BACAMALANG.COM — Rigen, Rispo, dan Hifdzi adalah tiga sahabat sejak kecil, yang bercita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran (damkar). Setelah berhasil lolos tes, mereka terlibat dalam pelatihan bersama regu legendaris Algojo Api, yang harus diakhiri dengan kegagalan. Ketiganya justru terlempar dan terjebak di divisi pelayanan non-kebakaran yang mengurus kejadian-kejadian dianggap ‘receh’, seperti melepaskan kepala warga dari jeruji pagar hingga mengambil rapor anak sekolah. Namun di tengah tugas sepele tersebut, mereka malah terseret dalam misi berbahaya menyelamatkan anak-anak dari sindikat kriminal.
Itulah sinopis film komedi aksi GJLS Berapi-Api besutan sutradara Monty Tiwa. BacaMalang.com berkesempatan menghadiri sesi special screening di Mopic Cinemas Malang, Minggu (25/10/2026), yang dihadiri Rigen Rakelna dan Carissa Perusset dan co-producer, Fiqi Wandiya Septa Pratama.
GJLS adalah grup komedi yang beranggotakan tiga komika, yakni Rigen Rakelna (Muhammad Rizki Rakelna), Hifdzi Khoir (M. Hifdzi Khoir) dan Ananta Rispo (Rizki Ananta Putra). Selain itu, film ini didukung Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Inayma, Ebel Cobra, Grace Emmanuela, Yono Bakrie, Nigel Siwabessy, Rio Dumatubun, Sadha Triyudha, dan Khairul Umam.
“Pengalaman kami dalam pembuatan film ini benar-benar intens. Kami terjun langsung bersama tim Damkar dan mengikuti sesi workshop selama tiga hari yang mencakup teori hingga praktik langsung,” ungkap Rigen saat ditemui usai sesi special screening yang dilanjutkan dengan Meet & Greet.
Juara ajang Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim kelima pada tahun 2015 ini menambahkan, Latihan yang mereka ikuti bervariasi, mulai dari menangani kebakaran kecil akibat gas bocor hingga memadamkan kolam yang disiram bensin. Bahkan semua perlengkapan seperti fire jacket dan tabung oksigen juga mereka coba langsung, sehingga prosesnya terasa sangat seru.
Rigen jugha menyatakan apresiasinya terhadap perjuangan para petugas Damkar dan relawan dalam pemadaman kaebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun pembuatan film ini dilakukan jauh sebelum maraknya kejadian karhutla,

Rigen Rakelna, Carissa Perusset dan co-producer, Fiqi Wandiya Septa Pratama (deret tengah, depan), saat special screening di Studio 1 Mopic Cinemas Malang, Minggu (25/10/2026). (Nedi Putra AW)
“Profesi Damkar itu unik, di satu sisi mereka sering dihadapkan pada situasi yang heroik saat memadamkan api besar, namun di sisi lain ada aksi-aksi penyelamatan kecil yang berkesan komedik. Melalui film ini, diharapkan para petugas Damkar yang menonton dapat terhibur dan merasa terwakili atas perjuangan mereka,” tegas Rigen.
Ia mengaku, bahwa pengalaman paling seru dan berkesan selama proses syuting adalah saat melakoni adegan kebakaran gedung.
“Adegan tersebut terasa sangat menegangkan sekaligus menantang karena gedungnya memang beneran dibakar, lalu pemain harus berjalan menerobos lokasi dengan memakai fire jacket yang terasa sangat panas dan gerah,” tandasnya.
Sementara Carissa Perusset berharap melalui film ini, penonton bisa menikmati momen kebersamaan.
“Selain memberikan hiburan dan tawa, film ini diharapkan dapat menginspirasi penonton untuk terus mengejar mimpi, sekaligus meningkatkan kesadaran serta apresiasi masyarakat terhadap perjuangan para petugas pemadam kebakaran atau damkar,” ucap artis pemeran dan sutradara keturunan Swiss yang mengawali debut di film Antologi Rasa ini.
Sedangkan co-producer, Fiqi Wandiya Septa Pratama menyampaikan, film GJLS Berapi-api ini dirancang dengan pendekatan yang berbeda dari film GJLS yang pertama (GJLS Ibu-Ibu).
“Jika film sebelumnya memiliki segmentasi komedi yang lebih khusus untuk para penggemar (GJLS-er), di film kedua ini komedi yang disajikan dibuat lebih inklusif agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas, baik dari kalangan Gen Z, milenial, hingga menjadi hiburan yang cocok untuk keluarga, tentunya dengan rating usia 13+,” paparnya.
Meski demikian, imbuhnya, film ini bukan merupakan sekuel atau lanjutan cerita dari yang pertama. Setiap film GJLS mengusung cerita dan struktur yang berdiri sendiri. Seperti pada film pertama, para pemeran utama seperti Rigen, Hifdzi, dan Rispo berperan sebagai kakak-beradik, sedangkan di GJLS Berapi-api ini mereka berperan sebagai sahabat.
“Alasan utama pengangkatan tema pemadam kebakaran adalah sebagai bentuk apresiasi terhadap profesi mereka yang sangat luar biasa. Petugas Damkar sering kali menangani berbagai situasi unik yang tidak diambil oleh instansi lain—bahkan hingga hal-hal di luar dugaan seperti menangani kejadian kesurupan. Keunikan dan keserbagunaan tugas mereka inilah yang menjadi sumber komedi positif dan membangun untuk diangkat ke dalam layar lebar,” pungkasnya.

Fiqi Wandiya Septa Pratama, Carissa Perusset dan Rigen Rakelna (bawah), saat Meet & Greet di Mopic Cinemas Malang, Minggu (25/10/2026). (Nedi Putra AW)
Antusiasme warga Malang terhadap film ini ternyata sangat tinggi. Dalam rangkaian tur “Pemadaman Duluan” , film ini berhasil terjual habis (sold out), hingga harus membuka sesi pemutaran tambahan untuk mengakomodasi tingginya minat penonton.
Pada pagi harinya, wahana bus GJLS Berapi-Api lebih dulu menyambangi kawasan Car Free Day (CFD) Malang di Bundaran Simpang Balapan, menghadirkan pengalaman menjadi petugas pemadam kebakaran ala GJLS bagi warga yang sedang menikmati akhir pekan. Melalui wahana ini, masyarakat bisa merasakan langsung keseruan menjadi bagian dari dunia GJLS Berapi-Api sebelum menyaksikan filmnya di bioskop.
Sinema visit di Malang ini menjadi bagian dari rangkaian roadshow “Pemadaman Duluan” yang membawa GJLS Berapi-Api lebih dekat dengan penonton di berbagai kota Indonesia menjelang penayangan regulernya di seluruh bioskop Indonesia mulai 5 November 2026.
Pantau jadwal kota singgah berikutnya dan informasi tiket khusus melalui akun media sosial resmi @sinemagna, @gjlsberapiapi, dan @gjlsentertainment.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW


























































