BACAMALANG.COM – Peran santri kini tidak lagi terbatas di balik pagar pondok pesantren. Di tengah perubahan teknologi dan ekonomi, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membantu pesantren menyiapkan generasi santri sebagai penggerak perubahan menuju Indonesia Emas 2045.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Santri Next: Gerbang Baru Nusantara, Dari Pesantren Menjadi Game Changer Transformasi Jawa Timur yang digelar di Surabaya, Sabtu (10/10/2026).
Dalam forum tersebut, Pengurus Cabang Khusus (PCK) ISNU Universitas Brawijaya hadir dengan jajaran pengurus harian. Hadir di acara ini, Wakil Ketua PCK ISNU UB Yusli Effendi, Ketua PCK ISNU UB Dr. Nurul Badriyah yang juga Wakil Dekan 1 FEB UB, serta Bendahara PCK ISNU UB Laili Masruro, Pimada yang juga dosen FEB UB.
Yusli menilai jaringan santri telah meluas sebagai mahasiswa, dosen, peneliti, dan profesional di perguruan tinggi umum, termasuk di Universitas Brawijaya. Potensi intelektual tersebut perlu dihubungkan dengan kebutuhan pengembangan pesantren dan agenda pembangunan daerah.
“ISNU UB mendorong santri di kampus untuk mengawal transformasi pesantren, tidak hanya sebagai pengamat tetapi terlibat langsung melalui riset, pengembangan kapasitas, dan rekomendasi kebijakan berbasis bukti,” ujar Yusli.
Menurutnya, kolaborasi antara pesantren, kampus, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci agar transformasi pendidikan pesantren berpijak pada kebutuhan nyata, namun tetap menjaga tradisi dan kekuatan sosial yang menjadi identitas pesantren.
FGD yang diselenggarakan Pengurus Wilayah ISNU Jawa Timur ini merupakan inisiatif strategis dalam mendukung Indonesia Emas 2045. Forum ini melibatkan pengurus cabang ISNU dari berbagai daerah dan pengurus cabang khusus di lingkungan perguruan tinggi untuk merumuskan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Pelaksana Harian Ketua PWNU Jawa Timur KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman menekankan pentingnya membentuk santri yang memiliki kekuatan spiritual dan intelektual sekaligus mampu memberi dampak sosial.
Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI Basnang Said menjelaskan negara telah memberikan pengakuan terhadap pesantren sebagai lembaga sekaligus sistem pendidikan, yang menjadi pijakan penguatan peran pesantren dalam pembangunan nasional.
Sementara Kepala BPKAD Jawa Timur Mohammad Yasin memaparkan posisi strategis Jawa Timur sebagai gerbang baru pertumbuhan Nusantara, yang membuka peluang bagi santri melalui pengembangan santripreneur, pesantrenpreneur, dan sociopreneurship.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga


























































