi hiburan tersendiri. Mereka berlarian mengejar layangan yang melayang turun, menciptakan suasana meriah yang penuh tawa.
Salah seorang pegiat layang-layang sambitan asal Malang, Saipul Doble Koclok atau yang akrab disapa Cak Ipul, mengaku kecintaannya terhadap permainan ini telah tumbuh sejak kecil. Ia kembali aktif menekuni hobi tersebut ketika tren layang-layang kembali meningkat pada era 2000-an.
“Awalnya cuma nostalgia. Ternyata seru sekali sampai ketagihan. Apalagi saat liburan sekolah atau akhir pekan, lapangan selalu ramai,” ujar Cak Ipul sambil tersenyum, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 50 komunitas layang-layang yang tersebar di berbagai wilayah Malang Raya. Komunitas tersebut menjadi wadah silaturahmi, berbagi pengalaman, hingga belajar bersama membuat dan mengembangkan berbagai jenis layangan.
Selain menjadi hiburan, bermain layang-layang juga memiliki banyak manfaat. Aktivitas ini mampu mempererat hubungan keluarga lintas generasi, mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget, melatih koordinasi tubuh, motorik, konsentrasi, serta mendorong anak lebih aktif beraktivitas di luar ruangan.
Tak hanya itu, bermain di ruang terbuka juga membantu tubuh mendapatkan paparan sinar matahari sebagai sumber vitamin D dan menjaga kesehatan mata karena terbiasa melihat objek dalam jarak jauh.
“Silaturahmi itu penting. Dari bermain layang-layang kita bisa saling bertukar pendapat dan menjalin persaudaraan,” kata Cak Ipul.
Prestasi pegiat layang-layang Malang pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Berbagai kompetisi rutin telah digelar, mulai tingkat daerah hingga nasional, bahkan beberapa di antaranya diikuti peserta dari luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa layang-layang bukan lagi sekadar permainan tradisional, tetapi telah berkembang menjadi olahraga rekreasi sekaligus bagian dari budaya yang memiliki daya tarik internasional.
Cak Ipul berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang tertarik melestarikan permainan ini. Menurutnya, selain menjadi sarana edukasi dan hiburan, berkembangnya komunitas layang-layang juga berdampak positif terhadap pelaku UMKM yang memproduksi layangan dan berbagai perlengkapannya.
“Harapan kami permainan ini terus lestari. Selain memberi edukasi kepada anak-anak, juga mampu memajukan UMKM para pengrajin layang-layang di Malang,” pungkasnya.
Lebih dari sekadar benang dan kertas yang melayang di angkasa, layang-layang telah menjadi simbol kebersamaan, jembatan lintas generasi, pelepas penat, sekaligus penggerak ekonomi kreatif masyarakat. Di tengah derasnya arus digital, permainan tradisional ini membuktikan bahwa kebahagiaan sederhana masih mampu menyatukan banyak orang.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































