Musim Layang-Layang di Malang Raya: Kurangi Ketergantungan Gadget, Satukan Generasi, dan Dongkrak UMKM Lokal - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 15 Jul 2026 16:29 WIB ·

Musim Layang-Layang di Malang Raya: Kurangi Ketergantungan Gadget, Satukan Generasi, dan Dongkrak UMKM Lokal


 Saipul Dobel Koclok alias Cak Ipul (berkaus hitam) bersama para pemenang lomba layang-layang yang digelar beberapa waktu lalu. (ist) Perbesar

Saipul Dobel Koclok alias Cak Ipul (berkaus hitam) bersama para pemenang lomba layang-layang yang digelar beberapa waktu lalu. (ist)

BACAMALANG.COM – Musim kemarau selalu membawa cerita tersendiri bagi masyarakat Malang Raya. Salah satunya adalah maraknya permainan layang-layang yang kembali menjadi hiburan favorit lintas generasi. Tidak hanya dimainkan anak-anak, lapangan-lapangan di berbagai sudut Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga Kota Batu setiap sore dipenuhi remaja, orang dewasa, bahkan orang tua yang menikmati keseruan menerbangkan layangan.

Fenomena ini bukan sekadar nostalgia masa kecil. Layang-layang kini berkembang menjadi hiburan sederhana yang mampu menyatukan keluarga, mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui para pelaku UMKM pembuat layangan.

Keseruan bermain layang-layang semakin terasa saat memasuki sesi sambitan, yakni adu layangan menggunakan benang khusus untuk memutus benang lawan. Permainan ini membutuhkan strategi, ketangkasan, serta kecepatan dalam mengendalikan layangan agar mampu menjatuhkan lawan di udara.

Momen yang paling ditunggu justru ketika ada layangan yang putus. Bagi para pemburu layangan putus, terutama anak-anak, peristiwa tersebut menjadi hiburan tersendiri. Mereka berlarian mengejar layangan yang melayang turun, menciptakan suasana meriah yang penuh tawa.

Salah seorang pegiat layang-layang sambitan asal Malang, Saipul Doble Koclok atau yang akrab disapa Cak Ipul, mengaku kecintaannya terhadap permainan ini telah tumbuh sejak kecil. Ia kembali aktif menekuni hobi tersebut ketika tren layang-layang kembali meningkat pada era 2000-an.

“Awalnya cuma nostalgia. Ternyata seru sekali sampai ketagihan. Apalagi saat liburan sekolah atau akhir pekan, lapangan selalu ramai,” ujar Cak Ipul sambil tersenyum, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 50 komunitas layang-layang yang tersebar di berbagai wilayah Malang Raya. Komunitas tersebut menjadi wadah silaturahmi, berbagi pengalaman, hingga belajar bersama membuat dan mengembangkan berbagai jenis layangan.

Selain menjadi hiburan, bermain layang-layang juga memiliki banyak manfaat. Aktivitas ini mampu mempererat hubungan keluarga lintas generasi, mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget, melatih koordinasi tubuh, motorik, konsentrasi, serta mendorong anak lebih aktif beraktivitas di luar ruangan.

Tak hanya itu, bermain di ruang terbuka juga membantu tubuh mendapatkan paparan sinar matahari sebagai sumber vitamin D dan menjaga kesehatan mata karena terbiasa melihat objek dalam jarak jauh.

“Silaturahmi itu penting. Dari bermain layang-layang kita bisa saling bertukar pendapat dan menjalin persaudaraan,” kata Cak Ipul.

Prestasi pegiat layang-layang Malang pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Berbagai kompetisi rutin telah digelar, mulai tingkat daerah hingga nasional, bahkan beberapa di antaranya diikuti peserta dari luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa layang-layang bukan lagi sekadar permainan tradisional, tetapi telah berkembang menjadi olahraga rekreasi sekaligus bagian dari budaya yang memiliki daya tarik internasional.

Cak Ipul berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang tertarik melestarikan permainan ini. Menurutnya, selain menjadi sarana edukasi dan hiburan, berkembangnya komunitas layang-layang juga berdampak positif terhadap pelaku UMKM yang memproduksi layangan dan berbagai perlengkapannya.

“Harapan kami permainan ini terus lestari. Selain memberi edukasi kepada anak-anak, juga mampu memajukan UMKM para pengrajin layang-layang di Malang,” pungkasnya.

Lebih dari sekadar benang dan kertas yang melayang di angkasa, layang-layang telah menjadi simbol kebersamaan, jembatan lintas generasi, pelepas penat, sekaligus penggerak ekonomi kreatif masyarakat. Di tengah derasnya arus digital, permainan tradisional ini membuktikan bahwa kebahagiaan sederhana masih mampu menyatukan banyak orang.

Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

14 Hari Persiapan Tanpa Anggaran, LABUMI Sukses Gelar Suran 9 Desa Bumiaji, Target Jadi Agenda Tahunan

15 Juli 2026 - 14:19 WIB

Napak Tilas Sang Pembabat Alas Desa Mangunrejo Kepanjen, Mbah Sumo Saimin

14 Juli 2026 - 07:13 WIB

Arca Tatasawara Hipnotis Delegasi Internasional di Festival Seni Lintas Budaya 2026

13 Juli 2026 - 23:19 WIB

“Mother Earth” Karya Migi Rihasalay Memukau Malang Fashion Runway 2026, Gaungkan Pesan Selamatkan Bumi

13 Juli 2026 - 18:31 WIB

Abdul Manan Resmi Nahkodai BOSS Kota Batu, Siap Lanjutkan Kiprah Seni dan Sosial dengan Dukungan Pemkot

12 Juli 2026 - 20:30 WIB

Kinikita Kids Wear Luncurkan Koleksi Terbaru di Malang Fashion Runway, Usung Tren Busana Anak Nyaman dan Stylish

11 Juli 2026 - 21:48 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !